Intel resmi membuka tirai SoC barunya untuk segmen gaming handheld, Arc G3 Extreme, bertepatan dengan gelaran Computex 2026 di Taipei. Lewat benchmark internal yang dipresentasikan ke media, Intel mengklaim chip ini mampu mengungguli AMD Ryzen Z2 Extreme rata-rata 42% pada konsumsi daya 35W, sekaligus menyamai performanya hanya dengan daya 17W. Jika klaim ini terbukti di pengujian independen, peta persaingan handheld Windows yang selama ini didominasi AMD bisa berubah drastis.

Benchmark Internal Intel: Unggul 42% di Adu 35W Lawan AMD

Wccftech mendapat kesempatan mencoba langsung tiga unit demo di Intel Handheld Suite Taipei, yaitu MSI Claw 8 EX AI+, OneXPlayer 3, dan Acer Predator Atlas 8. Ketiganya menggunakan Arc G3 Extreme dan diadu dengan ASUS ROG XBOX Ally X yang ditenagai Ryzen Z2 Extreme — SoC andalan AMD di segmen handheld saat ini.

Berikut data benchmark yang dipublikasikan Intel pada setting daya 35W. Perlu dicatat bahwa angka ini berasal dari pengujian internal vendor, sehingga sangat dipengaruhi oleh pemilihan driver dan optimasi tiap judul.

GameArc G3 ExtremeZ2 ExtremeSelisih
Cyberpunk 20779265+42%
Assassin's Creed Shadows8761+43%
Crimson Desert8459+42%
Call of Duty: Modern Warfare II9567+42%
Diablo IV8963+41%
Hollow Knight: Silksong9769+41%

Lebih dari seperempat judul yang diuji bahkan menunjukkan selisih di atas 50%, dan Intel memposisikan capaian ini sebagai "lompatan lintas generasi". Dibandingkan pendahulunya, Core Ultra 7 258V (Lunar Lake) pada 30W, Cyberpunk 2077 dilaporkan naik 127%, sedangkan Death Stranding 2 mencatat skor lebih dari dua kali lipat — meski Intel sendiri mengakui bahwa kasus kedua sangat terbantu optimasi driver untuk arsitektur Xe3.

Klaim Efisiensi Daya: 17W Setara 35W, 12W Tetap Unggul 37%

Bagi pengguna handheld, ketahanan baterai sering kali lebih krusial dibanding performa puncak. Di titik inilah Intel memasang argumen terkuatnya: Arc G3 Extreme pada setting 17W diklaim mampu mengimbangi Z2 Extreme yang berjalan di 35W. Artinya, performa yang sama dicapai dengan separuh konsumsi daya.

Pada perbandingan 12W, Arc G3 Extreme dilaporkan unggul rata-rata 37%. Wccftech sempat mengutip pernyataan Intel bahwa "Arc G3 Extreme mempertahankan 30FPS di tiap judul sementara Z2 Extreme jatuh di bawah 30FPS", namun tabel data 12W yang ditampilkan justru memperlihatkan Z2 Extreme tetap beroperasi di rentang 40–72FPS — sehingga klaim "selalu di bawah 30FPS" perlu ditanggapi dengan hati-hati.

Beberapa angka representatif pada mode hemat daya:

  • Battlefield 6: Arc G3 Extreme 72 / Z2 Extreme 52 (+38%)
  • Horizon Zero Dawn Remastered: 68 / 49 (+39%)
  • Red Dead Redemption 2: 55 / 40 (+38%)
  • Black Myth: Wukong: 62 / 45 (+38%)

Pada daya 17W yang sama, Arc G3 Extreme juga diklaim 24% lebih cepat dibanding Core Ultra 7 258V. Implikasinya: ketika baterai tersisa separuh, pemain masih bisa mendapatkan kenyamanan setara kondisi baterai penuh — sebuah janji yang sangat relevan untuk perangkat genggam.

XeSS 3 dan Multi-Frame Generation Jadi Pembeda Utama

Selain CPU dan GPU, Intel menonjolkan keunggulan teknologi upscaling dan frame generation. FSR 4 dan FSR 4.1 milik AMD disebut belum dapat dimanfaatkan pada iGPU berbasis RDNA 3.5, sehingga Z2 Extreme masih bergantung pada FSR versi lama. Sebaliknya, Arc G3 Extreme mendukung XeSS 3 dengan kemampuan multi-frame generation hingga 4x.

Wccftech menyebut frame pacing dalam mode frame generation terasa mulus, dan multi-frame generation mampu menggandakan FPS lebih jauh lagi. Detail teknis perbandingan langsung XeSS vs FSR pada Cyberpunk 2077 belum diungkap secara penuh oleh Intel pada sesi briefing ini.

Seberapa Jauh Klaim Ini Bisa Dipercaya?

Angka-angka di atas bukan bocoran dari leaker independen, melainkan data internal Intel yang dipresentasikan ke media. Sesi hands-on memang membuktikan keberadaan unit demo, tetapi pemilihan judul, setting grafis, dan versi driver sepenuhnya berada di tangan vendor. Wccftech sendiri secara eksplisit menyebut data ini sebagai "vendor-supplied" dan mengingatkan bahwa selisih performa yang ditunjukkan Intel maupun AMD lewat benchmark internal cenderung menyusut saat masuk siklus review independen.

Karakter perangkat handheld juga membuat angka akhir mudah berubah, karena tuning thermal, kontrol kipas, dan profil daya setiap pabrikan turut berperan besar. Validasi sejati baru akan datang setelah MSI Claw 8 EX AI+, OneXPlayer 3, dan Acer Predator Atlas 8 beredar dan diuji oleh reviewer netral.

Spesifikasi Lengkap Arc G3 Extreme: 14 Core Panther Lake dan iGPU Xe3

Berdasarkan rilis spesifikasi lengkap dari Intel, Arc G3 Extreme dibangun di atas arsitektur Core Ultra Series 3 (Panther Lake) dengan konfigurasi 14 core: 2 P-core, 8 E-core, dan 4 LP E-core, dengan boost CPU hingga 4,7GHz.

KomponenSpesifikasi
CPU14 core (2P+8E+4LPE), hingga 4,7GHz
GPUIntel Arc B390 / 12 Xe3 core, hingga 2,3GHz
MemoriLPDDR5X-8533, hingga 96GB
NPU46 PTOPS
Configurable TDP8–35W
Cache12MB Intel Smart Cache

Rentang cTDP 8–35W yang lebar memberi keleluasaan bagi OEM untuk menyesuaikan profil termal dan kapasitas baterai sesuai desain bodi. Intel menyatakan pengiriman perangkat berbasis Arc G-Series ke mitra OEM dimulai Juni 2026, dengan ekspansi lini produk sepanjang tahun.

Jadwal Rilis dan Harga: MSI Claw 8 EX AI+ Dibanderol US$1.699

Dari tiga unit demo yang diuji, MSI Claw 8 EX AI+ menjadi yang paling cepat hadir di pasar. Harga yang tertera di Best Buy adalah US$1.699,99 (sekitar Rp 27.600.000), lebih mahal dari ekspektasi pasar sebelumnya yang berkisar US$1.500 (sekitar Rp 24.400.000). Perangkat ini dibekali SSD 1TB dan layar 8 inci 120Hz.

  • MSI Claw 8 EX AI+: rilis 23 Juni 2026, US$1.699,99 (sekitar Rp 27.600.000), SSD 1TB / layar 8 inci 120Hz
  • Acer Predator Atlas 8: Oktober 2026 untuk Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Australia. Harga diperkirakan di atas US$1.000 (sekitar Rp 16.300.000)

Acer menyebut harga final Predator Atlas 8 baru akan dikunci menjelang peluncuran karena tekanan pasokan memori dan storage yang sedang melanda industri global.

Implikasi untuk Konsumen Indonesia

Hingga saat ini, baik MSI maupun Acer belum mengumumkan ketersediaan resmi untuk pasar Indonesia. Mengingat banderol awal yang menembus US$1.699 (sekitar Rp 27.600.000) — setara dengan harga sebuah laptop gaming kelas atas — segmen ini jelas membidik konsumen enthusiast. Bagi calon pembeli di Tanah Air yang sudah mengincar unit berbasis Ryzen Z2 Extreme seperti ROG Ally X, pertimbangannya cukup sederhana: jika ingin segera bermain, ekosistem AMD sudah matang dan tersedia melalui ASUS Store Indonesia maupun jalur distributor resmi. Namun jika klaim "baterai dua kali lebih awet" terbukti benar setelah review independen, menahan diri hingga unit Intel Arc G3 Extreme masuk Asia Tenggara bisa menjadi langkah yang lebih bijak.

Sumber