Bagi pembaca digital yang merasa terkekang oleh ekosistem tertutup Kindle, BOOX Go 10.3 Gen II hadir sebagai salah satu alternatif paling menarik di 2026. Tablet E-Ink 10,3 inci ini menggabungkan layar ePaper monokrom tajam dengan fleksibilitas Android 15 dan dukungan stylus aktif — kombinasi yang sulit ditemukan di kelas harga yang sama.

Layar Monokrom yang Fokus pada Kualitas Baca

BOOX Go 10.3 Gen II tidak mengikuti tren layar E-Ink berwarna. Sebaliknya, perangkat ini berkomitmen penuh pada panel E Ink Carta 1200 monokrom berukuran 10,3 inci dengan resolusi 2.480 × 1.860 piksel dan kerapatan 300 PPI — angka yang setara dengan buku cetak berkualitas tinggi.

Spesifikasi utama perangkat ini meliputi:

  • Layar: 10,3 inci E Ink Carta 1200, 300 PPI
  • OS: Android 15
  • Prosesor: Octa-core
  • RAM / Penyimpanan: 4 GB / 64 GB
  • Baterai: 3.700 mAh
  • Stylus: Active InkSense Plus
  • Bobot: 360 g (standar) / 364 g (Lumi)
  • Ketebalan: 4,6 mm (standar) / 4,8 mm (Lumi)

Model standar tidak dilengkapi frontlight, sehingga tampilan layar terasa lebih dekat ke kertas fisik. Menurut ulasan Kaitlyn Cimino dari Android Authority, respons layar untuk aktivitas membaca, anotasi PDF, dan penelusuran artikel web sudah "lebih dari cukup responsif." Latensi stylus pun diklaim hampir tidak terasa meski tanpa mekanisme refresh khusus seperti yang ada di seri BOOX kelas atas.

Kebebasan Membaca Berkat Android dan Play Store

Inilah keunggulan utama BOOX Go 10.3 Gen II dibanding Kindle: karena berbasis Android, pengguna dapat menginstal aplikasi apa pun dari Play Store. Artinya, aplikasi Kindle, Google Play Books, Libby, Pocket, hingga berbagai aplikasi catatan dapat berjalan dalam satu perangkat.

Format file yang didukung secara native juga sangat luas: EPUB, PDF, komik, dokumen Word, file presentasi, hingga arsip terkompresi. Pengguna tidak perlu lagi bergantung pada alat konversi atau solusi cloud yang merepotkan.

Perlu dicatat, fleksibilitas ini ada harganya. Reviewer mencatat beberapa kelemahan pada sisi perangkat lunak:

  • Antarmuka BOOX terasa seperti "Android yang dipaksakan ke layar E-Ink," bukan dioptimalkan dari awal untuk E-Ink
  • Menu cenderung padat dan beberapa aplikasi memerlukan penyesuaian pengaturan refresh layar secara manual
  • Dibanding kesederhanaan Kindle atau reMarkable, kurva belajar BOOX lebih curam

Bagi pengguna Indonesia yang sudah terbiasa dengan ekosistem Google — mengakses Tokopedia, Shopee, atau membaca dokumen kerja dalam format PDF dan Word — kemampuan multitasking BOOX ini bisa menjadi nilai tambah yang signifikan.

Stylus Active InkSense Plus: Nyaman, tapi Ada Catatan

Pengalaman menulis tangan di BOOX Go 10.3 Gen II digambarkan "terasa natural," dengan tekstur permukaan layar yang mencegah sensasi terlalu licin seperti pada iPad. Namun reviewer juga menyampaikan sejumlah kritik yang perlu dipertimbangkan:

  • Stylus menggunakan baterai aktif, sehingga ada risiko kehabisan daya tanpa disadari
  • Daya magnet untuk menempelkan stylus ke bodi dinilai "tidak buruk, tapi tidak cukup aman untuk dibawa tanpa casing folio"
  • Casing folio bawaan dinilai kurang memuaskan untuk harga di kelasnya, dan klip magnetis penutupnya berisiko hilang

Reviewer menyatakan "belum sepenuhnya puas" dengan keputusan menggunakan stylus aktif berbaterai. Bagi pengguna yang menginginkan perangkat minim perawatan, ini adalah pertimbangan serius.

Perbandingan Harga: Standar vs Lumi, dan Posisi di Pasar 2026

BOOX Go 10.3 Gen II resmi diluncurkan pada 17 Maret 2026 dalam dua varian:

VarianHargaFrontlightBobot
Standar$399,99 (sekitar Rp 6.500.000)Tidak ada360 g
Lumi$449,99 (sekitar Rp 7.300.000)Dual warm/cool, 32 level364 g

Model Lumi menambahkan lapisan frontlight dengan pengaturan suhu warna hangat dan dingin hingga 32 tingkat. Namun, lapisan tambahan ini menciptakan sedikit celah udara antara kaca dan panel, yang pada sudut tertentu dapat memunculkan bayangan tipis di tepi layar. Jangkauan suhu warna Lumi juga disebut lebih sempit dibanding kompetitor, sehingga tidak sepenuhnya mencapai warna hangat yang dalam untuk membaca malam hari.

Sebagai gambaran, berikut posisi BOOX Go 10.3 Gen II di antara kompetitor utama di 2026:

  • Kindle Scribe (monokrom): mulai $400 (sekitar Rp 6.500.000)
  • Kindle Scribe Colorsoft: $629 (sekitar Rp 10.200.000)
  • reMarkable Paper Pro: $629 (sekitar Rp 10.200.000)
  • reMarkable Paper Pro Move: $429 (sekitar Rp 6.970.000)

Dengan harga $399,99, BOOX Go 10.3 Gen II bersaing langsung dengan Kindle Scribe monokrom — namun menawarkan kebebasan Android yang tidak dimiliki Kindle. Jika ekosistem tertutup Amazon bukan masalah bagi Anda, Kindle Scribe tetap pilihan yang lebih sederhana. Namun jika Anda ingin satu perangkat untuk membaca dari berbagai platform, menganotasi PDF kerja, dan mencatat dengan stylus, BOOX menjadi kandidat kuat.

Panduan Memilih: Tiga Pertanyaan Sebelum Membeli

Sebelum memutuskan, ada tiga pertanyaan kunci yang perlu dijawab:

  1. Apakah Anda sering membaca di tempat gelap? Jika ya, pilih varian Lumi. Jika tidak, model standar memberikan tampilan lebih bersih dan harga lebih hemat Rp 800.000.
  2. Apakah Anda keberatan mengisi daya stylus secara berkala? Jika tidak, Active InkSense Plus menawarkan pengalaman menulis yang memuaskan. Jika ya, pertimbangkan kompetitor dengan stylus pasif.
  3. Seberapa besar toleransi Anda terhadap antarmuka yang kompleks? BOOX membutuhkan sedikit waktu untuk dikonfigurasi. Jika Anda menginginkan perangkat yang langsung bisa dipakai tanpa banyak pengaturan, Kindle atau reMarkable lebih cocok.

Informasi ketersediaan resmi BOOX Go 10.3 Gen II untuk pasar Indonesia belum diumumkan secara resmi. Namun perangkat ini umumnya dapat diperoleh melalui importir resmi atau platform e-commerce lintas batas. Konsumen Indonesia yang tertarik disarankan memantau ketersediaan di Tokopedia atau Shopee dari penjual terpercaya, sambil memperhitungkan biaya impor yang dapat menambah harga akhir secara signifikan.

Sumber