Apple kembali memangkas suku bunga tahunan (APY) Apple Card Savings Account dari 3,5% menjadi 3,4%, berdasarkan laporan MacRumors pada 4 Juni 2026. Penurunan 10 basis poin ini mungkin terdengar kecil, tetapi bagi pemegang saldo besar, selisih bunga tahunan menjadi semakin terasa di atas kertas.

Penurunan 10 Basis Poin yang Dirasakan Pemilik Saldo Besar

Apple Card Savings Account adalah produk tabungan yang dikelola Apple bersama mitra perbankannya di Amerika Serikat, ditujukan untuk menampung Daily Cash dari Apple Card sekaligus dana tabungan terpisah. APY-nya kini resmi diturunkan dari 3,5% ke 3,4%, dan menurut MacRumors perubahan sudah diberlakukan dalam pekan ini.

ItemDetail
APY sebelumnya3,5%
APY terbaru3,4%
Selisih-0,1 poin (10 bps)
Bunga tahunan US$1.000US$34 (sekitar Rp 552.500)
Mulai berlakuAwal Juni 2026

Meskipun selisihnya tipis, dampak akumulatif tetap signifikan bagi nasabah dengan saldo besar yang menjadikan rekening ini sebagai parkir dana jangka pendek. Bagi pengguna yang hanya menampung Daily Cash dalam jumlah kecil, perubahan ini relatif tidak terasa.

Hitungan Bunga: US$1.000 Hanya Menghasilkan US$34 Setahun

MacRumors memberikan ilustrasi sederhana: jika nasabah menyimpan US$1.000 (sekitar Rp 16.250.000) selama satu tahun penuh tanpa penarikan, bunga yang diperoleh dengan APY 3,4% hanyalah US$34 (sekitar Rp 552.500). Laporan ini tidak merinci skenario saldo lain, sehingga pengguna perlu menghitung sendiri sesuai posisi saldonya.

Sebagai gambaran, nominal Rp 552.500 per tahun setara dengan kurang lebih satu kali makan keluarga di restoran kelas menengah di Jakarta. Karena itu, kecuali saldo yang ditempatkan cukup besar, produk ini lebih cocok dipandang sebagai dompet digital berimbal hasil ketimbang instrumen investasi utama. Bagi pengguna dengan saldo besar dalam dolar AS, penurunan 0,1 poin tetap berarti pengurangan ratusan hingga ribuan dolar dalam jangka panjang.

Pergantian Penerbit ke JPMorgan Chase dan Implikasi Suku Bunga

Pada 7 Januari 2026, Apple secara resmi menyepakati perpindahan penerbit Apple Card dari Goldman Sachs ke JPMorgan Chase, seperti dilaporkan Banking Dive. Portofolio yang dialihkan mencapai sekitar US$20 miliar (sekitar Rp 325 triliun), dengan estimasi proses migrasi memakan waktu sekitar 24 bulan.

JPMorgan Chase dilaporkan mencatatkan provisi kerugian sebesar US$2,2 miliar pada kuartal keempat 2025, sementara Goldman Sachs menerima diskon lebih dari US$1 miliar dalam transaksi pengalihan ini. American Banker melaporkan bahwa Chase juga akan menjadi penerbit produk tabungan Apple, sedangkan jaringan pembayaran tetap dipegang Mastercard.

Yang menarik, 9to5Mac menyoroti bahwa suku bunga produk tabungan internal Chase tergolong rendah dibandingkan kompetitor. Artinya, ada kemungkinan penyesuaian APY lebih lanjut setelah migrasi rampung. Perlu dicatat, ini masih berupa analisis, bukan pengumuman resmi.

Apple Card Savings vs Tabungan Berbunga Tinggi di AS

Di pasar Amerika Serikat per Juni 2026, masih ada sejumlah bank yang menawarkan APY di atas 3,4%. Berikut perbandingannya berdasarkan data Bankrate dan NerdWallet:

BankAPYCatatan
Varo Bank5,00%Maksimal saldo US$5.000, perlu syarat setoran
Axos Bankhingga 4,21%
Newtek Bank4,20%Pendaftaran baru ditutup sementara
Bask Bankhingga 4,10%
Vio Bank4,03%Setoran minimum rendah

Sebagai pembanding, rata-rata bunga tabungan biasa di AS hanya 0,38%. The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50–3,75% pada rapat 29 April 2026, dengan rapat berikutnya dijadwalkan 17 Juni 2026.

Apakah Apple Card Savings Tersedia di Indonesia?

Sayangnya, Apple Card maupun Apple Card Savings Account hingga kini hanya tersedia bagi penduduk Amerika Serikat dengan Social Security Number aktif. Konsumen di Indonesia tidak dapat membuka rekening ini melalui App Store atau Wallet lokal.

Bagi pengguna iPhone di Indonesia yang mencari alternatif tabungan digital berimbal hasil tinggi, opsi yang lebih realistis adalah produk lokal seperti tabungan digital dari Bank Jago, Bank Neo Commerce, SeaBank, atau Bank Raya yang menawarkan bunga 3–6% per tahun tergantung tenor dan saldo. Untuk simpanan jangka pendek dalam rupiah, produk-produk ini umumnya menawarkan likuiditas yang setara dengan kepraktisan Apple Card Savings.

Bagi yang tertarik mengikuti tren produk fintech global, kabar penurunan APY ini menjadi pengingat bahwa imbal hasil tabungan digital sangat bergantung pada kebijakan moneter dan strategi penerbit — sebuah dinamika yang juga berlaku di pasar digital banking Indonesia.

Sumber