Google dilaporkan akan segera memberikan opsi bagi pemilik situs untuk mengeluarkan kontennya dari fitur pencarian berbasis AI generatif, yaitu AI Overviews dan AI Mode. Namun di balik kebijakan ini, raksasa Mountain View tersebut disebut tetap berupaya membujuk penerbit agar tidak mengambil opsi keluar tersebut.
Mekanisme Opt-out Akhirnya Tiba di Search Console
Mengutip laporan Android Authority dan 9to5Google, Google akan menambahkan toggle baru di Search Console yang memungkinkan pemilik situs mengontrol apakah kontennya boleh digunakan sebagai bahan jawaban AI. Kontrol ini mencakup AI Overviews, AI Mode, serta AI Overviews yang muncul di feed Discover.
Situs yang memilih opt-out tidak akan lagi menerima trafik maupun tampil di ketiga permukaan tersebut. Data mereka juga tidak akan dipakai untuk pelatihan model AI Google lebih lanjut. Pengecualian berlaku untuk aplikasi Gemini, yang berada di luar cakupan kontrol baru ini.
Yang menarik bagi pelaku SEO, Google menegaskan bahwa keputusan opt-out tidak akan memengaruhi peringkat situs di pencarian organik biasa. Artinya, penerbit tidak perlu khawatir kehilangan posisi di hasil pencarian tradisional hanya karena menolak menjadi bahan baku AI.
Pemicunya: Perintah Regulator CMA Inggris
Kebijakan ini bukan murni inisiatif sukarela Google. Otoritas Persaingan dan Pasar Inggris (Competition and Markets Authority/CMA) baru-baru ini menetapkan Google sebagai perusahaan dengan "Strategic Market Status" dan menjatuhkan putusan mengikat yang mewajibkan Google menyediakan mekanisme opt-out bagi penerbit.
Google diberi waktu sembilan bulan untuk mematuhi perintah tersebut secara penuh. Skema opt-out yang sedang digulirkan ini disebut sebagai respons pertama di dunia terhadap perintah regulasi semacam itu. Untuk tahap awal, Google akan menguji fitur ini pada kelompok kecil penerbit di Inggris sebelum digelar secara global.
Dilema Penerbit: Trafik atau Kedaulatan Konten
Hadirnya tombol opt-out justru menempatkan penerbit pada posisi sulit. Jika memilih keluar, konten tidak akan dipakai AI, tetapi peluang muncul sebagai sumber rujukan di jawaban AI juga hilang. Sebaliknya, bila tetap berpartisipasi, konten berpotensi diringkas AI sehingga pengguna tidak perlu lagi membuka situs aslinya.
Data terbaru menggambarkan tekanan tersebut. Menurut Chartbeat yang dikutip Press Gazette, trafik dari Google Search ke situs penerbit global turun sekitar sepertiga sepanjang satu tahun hingga November 2025. Dalam gugatan antitrust yang diajukan Penske Media pada 2026, disebut bahwa kueri yang disertai AI Overviews menurunkan klik ke penerbit hingga 58%.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Tingkat zero-click Google Search secara keseluruhan | 60% |
| Tingkat zero-click saat AI Overviews tampil | 80–83% |
| Penurunan CTR untuk kueri informasional ("What is" dll) | 61% |
| Penurunan trafik organik Business Insider (April 2022–April 2025) | 55% |
Survei Reuters Institute for the Study of Journalism bahkan menyebut penerbit berita memperkirakan rata-rata penurunan trafik 43% dalam tiga tahun ke depan, dengan seperlima di antaranya memproyeksikan kehilangan lebih dari 75%.
Sikap Google: Membuka Pintu Sambil Menahan di Ambang
Judul laporan Android Authority sendiri secara eksplisit menyebut Google "mencoba menggoda" penerbit agar tidak menggunakan opsi opt-out. Meski mekanismenya disediakan untuk memenuhi tuntutan regulator, Google diisyaratkan akan menambahkan insentif atau pesan tertentu yang membuat penerbit berpikir ulang sebelum menonaktifkan partisipasi mereka.
Detail bentuk insentif tersebut belum diungkap secara publik. Namun arah komunikasinya jelas: Google ingin ekosistem AI-nya tetap kaya rujukan, sementara penerbit punya pilihan formal untuk menolak.
Implikasi bagi Pelaku Media dan SEO di Indonesia
Bagi pengelola media digital, blogger, hingga praktisi SEO di Indonesia, dampak langsung kebijakan ini memang belum terasa karena uji coba awal hanya menyasar penerbit kecil di Inggris. Namun setelah fitur ini bergulir secara global, situs lokal seperti portal berita, niche blog, hingga e-commerce konten harus segera memutuskan strategi: tetap menjadi sumber AI Overviews demi peluang sitasi, atau mempertahankan trafik langsung dengan opt-out.
Mengingat tren penurunan trafik organik akibat AI Overviews, ada baiknya pemilik situs di Indonesia mulai memantau dashboard Search Console secara berkala dan menyiapkan diversifikasi sumber trafik melalui newsletter, kanal sosial, maupun aplikasi mobile sebelum fitur ini menyentuh pasar Asia Tenggara.
