Google akhirnya bersiap meluncurkan generasi baru perangkat smart home-nya pada 2026, termasuk Google Home Speaker baru seharga $99 (sekitar Rp 1.608.750) dan Nest Cam terbaru. Namun setelah bertahun-tahun tanpa pembaruan hardware berarti dan pengalaman Gemini yang mengecewakan bagi sebagian pengguna, pertanyaannya bukan sekadar soal spesifikasi — melainkan apakah Google masih layak dipercaya di segmen ini.
Empat Tahun Tanpa Speaker Baru: Seberapa Jauh Google Tertinggal?
Fakta yang sulit dibantah: produk smart speaker dan smart display terakhir Google adalah Nest Hub generasi kedua yang dirilis pada 2021. Sejak saat itu, tidak ada satu pun perangkat baru di kategori tersebut. Dalam rentang waktu yang sama, Amazon terus memperbarui lini Echo Show-nya, sementara Apple dikabarkan tengah menyiapkan smart display pertama mereka.
Menurut Android Authority, ekosistem Google Home memang mendapat suntikan berupa Google TV Streamer dan Nest Learning Thermostat pada 2024, serta pembaruan besar aplikasi Google Home pada 2023. Namun kekosongan di sisi hardware speaker dan display tetap menjadi titik lemah yang nyata. Bagi pengguna yang mengandalkan Nest Audio atau Nest Hub sebagai pusat kendali rumah pintar, pilihan untuk memperbarui perangkat secara resmi praktis tidak ada selama empat tahun terakhir.
Kondisi ini menempatkan Google pada posisi yang tidak menguntungkan, terutama di pasar Asia Tenggara di mana ekosistem smart home berbasis Amazon Alexa dan Apple HomeKit juga terus berkembang.
Gemini di Smart Speaker: Janji Besar, Pengalaman yang Belum Memuaskan
Rita El Khoury, editor Android Authority, mencoba Gemini Preview pada dua unit Nest Audio, satu Nest Hub generasi kedua, dan satu Pixel Tablet miliknya — lalu menulis bahwa ia ingin "meminta uang kembali." Ini bukan sekadar keluhan ringan. Ia merinci enam masalah konkret:
- Respons lambat dan tidak konsisten — kadang panjang, kadang singkat, kadang hanya bunyi bip
- Pertanyaan sederhana seperti cuaca atau kalender tidak lagi dijawab dengan struktur yang dapat diprediksi seperti era Google Assistant
- Speaker yang merespons sering kali bukan speaker yang dimaksud pengguna
- Gemini Live hanya mendukung satu bahasa, tanpa konteks personal dan dukungan multibahasa seperti di versi smartphone
- Tidak ada dukungan multi-akun, sehingga pengguna harus memilih antara akun pribadi atau akun kerja
- Peran asisten suara yang terasa terlalu dominan, bukan sekadar alat bantu yang bekerja di latar belakang
Perlu dicatat bahwa ini adalah pengalaman dari versi preview, bukan rilis final. Namun mengingat Google Home Speaker baru dijadwalkan hadir pada musim semi 2026, waktu untuk memperbaiki semua ini tidaklah banyak.
Spesifikasi dan Harga Google Home Speaker 2026
Berdasarkan informasi yang telah dikonfirmasi Google, berikut detail Google Home Speaker yang akan datang:
- Harga: $99 (sekitar Rp 1.608.750)
- Warna: Porcelain, Hazel, Berry, Jade (empat pilihan)
- Desain: Bodi dibalut kain rajut 3D di luar bagian dasar, dirancang untuk mengurangi limbah tekstil
- Cincin cahaya di bagian dasar menunjukkan status Gemini: mendengarkan, memproses, merespons, atau aktif di Gemini Live
- Audio: 360 derajat, dapat ditambahkan ke grup speaker di aplikasi Google Home
- Stereo pairing: Dua unit dapat dipasangkan dan dikombinasikan dengan Google TV Streamer untuk konfigurasi surround sound
- Ketersediaan: 19 negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Australia
- Bonus pembelian: Langganan Google Home Premium selama 6 bulan (senilai $78 atau sekitar Rp 1.267.500)
Untuk pasar Indonesia, informasi rilis resmi belum diumumkan. Namun mengingat Google TV Streamer dan beberapa produk Nest sebelumnya tidak masuk ke pasar Indonesia secara resmi, konsumen lokal kemungkinan perlu menunggu atau mempertimbangkan jalur pembelian dari luar negeri.
Google Home Premium: Berlangganan untuk Fitur Gemini Penuh
Google memperkenalkan struktur langganan dua tingkat untuk mengakses fitur Gemini secara penuh di ekosistem smart home:
| Paket | Harga Bulanan | Harga Tahunan | Fitur Utama |
|---|---|---|---|
| Standard | $10 (Rp 162.500) | $100 (Rp 1.625.000) | Gemini Live tanpa hotword, Ask Home, riwayat video 30 hari, notifikasi kamera cerdas |
| Advanced | $20 (Rp 325.000) | $200 (Rp 3.250.000) | Semua fitur Standard + deskripsi kejadian berbasis AI, Home Brief, riwayat video yang dapat dicari |
Pengguna Google AI Pro mendapatkan paket Standard tanpa biaya tambahan, dengan opsi upgrade ke Advanced seharga +$10 per bulan. Pengguna Google AI Ultra otomatis mendapatkan paket Advanced.
Akses awal ke Gemini for Home telah dibuka pada 28 Oktober 2025 untuk pengguna di Amerika Serikat yang memiliki speaker dan display yang kompatibel. Peluncuran ke seluruh pasar yang didukung ditargetkan pada awal 2026.
Nest Cam, Privasi, dan Pertanyaan soal Ketergantungan Cloud
Di sisi kamera, Google tampaknya memilih untuk fokus pada Nest Cam dan termostat, alih-alih memperluas lini Nest ke kategori lain seperti kunci pintu atau sistem keamanan yang pernah dicoba sebelumnya. Pendekatan yang lebih terfokus ini secara teori lebih berkelanjutan — namun model bisnis Nest Cam yang bergantung pada cloud dan langganan berbayar tetap menjadi titik kritik.
Rita El Khoury sendiri mengaku telah beralih ke kamera TP-Link Tapo yang menawarkan penutup fisik lensa dan penyimpanan lokal, sebagai respons atas kekhawatiran privasi terhadap model cloud-first Nest Cam.
Bagi pengguna di Indonesia yang mempertimbangkan kamera keamanan rumah, pilihan seperti TP-Link Tapo, Xiaomi Smart Camera, atau Imou — yang umumnya mendukung penyimpanan lokal via microSD — bisa menjadi alternatif yang lebih terjangkau dan tidak bergantung pada langganan bulanan.
Haruskah Anda Menunggu atau Beralih Sekarang?
Survei pembaca Android Authority (27 responden) menunjukkan gambaran yang menarik: 41% memilih "menunggu ulasan dulu," sementara 22% menyatakan "tidak akan tertipu lagi." Gabungan keduanya mencapai 63% — mayoritas yang bersikap hati-hati atau skeptis.
Angka ini mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi Google: kepercayaan pengguna tidak bisa dipulihkan hanya dengan hardware baru. Pengalaman Gemini yang belum konsisten, ketergantungan pada langganan, dan rekam jejak dukungan jangka panjang yang tidak meyakinkan — semua itu harus dijawab dengan bukti nyata, bukan sekadar janji peluncuran.
Bagi konsumen di Indonesia, rekomendasi praktisnya sederhana: tunggu ulasan independen dari unit retail sebelum memutuskan pembelian, terutama mengingat harga langganan Google Home Premium yang jika dikonversi cukup signifikan untuk ukuran pengeluaran bulanan. Jika kebutuhan utama Anda adalah speaker Bluetooth berkualitas atau kamera keamanan dasar, banyak alternatif lokal yang lebih terjangkau dan tidak memerlukan ekosistem berlangganan.
