Kelompok riset keamanan siber Dark Navy mengumumkan keberhasilan mereka memperoleh akses root pada sejumlah unit Galaxy S26 yang menggunakan chipset Exynos 2600. Yang menarik, exploit ini dikembangkan dengan bantuan kecerdasan buatan melalui dialog bahasa alami — sebuah pendekatan yang belum pernah terlalu disorot sebelumnya dalam komunitas riset keamanan Android.

Apa yang Berhasil Dilakukan Dark Navy?

Melalui unggahan di platform X, Dark Navy menyatakan secara eksplisit:

"We obtained root privilege on the S26 (Exynos 2600 Chipset), the latest flagship smartphone from Samsung."

Exploit ini dapat dipicu dari konteks aplikasi biasa — artinya tidak memerlukan akses fisik khusus ke perangkat. Lebih jauh, peneliti dari kelompok yang sama juga mengonfirmasi bahwa Magisk, alat manajemen root yang populer di komunitas Android, berhasil dijalankan di atas Galaxy S26 varian Exynos tersebut.

Perlu dicatat, judul sumber asli menyebut "some Galaxy S26 models", sehingga cakupan model yang terdampak belum sepenuhnya jelas. Apakah Galaxy S26 non-Exynos turut terpengaruh, belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasinya.

Dikembangkan dengan Bantuan AI: Tren Baru Riset Keamanan

Salah satu aspek paling signifikan dari laporan ini bukan sekadar keberhasilan root-nya, melainkan cara exploit tersebut dibuat. Dark Navy menyebut bahwa proses pengembangannya melibatkan "beberapa sesi dialog bahasa alami" bersama AI.

Ini mengisyaratkan pergeseran metodologi dalam riset keamanan: pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis mendalam dan waktu analisis yang panjang, kini sebagian prosesnya dapat dipandu melalui interaksi berbasis teks dengan model AI. Rekaman video yang dipublikasikan memperlihatkan exploit dipicu melalui antarmuka aplikasi sederhana.

Bagi komunitas keamanan siber di Indonesia maupun global, ini menjadi sinyal bahwa hambatan masuk ke dunia riset eksploitasi sistem sedang berubah — baik untuk tujuan riset yang sah maupun potensi penyalahgunaan.

Spesifikasi Exynos 2600 dan Strategi Distribusinya

Exynos 2600 adalah prosesor mobile pertama di industri yang diproduksi dengan proses 2nm GAA, dan menjadi andalan Samsung untuk lini Galaxy S26. Berikut spesifikasi utamanya:

KomponenDetail
Proses fabrikasi2nm GAA
Konfigurasi CPUCortex-C1 Ultra 3,8GHz ×1 / C1 Pro 3,25GHz ×3 / C1 Pro 2,75GHz ×6
GPUXclipse 960
Peningkatan performaCPU +39% dan GPU 2× dibanding generasi sebelumnya

Dari sisi distribusi, Galaxy S26 dan Galaxy S26+ diperkirakan menggunakan Exynos 2600 di sebagian besar wilayah global — termasuk kawasan Asia Tenggara — kecuali Kanada, China, dan Amerika Serikat yang mendapat Snapdragon. Sementara Galaxy S26 Ultra disebut akan menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 secara global.

Artinya, pengguna Galaxy S26 dan S26+ di Indonesia kemungkinan besar akan mendapatkan unit berchip Exynos 2600 — menjadikan temuan ini relevan secara langsung bagi pasar lokal.

Knox, e-Fuse, dan Mengapa Root Tidak Sesederhana Kelihatannya

Samsung telah membangun lapisan keamanan berlapis pada perangkatnya, dan ini yang membuat keberhasilan Dark Navy menjadi perhatian. Sistem Samsung Knox bekerja dengan mekanisme e-fuse: begitu perangkat mendeteksi boot path yang tidak ditandatangani Samsung, atau aktivitas root, fuse akan terpicu secara permanen.

Konsekuensinya tidak bisa dibalik:

  • Knox Workspace tidak dapat dibuat atau diakses kembali setelah e-fuse aktif
  • Secure Folder dan Samsung Pay akan berhenti berfungsi
  • Sejumlah aplikasi perbankan yang menggunakan Knox Attestation API akan menolak berjalan

Di sisi runtime, Samsung juga menggunakan Realtime Kernel Protection (RKP) dan Periodic Kernel Measurement (PKM) untuk mendeteksi dan memblokir modifikasi kernel secara aktif. Pada Knox versi 2026, Samsung bahkan mengintegrasikan modul pertahanan berbasis AI yang mampu mengidentifikasi pola system call yang mencurigakan langsung di perangkat.

Dengan kata lain, meski exploit ini berhasil didemonstrasikan, jalur dari "berhasil di lab" menuju "dapat digunakan secara luas oleh pengguna umum" masih sangat panjang dan penuh hambatan teknis.

Tiga Risiko yang Perlu Dipahami Sebelum Mencoba

Bagi siapa pun yang tergoda untuk mencoba exploit ini — terutama pengguna Galaxy S26 Exynos di Indonesia — ada tiga hal mendasar yang harus dipertimbangkan:

  1. Garansi hangus: Modifikasi sistem di luar prosedur resmi umumnya membatalkan garansi perangkat dari Samsung maupun distributor resmi seperti Samsung Indonesia.
  2. Risiko keamanan berlipat: Akses root membuka seluruh lapisan sistem. Jika aplikasi berbahaya berhasil masuk, dampaknya jauh lebih besar dibanding pada perangkat yang tidak di-root.
  3. Kompatibilitas aplikasi terbatas: Banyak aplikasi perbankan dan dompet digital — termasuk yang populer di Indonesia seperti BCA Mobile, Livin' by Mandiri, hingga GoPay — mendeteksi status root dan menolak berjalan, meski Magisk dapat membantu sebagian kasus.

Samsung hampir pasti akan merespons dengan pembaruan keamanan untuk menutup celah ini. Pengguna yang mengutamakan keamanan dan fungsionalitas sehari-hari disarankan untuk tidak mengambil tindakan apa pun dan menunggu patch resmi.

Sumber