Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani perintah eksekutif (executive order) terkait kecerdasan buatan pada Selasa lalu. Dua poin yang paling menonjol: periode pra-akses pemerintah dipangkas dari 90 hari menjadi maksimal 30 hari, namun mekanisme classified benchmark untuk menentukan model mana yang termasuk "covered frontier model" tetap dipertahankan. Kerangka ini bersifat sukarela (voluntary), tetapi sejumlah analis menilai tekanan partisipasinya jauh dari ringan.
Akses 30 Hari: Bagaimana Skemanya Bekerja
Berdasarkan laporan Tom's Hardware, perpres tersebut meminta pengembang AI memberi akses kepada lembaga federal AS hingga 30 hari sebelum model frontier mereka dirilis ke publik. Durasi ini lebih singkat dari draft sebelumnya yang sempat ditinggalkan pada bulan lalu, yang mensyaratkan 90 hari.
Hal penting yang perlu dicatat: skema ini bersifat sukarela. Section 3 perpres secara eksplisit menolak adanya skema lisensi wajib, persetujuan awal (pre-approval), maupun perizinan paksa terhadap model frontier baru. Pengembang yang ikut serta akan membuka model mereka untuk ditinjau lembaga pemerintah sebelum diserahkan kepada "trusted partners" — dan lembaga yang sama juga ikut terlibat dalam memilih siapa saja yang masuk dalam daftar partner tepercaya tersebut.
Benchmark Rahasia: Kriteria "Covered Model" Tidak Dipublikasikan
Hanya model yang memenuhi ambang batas tertentu yang masuk dalam cakupan tinjauan 30 hari. Ambang batas ini ditetapkan oleh National Security Agency (NSA) bersama National Cyber Director dan CISA. Konstruksi benchmark-nya sendiri dibebankan kepada tiga lembaga: NSA, CISA, dan NIST.
Yang membuat skema ini kontroversial: kriteria penetapan "covered frontier model" itu sendiri diklasifikasikan sebagai informasi rahasia. Akibatnya, pengembang sulit memastikan dari luar apakah model mereka termasuk dalam kategori yang harus ditinjau atau tidak.
Treasury Bentuk "AI Cybersecurity Clearinghouse"
Perpres ini juga menginstruksikan Departemen Keuangan AS (Treasury Department) untuk membentuk AI cybersecurity clearinghouse. Lembaga baru ini akan berkoordinasi dengan perusahaan AI dan operator infrastruktur kritis untuk pemindaian kerentanan, verifikasi, hingga distribusi patch keamanan.
Infrastruktur kritis yang disasar meliputi rumah sakit di daerah pedesaan (rural hospitals), bank komunitas (community banks), serta utilitas lokal. Klausul tambahan mengatur penyaluran hibah federal kepada perusahaan pengembang alat deteksi kerentanan AI, serta perluasan jalur rekrutmen talenta keamanan siber di U.S. Tech Force.
Latar Belakang: Insiden Anthropic Claude Mythos dan Sengketa dengan Pentagon
Menurut Tom's Hardware, pada April lalu Anthropic Claude Mythos preview disebut berhasil menemukan ribuan kerentanan zero-day yang tersebar di sistem operasi dan browser utama. Sejak itu, Anthropic memperluas program akses awal "Project Glasswing". Perpres ini disinyalir merupakan respons atas kemunculan model frontier dengan kemampuan setara Mythos.
Yang menarik perhatian adalah sengketa Anthropic dengan Department of Defense. Tepat sebelum pengiriman Claude Mythos preview, Anthropic ditetapkan sebagai supply chain risk oleh Pentagon, sehingga kontraktor pertahanan dilarang menggunakan teknologi perusahaan tersebut. Anthropic menggugat penetapan itu dan, menurut laporan, perkaranya masih berstatus belum diputus.
Risiko "Senjata Politik" dan Reaksi Industri
Juan Londoño, analis kebijakan dari Cato Institute, kepada The Register menyatakan bahwa klausul mengenai keterlibatan pemerintah dalam pemilihan trusted partners "berpotensi membuka pintu bagi penggunaan sebagai senjata terhadap perusahaan yang berseberangan dengan administrasi". Kasus Anthropic vs Pentagon dianggap sebagai preseden konkret atas kekhawatiran tersebut.
Meski demikian, tiga raksasa AI justru memberi sinyal dukungan. CEO OpenAI Sam Altman menyebut kerangka ini "menemukan keseimbangan yang tepat", Anthropic menyatakan ini "langkah penting menuju penguatan kepemimpinan AI Amerika", dan Kent Walker dari Google menyebutnya "kemajuan signifikan".
Amerika harus memimpin AI dengan terus mengembangkan model terbaik, sambil menjamin keamanannya dan memastikan alat siber sampai ke tangan pertahanan yang tepercaya. — Sam Altman
Menurut NPR, perpres ini sebenarnya dijadwalkan ditandatangani Mei lalu, namun ditunda karena kekhawatiran Trump bahwa regulasi semacam itu dapat melemahkan posisi perusahaan AS dalam persaingan dengan Tiongkok. Akhirnya penandatanganan dilakukan secara tertutup tanpa acara publik.
NIST CAISI Evaluasi 5 Perusahaan, Definisi "Covered Model" dalam 60 Hari
Cybersecurity Dive dan Nextgov melaporkan, Center for AI Standards and Innovation (CAISI) di bawah NIST menandatangani kontrak pre-deployment testing baru dengan Google DeepMind, Microsoft, dan xAI. Ditambah dengan kerja sama yang sudah berjalan bersama OpenAI dan Anthropic, totalnya menjadi lima perusahaan utama yang masuk dalam ekosistem evaluasi.
| Item | Detail |
|---|---|
| Kontrak baru | Google DeepMind, Microsoft, xAI |
| Mitra eksisting | OpenAI, Anthropic |
| Lingkungan evaluasi | Classified environment |
| Tenggat NSA | Definisi "covered frontier model" dalam 60 hari sejak perpres |
Cloud Security Alliance menyebut banyak komponen perpres memiliki tenggat 30–60 hari, sehingga implementasi konkret benchmark dan skema sukarela diperkirakan akan terungkap bertahap sepanjang musim panas ini.
Apa Artinya bagi Pengguna di Indonesia?
Secara hukum, perpres ini hanya mengikat di yurisdiksi AS. Namun bagi pengguna dan pelaku industri di Indonesia, ada dua implikasi yang patut dicermati.
Pertama, jika model generasi berikutnya dari OpenAI (ChatGPT), Google (Gemini), atau Anthropic (Claude) masuk dalam kategori "covered frontier model", peluncuran versi terbarunya berpotensi tertunda hingga 30 hari secara global — termasuk di Indonesia, mengingat perusahaan-perusahaan ini umumnya merilis layanan secara serentak.
Kedua, bagi startup dan korporasi Indonesia yang membangun produk di atas API model frontier, jadwal rilis fitur baru dari penyedia AS bisa menjadi lebih sulit diprediksi. Tim produk yang mengandalkan akses awal ke model baru perlu mempertimbangkan diversifikasi penyedia, termasuk opsi model open-source seperti Llama, Mistral, atau Qwen yang tidak terikat skema serupa.
Sumber
- Tom's Hardware — Trump signs AI executive order seeking 30-day government access to frontier models before release — voluntary framework will include classified benchmark to determine which models qualify
- CNN Business — Trump signs executive order asking for access to new AI models before they launch
- Cybersecurity Dive — NIST will test three major tech firms' frontier AI models for cybersecurity risks
