Samsung mulai memperluas pembaruan One UI 8.5 versi stabil untuk Galaxy Z TriFold ke tiga wilayah baru: Singapura, Taiwan, dan Uni Emirat Arab (UAE). Langkah ini menyusul peluncuran awal yang terbatas di Korea Selatan pekan lalu. Bagi konsumen di kawasan Asia Tenggara, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa ekosistem perangkat lipat tiga Samsung terus mendapat dukungan perangkat lunak aktif.
One UI 8.5 Kini Menjangkau Tiga Wilayah Baru
Setelah Korea Selatan menjadi wilayah pertama yang menerima pembaruan One UI 8.5 stabil untuk Galaxy Z TriFold, Samsung kini memperluas distribusinya ke:
- Singapura
- Taiwan
- UAE (Uni Emirat Arab)
Versi firmware yang didistribusikan ke wilayah-wilayah tersebut adalah F968BXXU4BZDP, yang mencakup sejumlah fitur baru dan pembaruan antarmuka. Bagi pengguna di wilayah yang sudah tercakup dan belum menerima notifikasi otomatis, pembaruan dapat dicek secara manual melalui Pengaturan → Pembaruan Perangkat Lunak.
Perlu dicatat bahwa informasi mengenai jadwal peluncuran untuk wilayah lain, termasuk Indonesia, belum diumumkan secara resmi oleh Samsung.
Apa Saja yang Baru di One UI 8.5?
One UI 8.5 berbasis Android 16 ini merupakan pembaruan antarmuka dari One UI 8.0, dengan masa pengujian beta yang berlangsung lebih dari lima bulan. Beberapa fitur unggulan yang hadir antara lain:
- AirDrop via Quick Share: Pengguna kini dapat mengirim file langsung ke perangkat iPhone, iPad, dan Mac melalui Quick Share, menjembatani ekosistem Android dan Apple secara lebih mulus.
- AI Call Screening dan transkripsi voicemail: Fitur penyaringan panggilan berbasis AI, transkripsi voicemail secara langsung, serta peningkatan pada Photo Assist turut disertakan.
- Kustomisasi Quick Panel yang lebih leluasa: Pengguna dapat menambah, menghapus, dan mengatur ulang tata letak toggle sesuai kebutuhan.
- Pemindai dokumen yang disempurnakan dan perluasan Galaxy AI: Produktivitas harian pengguna ditingkatkan melalui pembaruan pada alat pemindaian dan kemampuan AI bawaan.
Fitur-fitur ini sebelumnya sudah hadir di lini Galaxy S dan Z Fold generasi terbaru, sehingga pengguna TriFold kini mendapatkan paritas fitur yang setara.
Galaxy Z TriFold: Perangkat Seharga Rp 47 Juta yang Langka
Galaxy Z TriFold adalah smartphone lipat tiga Samsung dengan konfigurasi penyimpanan 512 GB dan RAM 16 GB. Harga referensi yang tercatat di GSMArena adalah $2.899 (sekitar Rp 47.100.000)—menjadikannya salah satu smartphone paling mahal yang pernah diproduksi Samsung.
Sebagai gambaran, harga tersebut setara dengan lebih dari tiga kali lipat harga Galaxy Z Fold 7 yang diperkirakan berada di kisaran harga flagship reguler. Distribusinya pun sangat terbatas: Amerika Serikat bahkan telah menghentikan penjualannya, dan pembaruan One UI 8.5 yang kini diperluas ke Singapura, Taiwan, serta UAE mencerminkan wilayah-wilayah di mana perangkat ini memiliki basis pengguna aktif.
Untuk pasar Indonesia, Galaxy Z TriFold tidak tersedia secara resmi. Konsumen yang tertarik pada kategori foldable dapat mempertimbangkan Galaxy Z Fold 7 sebagai alternatif yang lebih mudah dijangkau dan lebih luas distribusinya.
Bocoran Galaxy Z TriFold 2: Lebih Tipis dengan Engsel Baru
Bersamaan dengan pembaruan perangkat lunak ini, sejumlah informasi mengenai penerus Galaxy Z TriFold juga mulai beredar—meski seluruhnya masih berstatus rumor dan belum dikonfirmasi Samsung.
| Spesifikasi | Galaxy Z TriFold (generasi pertama) | Galaxy Z TriFold 2 (rumor) |
|---|---|---|
| Ketebalan saat dilipat | 12,9 mm | sekitar 8,9 mm |
| Bobot | 309 g | Lebih ringan (target) |
| Waktu rilis | 2025 (wilayah terbatas) | Pertengahan 2027 (rumor) |
Penipisan yang signifikan ini disebut-sebut akan dicapai melalui solusi engsel yang sepenuhnya baru yang sedang dikembangkan Samsung. Teknologi engsel tersebut, menurut laporan yang beredar, juga akan diterapkan pada Galaxy Z Fold 8, Z Flip 8, dan Fold Wide—sehingga dampaknya berpotensi dirasakan di lini foldable Samsung secara lebih luas.
Menariknya, meski Galaxy Z TriFold generasi pertama diperkirakan hanya diproduksi sebanyak 10.000 hingga 20.000 unit, seluruh stok di Amerika Serikat dilaporkan habis terjual. Ini mengindikasikan bahwa minat konsumen terhadap format lipat tiga memang nyata, meski harganya sangat tinggi.
Bagi konsumen di Indonesia, perkembangan ini relevan untuk diikuti: jika Samsung berhasil menekan bobot dan ketebalan TriFold 2 secara signifikan, kategori lipat tiga berpotensi menjadi lebih kompetitif dan—pada akhirnya—lebih terjangkau dalam beberapa tahun ke depan.
