Petinggi Google akhirnya mengakui secara terbuka mengapa Google Glass gagal di pasaran lebih dari satu dekade lalu: produk itu terlalu mengutamakan teknologi dan mengabaikan estetika. Pelajaran pahit itu kini mendorong Google merancang ulang strategi kacamata pintarnya dengan menggandeng merek-merek fashion ternama untuk Android XR.

Sameer Samat: "Fashion Dulu, Teknologi Belakangan"

Sameer Samat, kepala ekosistem Android di Google, menyampaikan evaluasi jujur soal kegagalan Google Glass dalam sesi wawancara media sehari setelah Google I/O 2026. Dikutip Android Authority, Samat menegaskan, "Kami belajar banyak. Pelajaran terpenting adalah: fashion dulu, teknologi belakangan."

Pernyataan ini bukan sekadar refleksi nostalgia. Samat menekankan bahwa "sensibilitas dan keindahan" merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan dalam produk teknologi konsumen. Ketika dua elemen itu absen, calon pembeli justru berbalik arah.

Perlu dicatat, Google Glass pertama kali diluncurkan pada 2013 dengan harga $1.500 (sekitar Rp 24.375.000). Selain harganya yang tinggi, perangkat itu dinilai tidak menawarkan keunggulan teknis yang berarti — fungsinya hanya menempatkan layar tambahan di depan mata pengguna. Pada saat yang sama, ekosistem Android sendiri belum semapan sekarang. Google sempat mencoba peruntungan dengan meluncurkan versi enterprise pada 2017, namun nasibnya tidak jauh berbeda.

Android XR: Kolaborasi dengan Warby Parker dan Gentle Monster

Mengambil pelajaran dari kegagalan itu, Google kini mengambil pendekatan yang berlawanan. Untuk lini Android XR terbarunya, Google menggandeng dua merek kacamata yang memiliki basis penggemar kuat: Warby Parker dan Gentle Monster. Kedua merek ini sudah membuka halaman khusus "Intelligent Eyewear" di situs resmi mereka untuk menampung pendaftaran pembaruan sebelum peluncuran.

Dari sisi teknis, informasi yang tersedia masih terbatas. Yang sudah dikonfirmasi adalah kedua model Android XR ini berjalan di atas platform Snapdragon AR dari Qualcomm. Samsung juga disebut memainkan peran penting dalam memadukan aspek fashion dan teknologi pada perangkat ini.

Soal fitur, kacamata ini dirancang untuk mendukung operasi hands-free yang sesungguhnya:

  • Touchpad di gagang: Pengguna dapat memicu AI, mengambil foto, atau merekam video hanya dengan sentuhan.
  • Aktivasi suara: Ucapkan "Hey Google" atau ketuk sisi frame untuk langsung mengakses Gemini.
  • Kontrol aplikasi via suara: Mulai dari memesan transportasi lewat Grab hingga belajar bahasa baru, semua bisa dilakukan tanpa menyentuh ponsel.
  • Terjemahan real-time: Teks yang tertangkap kamera dapat langsung diterjemahkan, sementara terjemahan suara direproduksi mengikuti nada bicara pembicara asli.

Menariknya, kacamata ini kompatibel dengan perangkat Android maupun iOS — sebuah langkah strategis yang memperluas potensi basis penggunanya secara signifikan. Integrasi dengan Pixel Watch dan perangkat Wear OS lainnya juga sudah dikonfirmasi.

Jadwal Rilis dan Rencana Model dengan Display

Berdasarkan laporan yang beredar, dua model Android XR tanpa display ini diperkirakan akan meluncur pada musim gugur 2026. Namun bagi yang menginginkan kacamata dengan layar terintegrasi — yang memungkinkan perangkat ini mengambil alih sebagian fungsi smartphone — Google dilaporkan baru akan menghadirkannya pada 2027.

Bagi konsumen di Indonesia, informasi rilis resmi untuk pasar lokal belum diumumkan. Sebagai gambaran, produk-produk Android XR kemungkinan akan tersedia melalui distributor resmi Google di kawasan Asia Tenggara, meski jadwal dan harga pastinya masih perlu ditunggu.

Meta Ray-Ban Sudah Jauh di Depan

Google tidak bergerak di ruang yang kosong. Meta Ray-Ban sudah membangun momentum yang sulit diabaikan. Sejak diluncurkan Oktober 2023, Ray-Ban Meta dilaporkan telah terjual lebih dari 2 juta unit, dengan penjualan melonjak tiga kali lipat pada kuartal kedua 2025. Meta dan EssilorLuxottica bahkan dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 20 juta unit per tahun pada akhir 2026, dan berpotensi mencapai 30 juta unit jika permintaan terus tumbuh.

Sebagai perbandingan, model premium Ray-Ban Meta Display seharga $800 (sekitar Rp 13.000.000) bahkan sempat menghentikan ekspansi internasionalnya sementara karena permintaan melebihi pasokan. Model generasi kedua sudah mendukung baterai hingga 8 jam dan perekaman video 3K.

Angka-angka ini menggambarkan betapa ketatnya persaingan yang akan dihadapi Google saat Android XR tiba di pasar musim gugur nanti. Keunggulan Google ada pada ekosistem Gemini yang matang dan integrasi mendalam dengan Android — namun apakah itu cukup untuk menyaingi keunggulan distribusi dan brand awareness Meta di segmen fashion tech, masih menjadi pertanyaan terbuka.

Bagi konsumen Indonesia yang tertarik dengan kategori ini, saat ini pilihan yang paling mudah diakses adalah Meta Ray-Ban generasi kedua yang sudah tersedia di beberapa platform e-commerce. Android XR dari Google bisa menjadi alternatif menarik jika Google berhasil menjaga harga tetap kompetitif dan memastikan distribusi yang memadai di kawasan Asia Tenggara.

Sumber