Trump Mobile secara diam-diam memperbarui syarat dan ketentuan pemesanan T1 Phone, dan isinya mengejutkan: uang muka sebesar $100 (sekitar Rp 1.625.000) yang sudah dibayarkan ratusan ribu orang tidak menjamin bahwa ponsel tersebut akan diproduksi, apalagi dijual. Dengan total dana yang terkumpul mencapai sekitar $59 juta (sekitar Rp 958.750.000.000), kasus ini kini menarik perhatian regulator dan konsumen di seluruh dunia.
Syarat Baru: "Bukan Pembelian" dan Tidak Ada Jaminan Produksi
Berdasarkan laporan Android Authority, Trump Mobile memperbarui ketentuan pemesanan T1 Phone dengan klausul yang jauh lebih membatasi hak konsumen dibanding sebelumnya.
Poin-poin utama dalam pembaruan syarat tersebut antara lain:
- Uang muka $100 hanya memberikan "kesempatan bersyarat" untuk membeli perangkat, apabila Trump Mobile di kemudian hari memilih untuk menjualnya atas kebijakan sendiri
- Secara eksplisit dinyatakan bahwa pembayaran ini bukan merupakan pembelian (not a purchase)
- Tidak ada jaminan bahwa T1 Phone akan dirilis secara komersial maupun bahwa produksinya akan dimulai
- Pemesan dapat mengajukan pengembalian dana melalui layanan pelanggan
- Jika proyek dihentikan, uang muka diklaim akan dikembalikan
Dengan kata lain, skema ini tidak lagi berfungsi sebagai pemesanan produk pada umumnya. Konsumen yang telah membayar pada dasarnya hanya "menitipkan" uang tanpa kepastian kapan — atau apakah — produk akan pernah ada.
Desain Berganti-ganti, Jadwal Rilis Terus Mundur
Sejak pertama kali diumumkan, T1 Phone telah menunjukkan sejumlah tanda yang meragukan. Peluncuran yang semula dijadwalkan pada September berulang kali ditunda, dan hingga artikel ini ditulis, produk belum juga dirilis.
Perjalanan desainnya pun penuh kontroversi. Gambar yang dipublikasikan sebagai T1 Phone dilaporkan berubah-ubah: pertama muncul sebagai iPhone 16 Pro berwarna emas, kemudian diganti dengan Galaxy S25 Ultra yang diedit warnanya menjadi emas, sebelum akhirnya pada Februari eksekutif Trump Mobile memperkenalkan "desain final" yang berbeda dari keduanya — namun tetap berwarna emas.
Selain itu, T1 Phone disebut akan mendapatkan sertifikasi dari T-Mobile sebelum Maret, namun tidak ada pengumuman resmi dari T-Mobile maupun Trump Mobile yang mengonfirmasi hal tersebut.
"Made in America" yang Ternyata Tidak Sepenuhnya Amerika
Salah satu klaim paling menonjol saat peluncuran adalah label "Made in America." Namun klaim ini perlahan-lahan surut. Frasa tersebut diganti menjadi "American-Proud Design," dan pada Februari 2026, eksekutif Trump Mobile mengakui kepada wartawan bahwa produksi tidak sepenuhnya dilakukan di Amerika Serikat — hanya sekitar 10 komponen terakhir yang dirakit di Miami, sementara sebagian besar produksi tetap dilakukan di luar negeri.
Lebih jauh, sejumlah laporan mengindikasikan bahwa T1 Phone kemungkinan besar merupakan versi reskin dari Wingtech Revvl 7 Pro 5G buatan China. Perlu dicatat bahwa klaim ini belum dikonfirmasi secara resmi.
Trump Mobile juga menyebut tengah mengembangkan model kelas atas bernama T1 Ultra, meski belum ada kejelasan apakah produk tersebut akan membuka pemesanan.
$59 Juta Terkumpul, Regulator Mulai Bergerak
Skala finansial dari kasus ini tidak bisa diabaikan. Sekitar 590.000 pengguna telah membayar uang muka $100, sehingga total dana yang terkumpul mencapai sekitar $59 juta (sekitar Rp 958.750.000.000) — sementara belum satu pun unit dikirimkan.
Pada Januari 2026, Senator Elizabeth Warren dan sejumlah rekannya secara resmi meminta Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) untuk menyelidiki Trump Mobile atas dugaan praktik bait-and-switch (menarik konsumen dengan janji yang tidak dipenuhi) serta kemungkinan iklan palsu terkait klaim "Made in USA."
Pembaruan syarat pada April 2026 juga menambahkan klausul pembebasan tanggung jawab yang lebih luas:
- Perusahaan tidak bertanggung jawab atas keterlambatan akibat kekurangan komponen atau masalah regulasi
- Pemesan dianggap melepaskan hak klaim melebihi jumlah uang muka yang telah dibayarkan
Gubernur California Gavin Newsom bahkan secara terbuka menyebut T1 Phone sebagai "penipuan."
Struktur Layanan Seluler di Balik T1 Phone
Menariknya, meski perangkat kerasnya masih tidak jelas, sisi layanan komunikasi Trump Mobile justru terus berjalan. Berikut gambaran strukturnya:
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Operator | Liberty Mobile Wireless, berbasis di Florida |
| Jaringan | MVNO yang menggunakan jaringan T-Mobile |
| Tarif (Paket 47) | $47,45/bulan (sekitar Rp 770.000/bulan) |
| Perbandingan | Lebih mahal dari MVNO berbasis T-Mobile lain seperti Metro, Mint Mobile, dan US Mobile |
Pada April 2026, pendaftaran merek dagang untuk paket layanan Trump Mobile juga telah dikonfirmasi, dan terdapat aktivitas terkait FCC. Artinya, bisnis layanan selulernya tampak terus berjalan, sementara produk ponselnya masih tergantung di udara.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Pemesan?
Bagi siapa pun yang telah membayar uang muka $100, pembaruan syarat ini menjadi sinyal yang sulit diabaikan. Ketentuan baru secara eksplisit menyatakan bahwa pembayaran bukan jaminan produk, dan perusahaan berhak tidak melanjutkan produksi kapan saja.
Pengembalian dana dapat diajukan melalui layanan pelanggan Trump Mobile. Namun perlu diperhatikan bahwa syarat yang ada tidak secara spesifik menjamin kecepatan atau kelancaran proses pengembalian tersebut.
Bagi konsumen di Indonesia, kasus T1 Phone menjadi pengingat penting untuk selalu membaca syarat dan ketentuan pemesanan produk teknologi secara cermat — terutama ketika uang muka diminta jauh sebelum produk terbukti nyata ada. Skema serupa, meski dalam skala berbeda, bisa muncul di platform mana pun. Jika tidak ada alasan kuat untuk menunggu, mengajukan pengembalian dana lebih awal adalah langkah yang lebih aman daripada menunggu kepastian yang tidak kunjung datang.
