Krafton, perusahaan induk di balik PUBG, dilaporkan menyetujui pembayaran bonus senilai $250 juta (sekitar Rp 4.060.000.000.000) kepada studio pengembang Subnautica 2, Unknown Worlds. Yang membuat kasus ini luar biasa: CEO Krafton diketahui menggunakan ChatGPT untuk mencari cara menghindari kewajiban pembayaran tersebut — dan justru langkah itu yang memperburuk posisi perusahaan di pengadilan.
Dari Mana Asal Bonus $250 Juta Ini?
Laporan ini pertama kali muncul dari media ekonomi Korea, The Korean Economic Daily, yang mengutip sumber independen. Berita tersebut kemudian diliput oleh IGN dan Wccftech sehingga menyebar ke khalayak internasional. Perlu dicatat bahwa hingga saat ini Krafton belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pembayaran ini.
Menurut laporan tersebut, bonus senilai $250 juta (sekitar Rp 4.060.000.000.000) merupakan bagian dari struktur kontrak earnout yang disepakati saat Krafton mengakuisisi Unknown Worlds pada 2021. Dalam kesepakatan itu, Krafton membayar $500 juta di muka, ditambah klausul earnout maksimal $250 juta yang akan aktif apabila franchise Subnautica mencapai target penjualan tertentu sebelum 31 Desember 2025 — dengan opsi perpanjangan hingga Juni 2026 bagi pihak penjual.
Struktur perhitungannya terbilang agresif: setiap dolar pendapatan yang melampaui ambang batas $69,8 juta akan menghasilkan pembayaran tambahan sebesar $3,12. Artinya, begitu Subnautica 2 meledak di pasaran, kewajiban finansial Krafton meningkat secara eksponensial.
| Item | Detail |
|---|---|
| Nilai bonus | $250 juta (sekitar Rp 4.060.000.000.000) |
| Penerima | Unknown Worlds (pengembang) |
| Pembayar | Krafton (perusahaan induk) |
| Syarat aktivasi | Franchise Subnautica mencapai target penjualan dalam periode yang ditentukan |
| Status laporan | Berdasarkan sumber independen media Korea, belum dikonfirmasi Krafton |
Kronologi Konflik: Pemecatan, Gugatan, hingga Sidang
Perselisihan antara Krafton dan Unknown Worlds bermula pada Juli 2025, ketika Krafton memecat tiga pendiri Unknown Worlds: Ted Gill, Charlie Cleveland, dan Max McGuire. Krafton berdalih pemecatan dilakukan demi menghadirkan Subnautica 2 yang lebih memuaskan bagi penggemar.
Namun dua hari setelah pemecatan, Cleveland menerbitkan pernyataan publik yang mengisyaratkan adanya motif lain. Tak lama berselang, Bloomberg melaporkan keberadaan klausul bonus $250 juta tersebut. Muncul pandangan bahwa jika Subnautica 2 dirilis sesuai jadwal semula, Unknown Worlds berpotensi memenuhi syarat milestone dan Krafton wajib membayar bonus itu.
Krafton membantah adanya kaitan antara penundaan rilis dan bonus tersebut, serta berargumen bahwa para pendiri telah "meninggalkan" (abandoned) tanggung jawab pengembangan. Para pendiri kemudian menggugat Krafton, dan perseteruan terbuka ini berlangsung hampir satu tahun.
Pada Februari 2026, pengadilan ekuitas Delaware di bawah Hakim Lori Will memutuskan mendukung pihak pendiri dan memerintahkan pemulihan jabatan Ted Gill sebagai CEO Unknown Worlds. Sementara itu, Cleveland dan McGuire tidak mendapatkan pemulihan jabatan serupa, dan klaim ganti rugi diserahkan ke fase persidangan berikutnya.
CEO Pakai ChatGPT, Malah Jadi Bumerang
Aspek paling mengejutkan dari kasus ini adalah terungkapnya fakta bahwa CEO Krafton menggunakan ChatGPT untuk mencari strategi menghindari kewajiban pembayaran bonus. Strategi berlapis yang dihasilkan ChatGPT itu dikenal secara internal sebagai "Project X", yang mencakup langkah-langkah seperti mengunci hak distribusi di platform seperti Steam, mengamankan akses ke kode game, serta membingkai perselisihan sebagai masalah kualitas produk dan kepercayaan penggemar.
Dalam putusan pengadilan, hakim juga menyoroti fakta bahwa CEO Krafton mengakui telah menghapus sebagian log percakapan ChatGPT tersebut — sebuah tindakan yang dinilai sebagai risiko transparansi serius dalam proses hukum.
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana penggunaan AI generatif untuk pengambilan keputusan hukum korporat yang krusial dapat berbalik merugikan. Mengandalkan chatbot untuk merancang strategi menghindari kewajiban kontrak yang mengikat secara hukum bukan hanya tidak efektif, tetapi justru menjadi bukti yang memberatkan di persidangan.
Subnautica 2 Meledak: Angka yang Membuat Krafton Tak Bisa Berkelit
Sehari setelah pengadilan memerintahkan pemulihan jabatan Gill, tanggal rilis Subnautica 2 dikonfirmasi: 14 Mei 2026. Hasilnya melampaui ekspektasi siapa pun.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Wishlist sebelum rilis | Lebih dari 5 juta |
| Penjualan dalam 12 jam pertama | Lebih dari 2 juta kopi |
| Total penjualan (kurang dari 1 minggu) | Sekitar 4 juta kopi (estimasi) |
| Estimasi pendapatan minggu pertama | Sekitar $100 juta (sekitar Rp 1.625.000.000.000) |
| Puncak pemain simultan (semua platform) | Sekitar 651.000 orang |
| Puncak pemain simultan di Steam | Lebih dari 467.000 orang |
| Puncak penonton Twitch | 413.000 orang (peringkat 1 semua kategori) |
| Total pemain termasuk Game Pass | Sekitar 6,5 juta orang |
Sebagai perbandingan, angka 467.000 pemain simultan di Steam saja sudah sekitar 9 kali lipat rekor tertinggi sepanjang masa Subnautica pertama (2018). Game ini dikembangkan menggunakan Unreal Engine 5 dan memperkenalkan mode kooperatif hingga 4 pemain — pertama kali dalam sejarah seri ini. Total penjualan kumulatif franchise Subnautica kini melampaui 18,5 juta kopi.
Dengan angka-angka tersebut, posisi Krafton untuk terus menghindari pembayaran bonus menjadi semakin sulit dipertahankan.
Tiga Hal yang Perlu Diingat Sebelum Menyimpulkan
Meski laporan ini menarik perhatian luas, ada beberapa catatan penting:
- Belum ada konfirmasi resmi dari Krafton. Laporan bersumber dari media Korea yang mengutip sumber independen, bukan dari pengumuman perusahaan.
- Pembayaran belum tentu sudah selesai. Yang dilaporkan adalah "persetujuan untuk membayar", bukan bukti transfer dana yang telah terjadi.
- Angka penjualan Subnautica 2 adalah estimasi. Figur sekitar 4 juta kopi dan $100 juta dalam satu minggu merupakan angka perkiraan, bukan data resmi dari Krafton atau platform distribusi.
Bagi komunitas gamer dan pelaku industri di Indonesia, kasus ini relevan sebagai pelajaran tentang bagaimana struktur kontrak akuisisi studio game — khususnya klausul earnout berbasis performa — dapat menciptakan insentif yang bertentangan antara perusahaan induk dan tim pengembang. Ketika sebuah game sukses besar justru memicu sengketa hukum, ada yang salah dalam tata kelola hubungan korporat tersebut.
