Sejumlah penulis newsletter ternama mulai meninggalkan Substack secara masif. Pemicunya bukan sekadar soal kebijakan konten, melainkan model biaya yang dianggap menggerus pendapatan kreator — hingga muncul istilah "pajak Substack" di kalangan komunitas penulis. Ghost dan Beehiiv menjadi dua nama yang paling sering disebut sebagai pelabuhan baru.

Apa Itu "Pajak Substack" dan Mengapa Kreator Marah?

Istilah "pajak Substack" beredar di kalangan penulis untuk menggambarkan struktur biaya platform yang dinilai memberatkan. Berdasarkan laporan The Verge, ketidakpuasan kreator berpusat pada dua hal utama: model pendapatan yang memotong terlalu besar dari penghasilan penulis, serta arah pengembangan platform yang semakin condong ke fitur sosial — bukan ke alat yang benar-benar dibutuhkan penulis profesional.

Perlu dicatat, ini bukan pertama kalinya Substack menghadapi gelombang eksodus. Pada 2024, platform ini sempat dikritik karena dianggap membiarkan newsletter bermuatan ujaran kebencian tetap beroperasi. Namun menurut The Verge, gelombang perpindahan terbaru ini lebih didorong oleh kalkulasi bisnis ketimbang prinsip etika semata.

Angka yang Bicara: Kasus The Rose Garden Report

Salah satu contoh paling konkret datang dari Sean Highkin, pengelola The Rose Garden Report, newsletter bertema NBA. Ia berpindah dari Substack ke Ghost pada April tahun lalu, dan hasilnya cukup mencolok.

KomponenDi SubstackDi Ghost + Outpost
Biaya platform per tahun$4.968 (sekitar Rp 80.700.000)$2.052 (sekitar Rp 33.300.000)

Penghematan biaya tahunan mencapai lebih dari $2.900 (sekitar Rp 47.100.000). Di sisi lain, jumlah pelanggan berbayarnya tumbuh 22% sejak akhir 2024.

Highkin menjelaskan dinamika yang ia alami di Substack dengan cukup gamblang:

"Ketika pertama bergabung, Substack sangat aktif mempromosikan saya dan mengirimkan banyak trafik. Pertumbuhan berjalan lancar. Tapi begitu saya bukan lagi 'nama baru yang menarik', promosi itu berhenti — dan pertumbuhan pun stagnan."

Pola ini mengungkap risiko struktural yang relevan bagi siapa pun yang membangun audiens di atas platform pihak ketiga: ketika platform berhenti mempromosikan Anda, pertumbuhan organik bisa terhenti mendadak.

Beehiiv: Dari Alternatif Murah ke Platform "Serba Ada"

Beehiiv menjadi pilihan lain yang semakin diperhitungkan. Matt Brown, pengelola Extra Points dengan 71.000 pelanggan, berpindah dari Substack pada 2021 dan kini menetap di Beehiiv. Ia dilaporkan menghemat biaya hingga ribuan dolar per tahun, meski angka pastinya tidak diungkapkan dalam laporan yang ada.

Yang menarik, Beehiiv tidak berhenti sebagai sekadar alternatif murah. Pada April 2026, platform ini mengumumkan serangkaian fitur baru yang cukup ambisius:

  • Webinar: Kreator dapat menggelar acara langsung untuk hingga 1.000 peserta langsung dari dalam platform, dengan dukungan video, berbagi layar, dan obrolan. Tersedia opsi berbayar maupun gratis.
  • Metered Paywall: Kreator bisa mengatur berapa artikel yang bisa dibaca gratis sebelum pembaca diminta berlangganan — dengan siklus reset harian, mingguan, bulanan, atau tahunan.
  • Podcast Hosting: Beehiiv kini menyediakan hosting podcast native dengan komisi 0% dari pendapatan kreator. Ini berbeda jauh dari Patreon yang memotong 8–12%, maupun Substack yang mengambil 10% termasuk dari konten audio.

Dampaknya sudah terlihat: 50% pengguna yang sudah memiliki podcast memindahkan konten mereka ke Beehiiv, sementara 25% lainnya meluncurkan podcast baru di platform tersebut.

Ghost: Biaya Rendah, Tapi Ada Syaratnya

Ghost kerap disebut sebagai pilihan paling hemat, terutama karena versi self-hosted-nya bersifat gratis dan open source (lisensi MIT). Pengguna ternamanya mencakup publikasi seperti The Lever, 404 Media, dan Platformer.

Berikut struktur harga Ghost untuk versi yang dikelola platform:

PaketHarga per BulanKeterangan
Starter$9 (sekitar Rp 146.000)Hingga 500 anggota
Creator$25 (sekitar Rp 406.000)Tema kustom, 1.000 anggota
Team$50 (sekitar Rp 812.000)Dukungan banyak staf
Business$199 (sekitar Rp 3.230.000)Skala besar

Namun ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan sebelum berpindah ke Ghost. Untuk versi self-hosted, kreator harus mengonfigurasi layanan pengiriman email sendiri — misalnya melalui Mailgun — dan bertanggung jawab penuh atas tingkat ketercapaian email. Selain itu, semua transaksi keanggotaan diproses melalui Stripe, yang berarti kreator di negara-negara tanpa dukungan Stripe penuh akan menghadapi keterbatasan. Kustomisasi tampilan juga memerlukan pemahaman HTML, CSS, dan templat Handlebars.

Singkatnya, Ghost sangat menarik bagi kreator yang melek teknologi dan ingin kontrol penuh. Bagi yang tidak memiliki latar belakang teknis, kurva belajarnya bisa cukup curam.

Apa Artinya Bagi Kreator Konten di Indonesia?

Ekosistem newsletter berbayar di Indonesia memang belum semature di Amerika Serikat, namun tren ini layak dicermati. Semakin banyak kreator lokal — mulai dari jurnalis independen, analis pasar, hingga penulis niche — yang mulai menjajaki model berlangganan sebagai sumber pendapatan utama.

Bagi kreator Indonesia yang mempertimbangkan platform newsletter berbayar, pelajaran dari kasus ini cukup jelas: jangan terlalu bergantung pada mekanisme promosi bawaan platform. Bangun daftar pelanggan yang benar-benar Anda miliki, dan hitung dengan cermat berapa persen pendapatan yang "dipotong" oleh platform setiap tahunnya. Selisih $2.900 per tahun — atau sekitar Rp 47 juta — bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Perlu dicatat bahwa ketersediaan Stripe di Indonesia sudah tersedia, sehingga hambatan teknis untuk menggunakan Ghost secara penuh relatif lebih kecil dibanding beberapa negara lain.

Sumber