Qualcomm dikabarkan tengah mempersiapkan chip Snapdragon generasi berikutnya yang menjanjikan lonjakan performa signifikan — namun dengan konsekuensi yang cukup mengkhawatirkan bagi konsumen: harga smartphone Android kelas Ultra berpotensi melonjak lebih tinggi dari sebelumnya. Informasi ini masih berada di tahap bocoran dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh Qualcomm.

Bocoran Harga Chip: Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro Tembus $300 per Unit

Berdasarkan data yang dibagikan oleh pengguna X (Twitter) dengan akun @yabhishekkhd dan diteruskan oleh Android Authority, tren kenaikan harga chip Snapdragon dari generasi ke generasi terus berlanjut tanpa tanda-tanda melambat. Berikut estimasi harga per unit chip berdasarkan bocoran tersebut:

GenerasiEstimasi Harga per Unit (USD)
Snapdragon 8 Gen 1 / 8+ Gen 1$120–130 (sekitar Rp 1.950.000–2.113.000)
Snapdragon 8 Gen 2$160 (sekitar Rp 2.600.000)
Snapdragon 8 Gen 3$170–200 (sekitar Rp 2.763.000–3.250.000)
Snapdragon 8 Elite$220+ (sekitar Rp 3.575.000+)
Snapdragon 8 Elite Gen 5$240–280 (sekitar Rp 3.900.000–4.550.000)
Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro$300+ (sekitar Rp 4.875.000+)

Perlu dicatat bahwa angka-angka ini bersumber dari bocoran, bukan pengumuman resmi Qualcomm. Meski demikian, tren kenaikannya konsisten dan mencerminkan pola yang sudah berlangsung selama beberapa generasi terakhir.

Sebagai gambaran, kenaikan dari Snapdragon 8 Gen 1 ke Snapdragon 8 Elite saja sudah mencapai hampir 70–80%. Jika Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro benar-benar menyentuh angka $300 per unit, ini akan menjadi titik tertinggi dalam sejarah chip mobile Qualcomm.

Bukan Hanya Chip: RAM dan Penyimpanan Juga Ikut Mendorong Harga Naik

Tekanan harga tidak datang dari chip semata. Laporan dari Wccftech mengungkapkan bahwa pada awal 2026, biaya komponen LPDDR5X RAM dan penyimpanan UFS 4.1 yang digunakan pada smartphone flagship sudah melampaui biaya chip Snapdragon 8 Elite Gen 5 itu sendiri.

Artinya, meski Qualcomm berhasil menekan harga chipnya sekalipun, produsen smartphone tetap akan menghadapi tekanan biaya dari sisi komponen lain. Kombinasi inilah yang membuat Android Authority menyebut potensi kenaikan harga sebagai "serious price hike" — kenaikan yang cukup serius — khususnya untuk lini Ultra seperti Samsung Galaxy S Ultra, Xiaomi Ultra, atau varian tertinggi dari merek-merek flagship lainnya.

Pindah ke TSMC 2nm N2P: Performa Lebih Tinggi, Biaya Lebih Mahal

Salah satu faktor utama di balik lonjakan harga chip adalah perpindahan proses manufaktur ke node yang lebih canggih. Snapdragon 8 Elite Gen 5 diperkirakan menjadi chip flagship Qualcomm terakhir yang menggunakan proses 3nm. Generasi berikutnya, Snapdragon 8 Elite Gen 6, disebut akan beralih ke node 2nm TSMC yang dikenal sebagai N2P.

Perpindahan ini bukan tanpa konsekuensi finansial. TSMC dikabarkan menaikkan harga wafer untuk proses 2nm hingga 50% dibandingkan generasi sebelumnya. Kenaikan biaya produksi sebesar itu hampir pasti akan tercermin dalam harga jual chip ke produsen smartphone, dan pada akhirnya ke harga eceran perangkat.

Node N2P ini juga diperkirakan akan digunakan kembali pada Snapdragon 8 Elite Gen 7, sehingga tekanan biaya dari proses manufaktur ini kemungkinan bukan sesuatu yang bersifat sementara.

Samsung Foundry Masuk sebagai Alternatif Produksi

Untuk mengantisipasi ketergantungan penuh pada TSMC sekaligus menekan biaya, Qualcomm dilaporkan mulai menjajaki opsi dual sourcing — menggunakan dua pemasok manufaktur sekaligus. CEO Qualcomm, Cristiano Amon, dalam ajang CES 2026 menyebut bahwa pihaknya telah memulai diskusi dengan Samsung Electronics terkait produksi chip menggunakan proses 2nm milik Samsung, dan desain awalnya pun sudah selesai dikerjakan.

Harga wafer 2nm Samsung diperkirakan berada di kisaran $20.000 per wafer — lebih rendah dibandingkan TSMC untuk node yang setara. Jika strategi dual sourcing ini berjalan, Qualcomm berpotensi memiliki daya tawar lebih besar dalam menegosiasikan harga, sekaligus menjaga stabilitas pasokan chip untuk para mitra produsen smartphone-nya.

Namun perlu diingat, Samsung Foundry sebelumnya sempat menghadapi tantangan dalam hal yield (tingkat keberhasilan produksi) pada node-node terdepan. Keberhasilan strategi ini masih perlu dibuktikan.

Dampak bagi Konsumen Indonesia: Siap-siap Harga HP Flagship Makin Tinggi?

Bagi konsumen di Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Smartphone Android flagship yang menggunakan Snapdragon — mulai dari Samsung Galaxy S series, Xiaomi 15 Ultra, hingga berbagai merek lain — selama ini sudah berada di kisaran harga yang cukup tinggi. Jika biaya chip naik signifikan dan komponen pendukung seperti RAM serta penyimpanan ikut mahal, harga jual resmi di Indonesia berpotensi mengikuti tren kenaikan tersebut.

Sebagai perbandingan, Samsung Galaxy S25 Ultra saat ini dijual mulai dari sekitar Rp 22.000.000 di pasar Indonesia. Kenaikan biaya komponen yang substansial pada generasi berikutnya bisa mendorong harga Galaxy S26 Ultra atau setaranya ke level yang lebih tinggi lagi.

Informasi rilis resmi untuk pasar Indonesia terkait chip generasi berikutnya belum diumumkan. Konsumen yang berencana membeli smartphone flagship kelas atas dalam waktu dekat mungkin perlu mempertimbangkan apakah menunggu generasi berikutnya sepadan dengan potensi kenaikan harganya.

Sumber