Di tengah persiapan menuju penawaran saham perdana (IPO), Anthropic justru mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan industri: menyerukan perlambatan atau jeda global dalam pengembangan kecerdasan buatan. Perusahaan pembuat chatbot Claude itu memperingatkan bahwa era di mana AI mampu merancang generasi penerusnya sendiri "bisa datang lebih cepat dari yang siap dihadapi banyak institusi." Pernyataan ini dilaporkan oleh Engadget pada 5 Juni 2026.
Mencegah Skenario "Skynet": Alasan di Balik Usulan Anthropic
Melalui blog resminya, Anthropic menjelaskan bahwa teknologi AI sedang bergerak menuju tahap ketika sistem dapat meningkatkan kemampuannya sendiri dan menciptakan penerus yang lebih cerdas. Perusahaan menegaskan tahap itu belum tercapai, tetapi waktunya bisa tiba lebih cepat dari perkiraan.
AI yang mampu memperbaiki dirinya sendiri memang menjanjikan terobosan besar di bidang sains dan kesehatan. Namun di sisi lain, Anthropic menilai teknologi semacam ini "dapat meningkatkan risiko hilangnya kendali manusia atas sistem AI." Untuk mencegah skenario seperti "Skynet" dalam film Terminator, perusahaan mendorong agar riset alignment (penyelarasan nilai AI dengan manusia) dan struktur sosial bisa mengejar laju inovasi. Solusinya, menurut Anthropic, adalah perlambatan terkoordinasi di tingkat global.
Kritik: Strategi Pemasaran Jelang IPO?
Tidak semua pihak menerima seruan ini dengan tangan terbuka. Engadget mengutip laporan Wall Street Journal yang menyebut bahwa para kritikus melihat sikap Anthropic sebagai strategi pemasaran — sebuah cara untuk memposisikan diri sebagai perusahaan AI yang "paling bertanggung jawab" sekaligus menyiratkan produknya lebih unggul dibanding pesaing.
Salah satu bukti yang sering dirujuk adalah peluncuran terbatas model keamanan siber bernama Mythos. Anthropic mengklaim Mythos hanya tersedia untuk segelintir mitra demi mencegah penyalahgunaan kemampuannya dalam mendeteksi celah keamanan. Namun sebagian pengamat menduga kebijakan eksklusif ini sekadar taktik marketing atau strategi untuk menjual produk khusus ke pelanggan korporat besar.
Perlu dicatat, Anthropic kini menjadi salah satu pemain utama di industri AI. Berbeda dengan banyak kompetitor yang belum menghasilkan untung, perusahaan ini dilaporkan sedang menuju kuartal pertama yang profitabel. Anthropic juga disebut sudah mengajukan dokumen ke SEC (regulator pasar modal AS) untuk IPO pada 2026. Momentum finansial inilah yang membuat seruan perlambatan terdengar paradoks di telinga sebagian pengamat.
Anthropic Institute: Lembaga di Balik Proposal Ini
Usulan tersebut bersumber dari riset Anthropic Institute, divisi penelitian yang didirikan perusahaan pada Maret 2026. Lembaga ini bertugas membagikan temuan-temuan yang muncul saat Anthropic mengembangkan sistem AI yang lebih canggih kepada publik global.
Bersama mitra-mitranya, Anthropic Institute juga merancang infrastruktur teknis yang diperlukan agar "perlambatan atau jeda yang kredibel" dapat benar-benar diverifikasi. Tanpa mekanisme verifikasi, perjanjian apa pun berisiko dilanggar diam-diam oleh pihak yang ingin mencuri start.
Belajar dari Traktat Senjata Nuklir
Sebagai gambaran skala kesepakatan yang diusulkan, Anthropic mencontohkan traktat senjata nuklir. Perusahaan mengakui hal itu bukan mustahil, namun butuh konsensus dari banyak negara dan perusahaan AI sekaligus.
Syarat yang disebut Anthropic cukup ketat: "perlambatan yang bermakna membutuhkan beberapa laboratorium berdaya saing tinggi di beberapa negara untuk menyetujui penghentian dengan syarat yang sama," dan "setiap perusahaan harus mampu memverifikasi status penghentian perusahaan lainnya." Masalahnya, perundingan traktat nuklir butuh puluhan tahun, sementara laju inovasi AI tidak memberi kemewahan waktu yang sama.
Anthropic mengatakan akan melanjutkan diskusi dengan pembuat kebijakan, peneliti, dan perusahaan AI lain dalam beberapa bulan ke depan, lalu mempublikasikan hasilnya.
Implikasi bagi Pengguna di Indonesia
Bagi pengguna Claude dan layanan AI lain di Indonesia, dampak langsung dari proposal ini kemungkinan masih terbatas dalam waktu dekat. Selama belum ada kesepakatan internasional yang mengikat, perusahaan-perusahaan seperti Anthropic, OpenAI, dan Google diperkirakan tetap merilis model generasi berikutnya sesuai jadwal. Namun bila usulan ini benar-benar berkembang menjadi regulasi global, pengembang aplikasi lokal — termasuk startup AI di Jakarta dan Bandung — perlu bersiap menghadapi siklus update model yang lebih lambat serta kemungkinan persyaratan kepatuhan baru di masa depan. Untuk saat ini, perkembangan negosiasi antar-laboratorium besar layak terus dipantau.
