LG secara tegas membantah laporan yang menyebut perusahaan berencana menjual bisnis televisinya kepada Hisense. Pernyataan resmi LG menyebut kabar tersebut "sepenuhnya tidak berdasar", sementara artikel sumber yang memicu spekulasi ini dilaporkan telah dihapus dari situs media Korea EBN. Bagi konsumen di Indonesia yang menggunakan atau berencana membeli produk LG OLED, situasi ini perlu dicermati dengan kepala dingin.

Pernyataan Resmi LG: "Sepenuhnya Tidak Berdasar"

Menurut laporan Android Authority, LG mengirimkan pernyataan resmi yang secara eksplisit menolak seluruh spekulasi terkait penjualan bisnis televisi. Kutipan pernyataan tersebut menyebut laporan itu "sepenuhnya tidak berdasar, murni spekulatif, dan menyesatkan."

Yang memperkuat posisi LG adalah fakta bahwa artikel asli dari media Korea EBN — yang menjadi pemicu spekulasi — dilaporkan telah dihapus dari situs resminya. Tidak ada penjelasan resmi dari EBN mengenai alasan penghapusan tersebut. Android Authority mencatat bahwa kombinasi antara bantahan keras dari LG dan hilangnya artikel sumber membuat kredibilitas laporan awal tersebut semakin dipertanyakan.

Perlu dicatat bahwa laporan awal EBN mengklaim LG tengah berdiskusi dengan Hisense mengenai kemungkinan restrukturisasi bisnis TV, termasuk opsi penjualan penuh. Namun, baik LG maupun Hisense tidak pernah mengonfirmasi adanya negosiasi semacam itu.

Mengapa Spekulasi Ini Bisa Beredar Luas

Meski akhirnya dibantah, spekulasi ini sempat mendapat perhatian luas karena ada sejumlah konteks industri yang membuatnya terasa masuk akal.

Pertama, LG memiliki preseden nyata dalam menutup lini bisnis besar. Pada 2021, LG resmi mengakhiri bisnis smartphone-nya setelah bertahun-tahun merugi — sebuah keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Preseden ini membuat sebagian kalangan bertanya-tanya apakah bisnis TV bisa mengalami nasib serupa.

Kedua, Sony baru-baru ini dilaporkan menjual sebagian saham bisnis TV-nya ke TCL. Langkah korporasi semacam ini dari pemain premium Jepang turut memperkuat narasi bahwa produsen TV tradisional sedang tertekan oleh kompetitor dari Tiongkok.

Ketiga, media EBN juga menyinggung kemungkinan LG mengalihkan fokus ke platform webOS serta layanan perangkat lunak untuk monitor, sistem kendaraan, dan smart display — sebuah pivot yang secara teori bisa mengurangi ketergantungan pada bisnis TV hardware. Namun, mengingat bantahan resmi LG, skenario ini untuk saat ini tetap merupakan spekulasi tanpa dasar konfirmasi.

Tekanan Nyata dari Merek Tiongkok di Pasar TV Global

Terlepas dari bantahan LG, tekanan kompetitif yang menjadi latar belakang spekulasi ini adalah nyata dan didukung data. Berikut gambaran pangsa pasar TV global pada kuartal pertama 2026:

MerekPangsa Pasar Global Q1 2026Pertumbuhan YoY
Samsung19,1%+4%
TCL16,3%+11,3%
Hisense15,1%

TCL mencatat pertumbuhan tercepat di antara lima besar dengan 11,3%, terus mempersempit jarak dengan Samsung. Di segmen layar 100 inci ke atas, Hisense bahkan mendominasi dengan pangsa 55,2% secara global — menunjukkan bahwa tren layar besar kini dikuasai merek Tiongkok.

Segmen Mini LED pun tumbuh pesat: pengiriman global diperkirakan mencapai 24,9 juta unit pada 2026, tumbuh 87% secara tahunan, dengan TCL, Hisense, dan Xiaomi menguasai 54% dari total tersebut. Di sisi lain, TrendForce memproyeksikan total pengiriman TV global sepanjang 2026 turun 1% menjadi 194,2 juta unit — pasar yang menyusut di tengah persaingan yang semakin sengit.

Dalam konteks ini, strategi LG untuk fokus pada segmen premium OLED memiliki logika bisnis yang kuat: bersaing di volume melawan merek Tiongkok adalah pertarungan yang sulit dimenangkan.

Lineup OLED 2026 LG: Bukti Bisnis TV Tetap Berjalan

Bukti paling konkret bahwa LG tidak berencana meninggalkan bisnis TV adalah jajaran produk 2026 yang sudah diumumkan dan mulai dipasarkan.

Di CES 2026, LG memperkenalkan LG OLED evo W6, sebuah True Wireless Wallpaper TV dengan ketebalan hanya 9 mm. Tersedia dalam dua ukuran — 77 dan 83 inci — W6 hadir dengan Zero Connect Box dan menjadi salah satu TV tertipis di dunia saat ini.

Untuk lini yang lebih terjangkau, LG mengumumkan harga resmi di pasar Amerika Serikat:

  • G6: mulai dari $2.499 (sekitar Rp 40.600.000)
  • C6: mulai dari $1.399 (sekitar Rp 22.700.000)

Penjualan ritel di AS dimulai pada Maret 2026. G6 ditenagai Alpha 11 AI Processor Gen3 dengan peningkatan kecerahan 45% dibanding generasi G5 sebelumnya.

Sebagai gambaran, LG juga meluncurkan Micro RGB evo (MRGB95) — TV Mini LED RGB pertama dari LG — yang secara langsung merespons produk serupa dari Hisense dan Samsung. Selain itu, LG mengintegrasikan Google Gemini dan Microsoft Copilot ke dalam platform Multi-AI di TV 2026-nya, menandai langkah serius ke arah smart TV berbasis kecerdasan buatan.

LG mengklaim telah memimpin pasar OLED selama 13 tahun berturut-turut — sebuah posisi yang tampaknya ingin terus dipertahankan, bukan ditinggalkan.

Apa Artinya bagi Konsumen di Indonesia?

Bagi pengguna LG OLED di Indonesia maupun mereka yang sedang mempertimbangkan pembelian, situasi ini memberikan sinyal yang relatif menenangkan. Bantahan resmi LG yang kuat, dikombinasikan dengan peluncuran produk 2026 yang konkret, menunjukkan bahwa kekhawatiran soal kelangsungan bisnis TV LG — setidaknya untuk saat ini — tidak memiliki dasar yang kuat.

Informasi mengenai ketersediaan resmi lineup OLED 2026 LG untuk pasar Indonesia belum diumumkan secara spesifik. Konsumen yang tertarik dapat memantau saluran distribusi resmi LG di Indonesia untuk pembaruan lebih lanjut. Sementara itu, perkembangan persaingan antara LG, Samsung, Hisense, dan TCL di segmen TV premium patut terus diikuti — karena dinamika ini pada akhirnya akan memengaruhi pilihan dan harga yang tersedia di pasar lokal.

Sumber