Apple dilaporkan menggandakan target pengiriman MacBook Neo untuk tahun 2026, dari semula 5 juta unit menjadi 10 juta unit. Laporan dari analis ternama Ming-Chi Kuo ini menegaskan bahwa laptop berbasis chip A18 Pro dengan harga US$599 (sekitar Rp 9.733.000) tersebut terjual jauh di atas ekspektasi awal Apple. Menariknya, Kuo menilai bahwa faktor pendorong utama bukanlah kemampuan AI on-device, melainkan harga, desain, dan ekosistem.

Target Pengiriman Naik 100% Jadi 10 Juta Unit

Berdasarkan investigasi rantai pasok yang dilakukan Kuo dan dipublikasikan oleh VideoCardz, Apple telah merevisi rencana pengiriman MacBook Neo untuk 2026 dari 5 juta menjadi sekitar 10 juta unit — kenaikan sekitar 100% dari proyeksi sebelumnya. Sebelumnya Kuo memperkirakan angka pengiriman pada kisaran 4,5 hingga 5 juta unit, sehingga revisi ini menandai lonjakan yang sangat signifikan.

Kuo juga memberikan pandangan yang berlawanan dengan narasi mainstream industri PC. Menurutnya, kesuksesan MacBook Neo menjadi bukti bahwa konsumen tahun 2026 lebih mengapresiasi nilai dari sisi harga, desain, dan integrasi ekosistem ketimbang performa komputasi AI on-device yang gencar dipromosikan vendor lain.

"Buyers are paying for price, design, and ecosystem, not for on-device AI compute." — Ming-Chi Kuo

Pernyataan ini menjadi catatan penting di tengah euforia "AI PC" yang sedang dikampanyekan banyak produsen, termasuk yang mengandalkan NPU Snapdragon X dan Intel Core Ultra.

Tim Cook Akui Permintaan "Off the Charts"

Pengamatan Kuo selaras dengan komentar resmi Apple. Dalam earnings call akhir April 2026, CEO Tim Cook menggambarkan respons pelanggan terhadap MacBook Neo sebagai "off the charts". Cook bahkan mengakui bahwa Apple sendiri "undercalled" alias meremehkan proyeksi permintaan awal, dan menyebut MacBook Neo berhasil menarik jumlah pembeli Mac pemula (first-time buyer) terbesar sepanjang sejarah.

Sebagai gambaran, berikut spesifikasi resmi MacBook Neo generasi pertama:

ItemMacBook Neo (Model Saat Ini)
Tanggal RilisMaret 2026
Harga ASUS$599 (sekitar Rp 9.733.000)
Harga EdukasiUS$499 (sekitar Rp 8.108.000)
ChipA18 Pro
CPU6-core
GPU5-core
Neural Engine16-core
Memori8GB unified memory

Kombinasi harga di bawah US$600 dan ekosistem Apple jelas membuka segmen baru: konsumen yang selama ini menginginkan Mac murah, sekaligus pengguna Windows atau Chromebook yang ingin beralih.

Neo 2 Diprediksi Hadir dengan A19 Pro dan RAM 12GB

Kuo turut membocorkan rencana generasi penerus, MacBook Neo 2, yang diperkirakan rilis tahun depan. Generasi kedua ini akan mengusung chip A19 Pro dan RAM yang ditingkatkan dari 8GB menjadi 12GB.

Namun ada pembaruan menarik: rumor sebelumnya yang menyebut Neo 2 akan mendukung layar sentuh kini disebut "kemungkinan tidak masuk roadmap" berdasarkan investigasi rantai pasok terbaru. Dengan kata lain, rencana touchscreen di lini Neo tampaknya ditarik kembali, meski spesifikasi final masih bisa berubah.

Perbandingan dengan NVIDIA N1 non-X

VideoCardz juga memberikan konteks terhadap kompetitor potensial dari kubu chip ARM Windows. Mereka berpandangan bahwa NVIDIA N1 non-X — chip yang dikabarkan akan menyasar segmen menengah — sulit dianggap pesaing langsung MacBook Neo, karena harganya diperkirakan setidaknya tiga kali lipat. Lebih jauh lagi, N1 non-X sendiri merupakan varian cut-down dari versi full-fledged.

Artinya, di kisaran harga US$599 (sekitar Rp 9.733.000), MacBook Neo praktis tidak memiliki pesaing seimbang dari sisi performa chip Apple Silicon plus integrasi ekosistem macOS dan iCloud.

Rantai Pasok Berbenah: Pemasok Baru "Sunny" Bergabung

Penggandaan target produksi tidak mungkin tercapai tanpa penataan ulang rantai pasok. AppleInsider melaporkan bahwa Apple telah menginstruksikan pemasok untuk menjalankan production run tambahan chip A18 Pro guna menggandakan kapasitas pasokan. Selain itu, pemasok baru bernama "Sunny" dikabarkan resmi bergabung ke dalam jaringan supplier Apple untuk membantu memenuhi lonjakan permintaan ini.

Beberapa poin penting dari sisi produksi:

  • Production run tambahan A18 Pro telah diperintahkan ke pemasok, melipatgandakan kapasitas suplai.
  • Mitra manufaktur di Taiwan dan Tiongkok bekerja ekstra untuk mengejar permintaan di luar perkiraan.
  • Pemasok baru "Sunny" memperluas jaringan procurement Apple.

Angka 10 juta unit yang ambisius ini hanya bisa terealisasi karena Apple melakukan restrukturisasi rantai pasok, bukan sekadar revisi angka di atas kertas.

Roadmap MacBook: Teknologi Baru Diberikan ke Pro Lebih Dulu

Berdasarkan roadmap yang diungkap Kuo, fitur-fitur baru seperti OLED dan layar sentuh justru akan lebih dulu hadir di lini atas MacBook Pro, bukan di Neo. MacRumors melaporkan bahwa MacBook Pro generasi berikutnya akan mengalami "major upgrade" pada akhir 2026 hingga awal 2027, dengan layar OLED, Dynamic Island, layar sentuh, serta chip M6 Pro/M6 Max.

ModelPerubahan UtamaPerkiraan Waktu
MacBook ProOLED, Touchscreen, Dynamic Island, M6 Pro/MaxAkhir 2026 – Awal 2027
MacBook AirLayar OLED2028 atau 2029
MacBook NeoTouchscreen diprioritaskan untuk lini Pro lebih dulu

Macworld juga mengonfirmasi pandangan Kuo bahwa fitur touchscreen tidak akan diberikan ke MacBook Neo, melainkan tetap menjadi differentiator MacBook Pro. Strategi segmentasi yang jelas ini menunjukkan bagaimana Apple memposisikan Neo sebagai entry-point ke ekosistem Mac, sementara Pro tetap menjadi flagship dengan teknologi termutakhir.

Implikasi bagi Konsumen di Indonesia

MacBook Neo belum resmi tersedia di Indonesia melalui jalur distributor seperti iBox, Digimap, atau eraspace, dan Apple belum mengumumkan jadwal peluangan resmi untuk pasar Indonesia. Namun, jika harga regional ASEAN mengikuti tren MSRP global, banderol unit resmi MacBook Neo di Indonesia diperkirakan akan berada di kisaran Rp 11–13 juta setelah PPN dan margin distributor — masih jauh lebih terjangkau dibanding MacBook Air M-series yang umumnya dibanderol di atas Rp 17 juta.

Bagi pengguna yang menanti laptop Apple dengan harga "masuk akal", MacBook Neo bisa menjadi opsi yang patut dipertimbangkan. Namun, perlu dicatat bahwa konfigurasi memori 8GB mungkin terasa terbatas untuk workload berat seperti video editing atau multitasking aplikasi profesional — pertimbangan yang penting untuk pasar Indonesia yang banyak memanfaatkan laptop sebagai mesin produktivitas serbaguna.

Sumber