Google resmi memperkenalkan Googlebook, platform laptop baru berbasis Android yang menggabungkan ChromeOS, dalam acara "The Android Show". Namun alih-alih disambut antusias, platform ini justru menuai kritik tajam dari media teknologi terkemuka 9to5Google — yang menilai Google belum mampu menunjukkan alasan kuat mengapa Googlebook perlu ada.

Apa Itu Googlebook dan Apa yang Ditawarkan?

Googlebook adalah platform laptop yang dibangun di atas integrasi Android dan ChromeOS, dengan Gemini sebagai inti pengalaman pengguna. Fitur unggulan yang ditonjolkan adalah Magic Pointer — sebuah fungsi kursor baru yang memungkinkan pengguna memanggil Gemini hanya dengan gerakan mengayunkan kursor (wiggle gesture), lalu berinteraksi dengan konten yang sedang ditampilkan di layar.

Secara konsep, ide meneruskan konteks layar ke Gemini secara cepat memang menarik. Namun masalahnya, Magic Pointer direncanakan hadir pula di browser Chrome — artinya fitur ini bukan eksklusif Googlebook. Selain Magic Pointer, fitur-fitur lain yang dipamerkan meliputi:

  • "Create your Widget" — tersedia juga di smartphone Android
  • Mirroring aplikasi dari smartphone
  • Quick Access ke file di smartphone Android — fitur serupa sudah ada di ChromeOS sejak beberapa tahun lalu
  • Glow Bar — elemen hardware ikonik yang menjadi pembeda visual
  • Klaim "premium hardware"

9to5Google menyimpulkan bahwa Googlebook pada dasarnya hanyalah "pengalaman Android yang diperbesar, ditambah fitur andalan yang pada akhirnya juga datang ke Chrome."

Mengapa Ini Belum Cukup Meyakinkan?

Kritik 9to5Google bukan sekadar soal fitur, melainkan menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa seseorang di 2026 masih perlu membeli laptop?

Argumennya cukup kuat. Smartphone kini sudah sangat mumpuni — bagi generasi muda, smartphone adalah perangkat serbabisa. Laptop bertahan karena dua alasan utama: pekerjaan berat seperti pengeditan video dan foto, serta tugas yang membutuhkan efisiensi seperti mengetik panjang. Untuk kebutuhan ringan seperti mencatat, Googlebook mungkin cukup. Namun tanpa dukungan aplikasi desktop kelas berat seperti suite Adobe, Googlebook sulit menarik segmen pembeli laptop yang sesungguhnya.

Perlu dicatat pula bahwa AI pada dasarnya tidak terikat perangkat tertentu. Demonstrasi "AI bisa menyusun gambar dengan cepat" tidak serta-merta menjadi alasan untuk membeli laptop baru — karena hal serupa bisa dilakukan di perangkat lain.

Satu poin menarik yang diangkat 9to5Google: ChromeOS, meski reputasinya tidak gemilang, sebenarnya adalah OS yang cukup tangguh berkat dukungan aplikasi Android dan Linux. Meninggalkan ChromeOS demi "Android saja" justru terasa seperti kemunduran, bukan kemajuan.

Persaingan Tidak Seimbang dengan MacBook Neo

Konteks pasar membuat situasi Googlebook semakin berat. IDC memproyeksikan pengiriman PC global turun 11,3% pada 2026, sementara Apple justru sedang dalam momentum positif dengan MacBook Neo.

AspekMacBook NeoGooglebook
Tanggal Rilis11 Maret 2026Belum ditentukan
Harga Mulai$599 (sekitar Rp 9.730.000) / edukasi $499 (sekitar Rp 8.110.000)Diperkirakan jauh di atas kisaran Chromebook $200–$500
ChipApple A18 ProBelum diumumkan

Permintaan MacBook Neo pun meledak: Apple dilaporkan merencanakan produksi sekitar 10 juta unit — hampir dua kali lipat pesanan awal — dan memesan produksi chip A18 Pro tambahan dari TSMC. Tim Cook menyebut peluncuran ini sebagai "minggu penjualan terbaik sepanjang sejarah Mac bagi pembeli pertama kali," sampai-sampai pembelian dibatasi dua unit per orang.

Di sisi lain, Googlebook belum memiliki tanggal rilis yang pasti, belum mengumumkan chip yang digunakan, dan harganya diperkirakan akan berada jauh di atas segmen Chromebook yang selama ini menjadi kekuatan Google di pasar laptop terjangkau.

Jadwal yang Ambisius, Kematangan yang Dipertanyakan

Rencana integrasi Android dan ChromeOS ini sebenarnya bukan hal baru. Sameer Samat dari divisi Android Google sudah mengumumkan arah ini secara resmi di Qualcomm Summit September 2025, dengan janji bahwa hasilnya akan terlihat pada 2026.

Bocoran dari Chromium Issue Tracker pada Januari 2026 sempat memperlihatkan OS terintegrasi berjalan di laptop HP Elite Dragonfly 13,5 inci, dengan UI bergaya desktop dan dukungan penuh ekstensi Chrome. Mitra hardware yang sudah dikonfirmasi mencakup Acer, Asus, Dell, HP, dan Lenovo.

Namun dokumen dari gugatan antimonopoli Epic mengisyaratkan bahwa rilis penuh bisa mendekati 2028 — jauh dari kesan "siap diluncurkan" yang ingin dibangun Google saat ini. 9to5Google menegaskan bahwa "belum siap" bukanlah alasan yang memadai, terutama di saat Windows sedang berada di titik kepercayaan publik terendah dan Apple sedang agresif merebut narasi pasar laptop.

Apa Artinya bagi Konsumen di Indonesia?

Bagi konsumen di Indonesia, Googlebook untuk saat ini masih jauh dari relevansi praktis. Informasi rilis untuk pasar Indonesia belum diumumkan, dan mengingat ketidakpastian jadwal globalnya pun masih besar, keputusan pembelian laptop di 2026 sebaiknya tidak menunggu platform ini.

Segmen laptop Android yang terjangkau memang memiliki potensi di Indonesia — mengingat penetrasi Android yang sangat tinggi dan ekosistem aplikasi yang sudah familiar. Namun selama Googlebook belum mampu menjawab pertanyaan mendasar soal keunikan dan nilai tambahnya dibanding Chromebook biasa maupun laptop Windows, platform ini belum layak masuk daftar pertimbangan serius.

Sumber