Kekhawatiran soal power bank yang menggembung atau bahkan terbakar di dalam kabin pesawat kini mendapat jawaban baru. SolidSafe, lini power bank Qi2 magnetik berbasis baterai semi-solid state yang pertama kali diperkenalkan di CES 2026, resmi memasuki pasar dengan harga mulai US$59 (sekitar Rp 960.000). Informasi ini dilaporkan oleh Android Authority.
Inovasi Kimia Baterai, Bukan Sekadar Watt yang Lebih Besar
Selama beberapa tahun terakhir, power bank lebih banyak berlomba di sisi ketipisan, kecepatan pengisian, dan fitur tambahan. Namun komposisi sel lithium-ion di dalamnya nyaris tidak berubah. SolidSafe mengambil pendekatan berbeda dengan memperbarui kimia baterainya sendiri sebagai diferensiasi utama.
Baterai semi-solid state yang digunakan SolidSafe diklaim mampu mengurangi secara signifikan elektrolit cair yang mudah terbakar, dibanding sel lithium-ion atau lithium-polymer konvensional. Hasilnya, stabilitas termal meningkat dan risiko overheat, pembengkakan, hingga terbakar dapat ditekan. Produsen menyebut sel ini juga lebih tahan terhadap tekanan suhu ekstrem dan benturan fisik dibandingkan baterai konvensional.
Perlu dicatat, teknologi ini berbeda dari baterai all solid state murni. Elektrolit cair tidak sepenuhnya dihilangkan, hanya dikurangi porsinya.
Dua Kapasitas: 5.000 mAh dan 10.000 mAh
Lini SolidSafe terbagi atas dua kelas kapasitas dengan spesifikasi dasar sebagai berikut:
- Kapasitas: 5.000 mAh dan 10.000 mAh
- Pengisian nirkabel: Qi2 magnetik
- Pengisian kabel: USB-C fast charging
- Material bodi: aluminium
Pada varian 10.000 mAh, SolidSafe menambahkan kabel USB-C lanyard terintegrasi, layar warna untuk memantau status pengisian secara real-time, serta output USB-C hingga 30W. Bahkan, salah satu variannya dibekali slot microSD untuk fungsi penyimpanan onboard, fitur yang jarang ditemukan di kelas power bank manapun. Fitur-fitur ini menyasar pengguna yang sering bekerja mobile, misalnya travel blogger atau fotografer lapangan.
SolidSafe Air, Klaim Power Bank Qi2 Semi-Solid State Tertipis di Dunia
Sorotan utama lini ini adalah SolidSafe Air, yang diklaim sebagai power bank Qi2 berbasis semi-solid state tertipis di dunia.
| Spesifikasi | Detail |
|---|---|
| Kapasitas | 5.000 mAh (18,5 Wh) |
| Ketebalan minimum | 6,8 mm |
| Pengisian nirkabel | Qi2 15W |
| Pengisian kabel | USB-C 20W |
| Bodi | Diperkuat titanium |
Ketebalan 6,8 mm membuat SolidSafe Air dapat ditempel langsung di belakang smartphone tanpa menambah bulk yang mengganggu, sangat cocok untuk pengguna yang sering bepergian dengan tas ringan. Output Qi2 15W sudah mendekati batas atas standar Qi2 saat ini, jadi tidak tertinggal di sisi nirkabel.
Namun output kabel USB-C 20W tergolong moderat dibanding power bank kelas atas yang sudah menyentuh 50–100W. Artinya, SolidSafe Air lebih ditujukan untuk mengisi ulang smartphone dalam 1–2 jam, bukan untuk fast charging laptop. Kapasitas 5.000 mAh juga belum tentu cukup untuk mengisi penuh flagship modern semacam Galaxy S25 Ultra atau iPhone 17 Pro Max, sehingga pilihannya jatuh pada trade-off klasik antara ketipisan dan kapasitas.
Apakah US$59 Sepadan untuk Faktor Keamanan?
Karena teknologi semi-solid state masih dalam tahap awal adopsi, harga US$59 (sekitar Rp 960.000) memang lebih mahal dibanding power bank lithium-ion konvensional dengan kapasitas setara. Sebagai gambaran, power bank 10.000 mAh dari merek seperti Anker, Baseus, atau Xiaomi di Tokopedia dan Shopee Indonesia umumnya dibanderol di kisaran Rp 200.000 hingga Rp 500.000.
Selisih harga ini pada dasarnya adalah premium yang dibayar untuk faktor keamanan dan ketipisan. Bagi pengguna yang sering naik pesawat atau menyimpan power bank di dalam tas bersama perangkat elektronik lain, mengurangi risiko terbakar dan pembengkakan bisa menjadi alasan kuat. Sebaliknya, jika prioritas Anda adalah kapasitas besar dengan harga rendah, power bank lithium-polymer standar masih lebih unggul.
Untuk konsumen di Indonesia, perlu diingat bahwa SolidSafe belum tentu masuk melalui jalur distribusi resmi. Pembelian via importir pihak ketiga berarti pengguna harus memastikan sendiri kompatibilitas regulasi, terutama jika hendak membawanya ke dalam pesawat. Sertifikasi SDPPI dan aturan pembatasan kapasitas baterai (umumnya maksimal 100 Wh untuk kabin) tetap menjadi acuan utama bagi traveler domestik maupun internasional.
