Samsung dilaporkan berencana menaikkan harga sejumlah seri Galaxy di pasar Eropa sebesar sekitar €100 (sekitar Rp 1.750.000 atau setara US$108) mulai Juni 2026. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga chip memori yang kini tidak lagi mampu diserap sepenuhnya oleh produsen. Bagi konsumen di Indonesia, tren ini patut dicermati karena tekanan harga RAM bersifat global dan berpotensi memengaruhi harga perangkat di seluruh pasar, termasuk Asia Tenggara.
Kenaikan €100 di Eropa: Model Apa Saja yang Terdampak?
Berdasarkan laporan GSMArena yang mengutip media lokal Yunani, Samsung tengah mempersiapkan penyesuaian harga untuk lini smartphone-nya di Eropa mulai Juni 2026. Berikut ringkasan informasi yang beredar:
- Besaran kenaikan: sekitar €100 (sekitar Rp 1.750.000 atau setara US$108)
- Waktu berlaku: Juni 2026 (pasar Eropa)
- Model yang disebut: Galaxy S series, Galaxy Z Fold7, Galaxy Z Flip7
Perlu dicatat, informasi ini masih bersifat laporan tidak resmi dan belum dikonfirmasi oleh Samsung. Belum ada kejelasan apakah kenaikan hanya berlaku untuk varian dasar (base model) atau turut mencakup konfigurasi penyimpanan lebih tinggi seperti 256 GB dan 512 GB. Namun, sejumlah analis menilai konfigurasi atas pun berpotensi terdampak.
Mengapa Harga RAM Melonjak Drastis?
Akar permasalahan terletak pada pergeseran struktural industri semikonduktor global. Produsen chip memori kini memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI), sehingga pasokan LPDDR — jenis RAM yang digunakan di smartphone — ikut tertekan.
TrendForce mencatat bahwa harga kontrak DRAM konvensional pada kuartal pertama 2026 naik 90–95% dibanding kuartal sebelumnya. Harga LPDDR4X dan LPDDR5X yang lazim digunakan di perangkat mobile pun diperkirakan naik sekitar 90%. Sebagai gambaran, biaya pengadaan konfigurasi 8 GB RAM + 256 GB penyimpanan telah melonjak hampir 200% secara tahunan berdasarkan harga kontrak Q1 2026.
Dampaknya terasa pada struktur biaya produksi (Bill of Materials/BOM): porsi memori dalam total biaya komponen smartphone yang semula hanya 10–15% kini melonjak menjadi 30–40%. Micron bahkan mengungkapkan bahwa mereka hanya mampu memenuhi 55–60% dari permintaan pelanggan utamanya.
Selama ini, Apple dan Samsung mampu menyerap kenaikan biaya ini melalui efisiensi di komponen lain. Namun, ruang penyerapan tersebut kini semakin sempit, dan Samsung dilaporkan mulai meneruskan sebagian beban biaya itu ke konsumen.
Proyeksi Industri: Harga Naik, Pengiriman Turun
Lembaga riset terkemuka telah merilis proyeksi yang cukup mengkhawatirkan untuk pasar smartphone global sepanjang 2026:
| Indikator | Proyeksi | Sumber |
|---|---|---|
| Kenaikan harga smartphone global | +13% | Gartner |
| Penurunan pengiriman smartphone global | -8,4% | Gartner |
| Penurunan produksi smartphone global | -10% (hingga -15%) | TrendForce |
| Porsi memori dalam BOM smartphone | 10–15% → 30–40% | TrendForce |
Gartner memproyeksikan kenaikan harga DRAM dan SSD secara gabungan mencapai 130% hingga akhir 2026, yang pada akhirnya mendorong harga smartphone naik rata-rata 13% dan menekan pengiriman global turun 8,4%. TrendForce bahkan memperkirakan produksi smartphone dunia menyusut 10% menjadi sekitar 1,135 miliar unit, dengan skenario terburuk mencapai penurunan lebih dari 15%.
Yang membuat situasi ini lebih berat adalah proyeksi jangka panjangnya. SK Hynix memperkirakan kondisi ketat pasokan memori akan berlanjut hingga 2028, sementara para analis menilai tren kenaikan harga memori berpotensi melampaui tahun tersebut. Realokasi wafer produksi ke HBM untuk AI menjadi faktor struktural yang tidak akan berubah dalam waktu dekat.
Dampak bagi Konsumen Indonesia
Laporan ini secara langsung menyasar pasar Eropa, dan informasi mengenai penyesuaian harga untuk pasar Indonesia maupun Asia Tenggara belum diumumkan. Namun, mengingat tekanan biaya RAM bersifat global, konsumen di Indonesia perlu bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga pada model-model flagship Samsung yang masuk melalui jalur resmi — baik melalui Samsung Store, Erafone, maupun mitra distribusi resmi lainnya.
Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan pembelian Galaxy Z Fold7 atau Z Flip7 ketika resmi hadir di Indonesia, ada baiknya memantau pengumuman harga resmi sejak awal peluncuran. Jika tren harga global terus meningkat, harga perdana di pasar regional ASEAN pun berpotensi lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Perlu diingat pula bahwa kenaikan harga ini bukan fenomena eksklusif Samsung. Analis memperkirakan produsen lain — termasuk merek-merek yang populer di Indonesia seperti Oppo, Xiaomi, dan Vivo — juga akan menghadapi tekanan serupa dalam beberapa kuartal ke depan.
Sumber
- GSMArena — Samsung reportedly forced to raise prices due to ever-rising RAM cost
- Gartner — Gartner Says Surging Memory Costs Will Reduce Global PC and Smartphone Shipments in 2026
- TrendForce — Memory Price Surge Intensifies Retail Pricing Pressure, Putting Global Smartphone Production at Risk of a Sharp Decline in 2026
