Bayangkan Anda ingin sebuah aplikasi yang benar-benar sesuai kebutuhan Anda — bukan aplikasi massal yang penuh fitur tak terpakai. Kini, dengan bermodalkan langganan sekitar $20 per bulan (sekitar Rp 325.000) dan sebuah ide kasar, siapa pun bisa membangun aplikasi tersebut sendiri tanpa harus menguasai pemrograman. Fenomena ini disebut "vibe coding", dan The Verge baru-baru ini menerbitkan laporan mendalam tentang revolusi perangkat lunak personal yang sedang berlangsung.
Apa Itu Vibe Coding dan Mengapa Sekarang?
Istilah "vibe coding" dipopulerkan oleh Andrej Karpathy, salah satu pendiri OpenAI. Konsepnya sederhana: alih-alih menulis kode baris demi baris, pengguna cukup mendeskripsikan apa yang mereka inginkan dalam bahasa sehari-hari, lalu membiarkan AI membangun perangkat lunaknya.
Titik balik terjadi pada paruh kedua 2025, ketika Anthropic memperbarui model Claude mereka secara signifikan. Alat bernama Claude Code bertransformasi dari sekadar "mengejutkan kalau berhasil" menjadi "mengejutkan kalau gagal". Artinya, tingkat keberhasilan pembuatan kode fungsional sudah cukup tinggi untuk diandalkan oleh pengguna non-teknis.
Perlu dicatat, Claude Code bukan satu-satunya pemain di ruang ini. The Verge juga menyebut OpenAI Codex, GitHub Copilot, Cursor, Lovable, dan Replit sebagai alat-alat yang turut mendorong gelombang ini. Namun dalam laporan tersebut, Claude Code mendapat sorotan paling besar.
Contoh Nyata: Dari Pelacak Migrain hingga Peta Kotoran Anjing
Salah satu bagian paling menarik dari laporan The Verge adalah deretan contoh aplikasi yang dibuat oleh individu biasa — bukan pengembang profesional:
- Brendan membuat aplikasi CLI untuk meranking pemain fantasy baseball miliknya sendiri
- Nathan menulis skrip untuk memasukkan konsep energi terbarukan ke dalam game lawas Transport Tycoon Deluxe (1994)
- Anthony membuat alat pengoptimal kombinasi Secret Santa
- Tucker membuat aplikasi untuk mencatat lokasi kotoran anjing di halaman belakang rumahnya
- Allan membangun pelacak migrain pribadi
- Brett membuat aplikasi untuk mencatat di mana kurir menaruh paket di antara 102 anak tangga rumahnya
The Verge merangkumnya dengan tepat: "target pasarnya satu orang, potensi pendapatannya nol dolar." Inilah inti dari perangkat lunak personal — bukan untuk dijual, melainkan untuk dipakai sendiri.
Robin Sloan, penulis sekaligus teknolog yang menulis esai berpengaruh "An app can be a home-cooked meal" pada 2020, menggambarkan filosofi ini dengan baik. Ia pernah membangun aplikasi pesan untuk keluarganya sendiri, dengan alasan: "Tidak ada redesain mendadak, tidak ada iklan, tidak ada pivot mengejar segmen pengguna yang tidak kami mengerti."
Sloan sendiri kini menggunakan Claude Code untuk membuat skrip Ruby yang menghubungkan data Shopify dan USPS guna mencetak label pengiriman otomatis untuk bisnis minyak zaitunnya. Ia juga jujur soal risikonya: "Kalau saya tertabrak bus, tidak ada yang bisa menjalankan skrip ini — itu masalah bagi perusahaan."
Angka-Angka yang Membuktikan Tren Ini Nyata
Tren vibe coding bukan sekadar hype — datanya mulai terlihat. Menurut laporan The Information yang dikutip The Verge, jumlah aplikasi baru di Apple App Store meningkat 30% pada 2025, membalikkan tren penurunan bertahap yang berlangsung hampir satu dekade. Per akhir 2024, App Store memiliki sekitar 2 juta aplikasi, dan ada kemungkinan angka ini berlipat ganda sebelum akhir 2026.
GitHub pun mencatat pertumbuhan tercepat sepanjang sejarahnya di 2025. Yang mencolok: 80% pengguna baru GitHub langsung menggunakan Copilot coding agent dalam minggu pertama pendaftaran mereka.
Boris Cherny, pengembang Claude Code di Anthropic, mengungkapkan kepada The Verge bahwa ia mulai yakin alat ini bukan hanya untuk engineer ketika melihat tim sales internal perusahaannya mulai menggunakannya secara aktif.
Bagi pengguna di Indonesia, ini relevan karena layanan seperti Claude Code dan GitHub Copilot dapat diakses secara global. Dengan biaya langganan Claude Pro sekitar $20 per bulan (sekitar Rp 325.000), ini sudah dalam jangkauan bagi banyak profesional dan pelajar di kota-kota besar.
Keterbatasan yang Perlu Dipahami
Vibe coding bukan solusi untuk segalanya. The Verge dengan tegas menyatakan bahwa gagasan menggantikan sistem bisnis perusahaan besar dengan aplikasi buatan tim marketing yang "vibe coding" adalah "hampir fiksi belaka".
Beberapa keterbatasan nyata yang perlu diperhatikan:
| Aspek | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| Dukungan teknis | Tidak ada, pengguna bertanggung jawab penuh |
| Keamanan | Tidak ada jaminan keamanan atau pengujian menyeluruh |
| Penggunaan bisnis skala besar | Tidak disarankan |
| Desain antarmuka | AI masih lemah dalam merancang UI yang baik |
Desainer Brian Lovin, yang mengerjakan produk AI di Notion, menyebut bahwa sebagian besar coding agent masih buruk dalam menulis antarmuka yang baik. Ia mencatat kebiasaan Claude Code menggunakan latar belakang gradien ungu dan ikon bergaya hamburger menu secara berlebihan.
David Pierce dari The Verge sendiri berbagi pengalaman lucu: ketika meminta Claude Code membuat ikon untuk aplikasinya bernama "Timetable", hasil yang keluar berupa gambar PNG yang — menurut Pierce — "terlihat seperti lubang anus." Revisi berikutnya pun hanya menghasilkan tiga garis horizontal biasa.
Maggie Appleton dari GitHub Next menyebut komunitas pengguna baru ini sebagai "barefoot developers" (pengembang tanpa alas kaki) — orang-orang yang mempelajari keterampilan yang dibutuhkan komunitas mereka. Ia menekankan perlunya fondasi open-source berkualitas tinggi yang bisa dikombinasikan secara modular.
Sementara itu, CEO Notion Ivan Zhao menjelaskan pendekatan platformnya: "Notion menyediakan blok-blok dasar, sehingga AI hanya perlu menulis makro — tidak perlu membangun perangkat lunak dari nol."
"Taste" Adalah Keterampilan Terpenting di Era Ini
Pierce menutup laporannya dengan kesimpulan yang menarik: di era vibe coding, keterampilan teknis bukan lagi hambatan utama. Yang paling penting adalah "taste" — selera atau kepekaan estetika.
Ia mengutip produser musik Rick Rubin yang pernah berkata di acara 60 Minutes: kemampuan terpenting adalah "kepercayaan pada selera Anda sendiri, dan kemampuan untuk mengekspresikan apa yang Anda rasakan."
Bagi pembaca di Indonesia yang ingin mencoba, titik masuk paling praktis saat ini adalah berlangganan Claude Pro ($20/bulan, sekitar Rp 325.000) atau GitHub Copilot, lalu mulai dengan proyek kecil dan personal — bukan aplikasi bisnis yang kritis. Informasi ketersediaan resmi layanan-layanan ini di pasar Indonesia dapat diperiksa langsung di situs masing-masing penyedia.
Sumber
- The Verge — You can make an app for that
