Samsung baru-baru ini mengajukan paten untuk ponsel rollable dengan desain yang belum pernah ada sebelumnya: layar yang sepenuhnya tersembunyi di dalam bodi saat tidak digunakan, baru muncul ketika kedua sisi perangkat ditarik keluar. Paten ini ditemukan oleh WearView dan dilaporkan oleh Android Authority, mencerminkan bahwa Samsung terus mengeksplorasi bentuk faktor baru di luar lini Galaxy Z Fold dan Z Flip.
Perlu dicatat, ini masih tahap paten dan belum ada konfirmasi produk komersial.
Dua Konsep dalam Satu Paten
Dokumen paten yang diajukan pada 2 Juni 2023 — namun baru terungkap publik pada Mei 2026 — memuat dua ide berbeda:
Konsep pertama menggambarkan ponsel berpenampilan konvensional yang layarnya dapat diperluas ke arah horizontal. Saat ditarik, tampilan melebar hingga mendekati ukuran layar dalam Galaxy Z Fold 7 — memberikan area tampilan yang luas tanpa harus membuka engsel seperti pada ponsel lipat.
Konsep kedua adalah yang paling menarik perhatian: struktur dua bagian di mana layar sama sekali tidak terlihat ketika perangkat dalam kondisi tertutup. Pengguna harus menarik kedua ujung bodi agar layar muncul dari dalam. Samsung sendiri menyatakan dalam dokumen paten bahwa tujuan desain ini adalah "mengurangi kerusakan pada modul display." Dengan layar yang tidak pernah terekspos saat tidak digunakan, risiko goresan di saku atau kerusakan akibat benturan secara struktural dapat diminimalkan — sebuah pendekatan yang berbeda dari ponsel lipat konvensional.
Sensor Canggih untuk Mengontrol Tampilan
Paten ini juga merinci sistem sensor yang akan mengatur perilaku layar. Menurut keterangan Samsung dalam dokumen tersebut, perangkat akan dilengkapi sensor yang mampu mendeteksi seberapa jauh layar telah ditarik keluar serta kecepatan tarikannya. Informasi ini kemudian digunakan untuk menyesuaikan tampilan antarmuka, aplikasi, dan konten secara otomatis sesuai ukuran layar yang aktif.
Android Authority mencatat bahwa perilaku yang digambarkan dalam diagram paten ini "secara teori" memungkinkan, meski belum diverifikasi pada perangkat nyata.
Kamera yang Ikut Bergeser — Solusi untuk Bodi Tipis
Salah satu detail teknis yang paling banyak disorot adalah desain kamera pada konsep pertama (horizontal slide). Diagram dalam paten menunjukkan kamera belakang yang ikut bergerak bersama mekanisme geser layar, bukan terpasang tetap di bodi utama. Pendekatan ini dinilai sebagai solusi cerdas untuk mempertahankan profil bodi yang tipis — sebuah tantangan besar dalam desain ponsel dengan layar yang dapat diperluas.
Sebagai gambaran, ponsel lipat seperti Galaxy Z Fold 6 memiliki ketebalan sekitar 12,1 mm saat terlipat. Desain rollable dengan kamera geser berpotensi menawarkan profil yang lebih ramping, meski ini masih sebatas klaim di atas kertas.
Perlu dicatat pula, seorang leaker terpercaya sebelumnya menyebut bahwa Samsung tengah mengembangkan prototipe ponsel slide — memperkuat indikasi bahwa konsep ini bukan sekadar eksplorasi di atas kertas.
Persaingan Rollable: Samsung Bukan Satu-satunya Pemain
Segmen rollable bukan hanya dikejar Samsung. Berikut gambaran kondisi industri saat ini:
| Produsen | Status | Catatan |
|---|---|---|
| Samsung (MWC 2026) | Dalam pengembangan | Memanjang ke atas, resolusi 1.080×2.640 FHD+, 426 ppi |
| LG | Prototipe, belum dirilis | Luas layar bertambah sekitar 40% |
| Motorola / Oppo | Tahap konsep | Belum ada pengiriman massal |
Di MWC 2026, Samsung memperlihatkan perangkat slidable yang memanjang ke arah vertikal dari bagian atas, dengan resolusi penuh 1.080×2.640 FHD+ dan kerapatan 426 ppi. Perangkat itu ditampilkan dengan label "dalam pengembangan" — bukan produk siap jual.
Ars Technica sebelumnya melaporkan bahwa prototipe LG mampu memperluas area tampilan hingga 40% tanpa ketebalan tambahan seperti pada ponsel lipat. Daya tarik inilah yang membuat berbagai produsen terus mengejar konsep ini. Namun hingga kini, tidak satu pun yang berhasil membawa ponsel rollable ke pasar secara massal — menunjukkan betapa tingginya hambatan teknis dan produksi yang masih harus diatasi.
Apa Artinya bagi Konsumen di Indonesia?
Untuk saat ini, dampak langsung bagi konsumen di Indonesia masih sangat terbatas. Ini adalah paten, bukan pengumuman produk. Android Authority sendiri mengingatkan bahwa perusahaan secara rutin mengajukan paten untuk ide-ide yang tidak pernah berujung pada produk komersial.
Yang dapat disimpulkan adalah Samsung secara konsisten mengalokasikan sumber daya riset untuk mengeksplorasi bentuk faktor di luar lipat konvensional. Jika suatu saat ponsel rollable ini benar-benar diproduksi massal, harganya kemungkinan akan berada di segmen premium — mengingat Galaxy Z Fold 6 saja dijual mulai sekitar $1.899 (sekitar Rp 30.800.000) di pasar global. Bagi konsumen di Indonesia yang mengikuti perkembangan ini, langkah terbaik saat ini adalah menunggu pengumuman resmi dari Samsung sebelum mengambil keputusan apapun.
Sumber
- Android Authority — Samsung hasn't given up on rollable phones, and its new ideas are wild
- Notebookcheck — Samsung's sliding/rollable phone could have a unique camera design for slimmer profile
- Android Headlines — Samsung's Wild Rollable Phone Patent Shows an Ingenious Hidden Camera Trick
