Banyak pengguna YouTube melaporkan bahwa rekomendasi video yang muncul di beranda terasa semakin tidak relevan sepanjang 2026. Andy Walker, jurnalis Android Authority, membagikan lima strategi yang ia terapkan sendiri untuk "melatih ulang" algoritma YouTube agar kembali menampilkan konten yang sesuai minat.
Seberapa Buruk Rekomendasi YouTube Menurut Pengguna?
Dalam artikel yang diterbitkan Walker, sebuah polling pembaca mengumpulkan 96 suara dengan hasil yang cukup mengkhawatirkan. Hanya 4% responden yang menilai rekomendasi YouTube sebagai Excellent (selalu sesuai minat), sementara 17% memberikan nilai Good. Mayoritas, yakni 44%, memilih Fair atau "kadang cocok, kadang tidak."
Yang lebih mencolok, gabungan jawaban negatif — Poor (21%) dan Terrible (15%) — mencapai sekitar 36%. Artinya, lebih dari sepertiga pengguna merasa rekomendasi YouTube sudah jauh meleset dari ekspektasi mereka.
Keluhan yang paling sering muncul di berbagai forum adalah munculnya video yang sudah pernah ditonton berulang kali, serta rekomendasi yang sama sekali tidak berkaitan dengan riwayat tontonan atau channel yang diikuti.
5 Cara Memperbaiki Rekomendasi YouTube Versi Andy Walker
Walker menegaskan bahwa algoritmanya hanya bisa bekerja berdasarkan tiga sinyal utama: riwayat tontonan, channel yang diikuti, dan riwayat pencarian. Oleh karena itu, cara paling efektif untuk memperbaiki rekomendasi adalah dengan mengelola ketiga sinyal tersebut secara aktif.
1. Jaga akun utama hanya untuk konten yang benar-benar disukai
Jangan gunakan akun utama untuk "mencoba-coba" channel yang belum tentu cocok. Jika ingin mengeksplorasi konten baru, gunakan mode penyamaran (incognito) atau akun terpisah terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berlangganan.
2. Gunakan kolom pencarian sebagai sinyal minat
Topik yang memang menjadi ketertarikan utama sebaiknya aktif dicari melalui kolom pencarian. Walker mencontohkan dirinya yang kerap mencari frasa seperti "gardening tips" atau "balcony gardening strategies" karena memang tertarik pada berkebun. Namun, ia mengingatkan agar tidak menggunakan pencarian untuk topik yang hanya ingin diketahui sekilas, karena hal itu tetap akan memengaruhi rekomendasi.
3. Tonton konten "di luar minat" di ruang terpisah
Video yang dikirim teman, musik video, atau konten yang ditonton sekadar iseng sebaiknya ditonton melalui mode penyamaran atau akun sekunder. Ini mencegah sinyal yang tidak relevan masuk ke akun utama dan mengacaukan rekomendasi.
4. Rutin evaluasi daftar channel yang diikuti
Setiap beberapa bulan sekali, tinjau kembali daftar langganan. Channel yang sudah lama tidak ditonton sebaiknya dihapus. Sebaliknya, jika ada channel favorit yang sudah lama tidak muncul di rekomendasi, coba tonton satu atau dua videonya secara sengaja untuk "memanggil kembali" channel tersebut ke dalam algoritma.
5. Prioritaskan tombol "suka" daripada "tidak tertarik"
Menurut pengamatan Walker, memberikan like pada video yang disukai memiliki dampak lebih besar terhadap rekomendasi dibandingkan menekan tombol "Tidak tertarik." Ia mengakui bahwa ini berdasarkan pengalaman pribadi, bukan data yang terverifikasi. Pengecualian berlaku untuk channel yang banyak memuat konten buatan AI — untuk kasus ini, ia menyarankan penggunaan fitur Report.
Apa yang Berubah dari Algoritma YouTube di 2026?
Perubahan yang dirasakan pengguna bukan sekadar persepsi. Pada 14 Januari 2026, Google melakukan pembaruan terbesar pada sistem rekomendasi YouTube sejak 2012. Pembaruan ini mengintegrasikan Gemini langsung ke dalam arsitektur rekomendasi, yang berarti cara platform menilai dan mendistribusikan konten dibangun ulang dari nol.
Pada Februari 2026, YouTube mengonfirmasi bahwa mesin rekomendasinya kini memprioritaskan "sinyal kepuasan" di atas durasi tontonan mentah. Kepuasan diukur melalui berbagai indikator: tombol suka, berbagi, menyimpan video, berpindah ke video berikutnya dalam channel yang sama, hingga respons terhadap survei kepuasan berkala.
Selain itu, Google tengah menguji fitur bernama Your Custom Feed yang memungkinkan pengguna terpilih untuk menyesuaikan rekomendasi beranda melalui perintah teks (prompt). Fitur ini diumumkan pada November 2025 dan masih dalam tahap eksperimen.
Masalah Konten AI dan "Slop" yang Membanjiri YouTube
Salah satu faktor yang turut memperburuk pengalaman rekomendasi adalah meledaknya konten buatan AI berkualitas rendah, yang kerap disebut slop. YouTube telah menghapus 16 channel slop besar yang secara kolektif memiliki 35 juta pelanggan, 4,7 miliar penayangan, dan pendapatan iklan tahunan sekitar $9,8 juta (sekitar Rp 159.000.000.000).
Riset menunjukkan bahwa 21% konten Shorts yang muncul di akun baru merupakan konten AI slop. CEO YouTube menyebut pemberantasan konten jenis ini sebagai prioritas utama di 2026. Perlu dicatat, YouTube tidak melarang penggunaan AI secara keseluruhan — yang menjadi target adalah konten yang diproduksi massal tanpa keterlibatan kreatif manusia.
Jika Semua Cara Gagal: Reset Total Riwayat Tontonan
Apabila kelima langkah di atas dirasa belum cukup karena akun sudah terlalu "terkontaminasi" oleh sinyal yang tidak relevan, Walker menyarankan langkah terakhir: hapus seluruh riwayat tontonan. Langkah ini bisa dikombinasikan dengan menghapus langganan channel satu per satu untuk memulai dari awal secara lebih menyeluruh.
Bagi pengguna di Indonesia yang menghabiskan banyak waktu di YouTube — baik untuk hiburan, edukasi, maupun mengikuti kreator lokal — tips ini sangat relevan untuk diterapkan. Mengingat ekosistem kreator Indonesia yang kini semakin ramai, menjaga akun utama tetap "bersih" dari sinyal yang tidak relevan akan membantu algoritma menampilkan konten dari kreator yang memang ingin Anda ikuti.
