Samsung Galaxy A57 5G hadir dengan desain yang lebih tipis dan ringan dari pendahulunya, dilengkapi jaminan pembaruan perangkat lunak selama enam tahun. Namun setelah satu bulan pengujian intensif, Android Authority memberikan nilai 7 dari 10 — dan menahan diri untuk merekomendasikannya secara penuh. Penyebab utamanya: chip Exynos 1680 yang rentan panas, ditambah harga $549,99 (sekitar Rp 8.900.000 atau setara US$550) yang terlalu dekat dengan kompetitor yang lebih bertenaga.
Desain Tipis 6,9mm dan Ketahanan IP68 Jadi Nilai Jual Utama
Dari sisi fisik, Galaxy A57 5G memang menawarkan peningkatan nyata. Dimensinya 161,5 x 76,8 x 6,9mm dengan bobot 179g — 20g lebih ringan dan 0,6mm lebih tipis dibanding Galaxy A56 5G. Material bodi memadukan kaca dan metal, dengan Gorilla Glass Victus Plus di bagian depan maupun belakang. Dalam pengujian, perangkat ini dilaporkan bertahan tanpa kerusakan meski terjatuh beberapa kali selama perjalanan.
Peningkatan signifikan lainnya adalah sertifikasi ketahanan air dari IP67 ke IP68, yang berarti perangkat mampu bertahan di kedalaman 1,5 meter selama 30 menit. Tersedia dalam empat pilihan warna: Navy, Icy Blue, Gray, dan Lilac — meski ketersediaan warna bisa bervariasi tergantung wilayah.
Layar AMOLED Memuaskan, Exynos 1680 Jadi Batu Sandungan
Panel 6,7 inci Super AMOLED Plus dengan resolusi 1.080 x 2.340 piksel, refresh rate 120Hz, dan dukungan HDR10+ tampil memuaskan untuk penggunaan sehari-hari. Kecerahan puncaknya mencapai 1.900 nits, sehingga konten tetap terbaca di bawah sinar matahari dalam kondisi normal.
Masalah muncul pada chip Exynos 1680 — pembaruan kecil dari Exynos 1580 yang digunakan di A56. Dalam pengujian, perangkat mengalami thermal throttling yang cukup mengganggu. Saat digunakan untuk navigasi Android Auto dalam waktu lama, layar menjadi sulit dibaca di bawah sinar matahari langsung meski suhu udara hanya sekitar 21°C. Di kesempatan lain, kamera selfie video mengalami keterlambatan respons sentuh 2–3 detik.
"Setelah menghubungkan kabel Android Auto, perangkat hampir tidak merespons sama sekali," ujar Rushil Agrawal dari Android Authority.
Kondisi tersebut berlanjut hingga 20 menit setelah kabel dicabut, dengan waktu buka aplikasi mencapai 5–6 detik. Perlu dicatat, ini bukan sekadar masalah sesaat — pola serupa pernah ditemukan pada ponsel Samsung berbasis Exynos generasi sebelumnya, dan menjadi pertanyaan besar soal performa jangka panjang dua hingga tiga tahun ke depan.
Kamera Cukup untuk Media Sosial, Baterai 5.000 mAh Tahan Seharian
Konfigurasi kamera belakang terdiri dari 50MP (utama) + 12MP (ultrawide) + 5MP (makro), serta kamera depan 12MP. Kamera utama tampil solid dalam kondisi cahaya rendah maupun kontras tinggi — hasilnya memadai untuk kebutuhan media sosial. Sayangnya, kamera ultrawide cenderung menghasilkan foto yang lembek dan berisik di kondisi pencahayaan kurang ideal, sementara kamera makro dinilai tidak mengalami peningkatan berarti dibanding enam hingga tujuh generasi sebelumnya.
Untuk video, baik kamera belakang maupun depan hanya mendukung 4K pada 30fps; resolusi 1080p baru bisa mencapai 60fps.
Baterai 5.000mAh mampu bertahan seharian penuh dengan penggunaan normal, dengan screen-on time 5,5–6 jam sebelum menyentuh 15%. Pengisian daya kabel 45W (USB Power Delivery) mengisi dari 0% ke penuh dalam sekitar 1 jam 15 menit, atau 60% dalam 30 menit. Satu kekurangan yang cukup mencolok: tidak ada pengisian nirkabel, padahal kompetitor di segmen ini sudah banyak yang mendukung fitur tersebut.
Di sisi perangkat lunak, A57 5G menjalankan Android 16 dengan antarmuka One UI 8.5 — versi terbaru yang sebelumnya hadir di Galaxy S26 series. Jaminan enam tahun pembaruan OS dan keamanan menjadi daya tarik besar. Namun perlu dicatat, perangkat ini tidak mendukung Samsung DeX maupun fitur Galaxy AI secara penuh; hanya tersedia fitur terbatas seperti Best Face, AI Select, dan Object Eraser.
Harga Rp 8,9 Juta Terlalu Dekat dengan Kompetitor yang Lebih Unggul
Di sinilah persoalan terbesar Galaxy A57 5G. Dengan harga MSRP $549,99 (sekitar Rp 8.900.000), selisihnya dengan Galaxy S25 FE yang dibanderol $534,99 (sekitar Rp 8.700.000) hanya sekitar Rp 200.000 — padahal S25 FE menawarkan prosesor lebih kencang, lensa telefoto, dan pengisian nirkabel. Bahkan S25 FE dilaporkan sudah mulai turun harga hingga mendekati atau di bawah harga A57 5G.
Alternatif lain yang patut dipertimbangkan adalah Pixel 10a seharga $499 (sekitar Rp 8.100.000), yang hadir dengan chip Tensor sekelas flagship, pengisian nirkabel, dan jaminan tujuh tahun pembaruan — satu tahun lebih panjang dari A57 5G.
Kesimpulan Android Authority cukup tegas: A57 5G layak dipertimbangkan jika harganya turun di bawah $500 (sekitar Rp 8.100.000), tetapi pada harga penuh, Galaxy S25 FE atau Pixel 10a menjadi pilihan yang lebih rasional.
Bagi konsumen di Indonesia, informasi rilis resmi Galaxy A57 5G untuk pasar lokal belum diumumkan. Namun mengingat Samsung secara konsisten memasarkan seri Galaxy A di Indonesia melalui kanal resmi seperti Samsung Experience Store dan Erafone, perangkat ini berpotensi hadir dengan penyesuaian harga regional. Sebagai gambaran, jika harganya mengikuti tren ASEAN, angka di kisaran Rp 7–8 juta akan menjadikannya lebih kompetitif — tetapi pada harga penuh, pertimbangkan dulu alternatif yang ada sebelum memutuskan.
