GPU buatan produsen baru asal China, Lisuan Tech, berhasil mencetak lebih dari 30.000 pesanan dalam 48 jam pertama peluncurannya. Namun di balik angka penjualan yang mengesankan itu, sejumlah ulasan independen mengungkap bahwa performa nyata kartu grafis LX 7G100 ini jauh dari klaim sang produsen.
Diklaim Setara RTX 4060, Ulasan Menunjukkan Realita Berbeda
Lisuan Tech memasarkan LX 7G100 sebagai pesaing langsung GeForce RTX 4060. Namun berdasarkan laporan Tom's Hardware, pengujian independen menunjukkan performa sesungguhnya hanya setara GeForce RTX 3060 — satu generasi di bawah klaim, dan dua generasi di belakang GeForce RTX 5060 yang merupakan produk terkini Nvidia.
Kesenjangan ini terlihat jelas dari data benchmark pada resolusi 1080p:
| Judul Game (1080p) | LX 7G100 | RTX 4060 | Intel Arc B580 |
|---|---|---|---|
| Cyberpunk 2077 (FSR3 Quality+FG) | 88 FPS | 232 FPS | 243 FPS |
| Black Myth: Wukong | 56 FPS | 115 FPS | — |
| Forza Horizon 5 (Low) | 48 FPS | — | — |
Pada Cyberpunk 2077, LX 7G100 hanya mampu menghasilkan sekitar 38% dari frame rate RTX 4060. Perlu dicatat pula bahwa kartu ini tidak mendukung ray tracing; Lisuan menyatakan fitur tersebut baru akan hadir pada generasi GPU kedua mereka.
Di sisi teknis, LX 7G100 dibangun dengan proses fabrikasi 6nm, dilengkapi memori 12GB GDDR6, antarmuka PCIe 4.0, dan konsumsi daya 225W (konektor 8-pin). Arsitekturnya menggunakan desain in-house Lisuan yang disebut "TrueGPU Tiantu". Satu pencapaian yang patut dicatat: LX 7G100 merupakan GPU buatan China pertama yang memperoleh sertifikasi Microsoft WHQL, yang menjamin stabilitas driver di ekosistem Windows.
Harga $485 dan Penjualan 30.000 Unit: Angka yang Sulit Diabaikan
Meski performa tidak sesuai klaim, angka penjualannya tetap mencengangkan. Dalam 48 jam pertama, lebih dari 30.000 unit berhasil dipesan dengan harga resmi $485 (sekitar Rp 7.880.000). Total nilai pesanan awal diperkirakan mencapai $14,55 juta (sekitar Rp 236.000.000.000).
Sebagai perbandingan, harga tersebut berada di kisaran GeForce RTX 5060 Ti 16GB — kartu yang secara performa jauh melampaui LX 7G100. Dengan kata lain, konsumen membayar harga premium untuk performa kelas menengah ke bawah.
Lantas mengapa tetap laku keras? Tom's Hardware menyebut tiga faktor utama: strategi pemasaran yang efektif, rasa ingin tahu konsumen, dan keinginan untuk mendukung merek domestik baru. Di platform e-commerce JD.com, Lisuan Tech bahkan berhasil masuk ke posisi ke-6 dalam kategori GPU, bersaing dengan nama-nama besar seperti Asus, Colorful, Gigabyte, dan MSI.
Strategi "Founders Edition" ala Nvidia: 1.000 Unit Langsung Habis
Lisuan Tech mengadopsi pendekatan yang mengingatkan pada strategi Nvidia dengan meluncurkan "Founders Edition" — edisi terbatas sebanyak 1.000 unit yang dilengkapi nomor seri individual dan tanda tangan co-CEO Xuan Yifang. Batch pertama dilaporkan habis hampir seketika.
Batch kedua Founders Edition dijadwalkan dikirim pada 18 Juni 2025, bersamaan dengan peluncuran resmi dua model baru: LX Pro (ditujukan untuk kebutuhan engineering profesional) dan LX Ultra (untuk komputasi awan/cloud computing). Sementara itu, varian LX Max yang diperuntukkan bagi kreator konten belum memiliki jadwal rilis yang diumumkan.
Pendekatan edisi terbatas dengan sentuhan personal ini secara efektif menggeser fokus dari perbandingan performa ke pengalaman memiliki produk eksklusif — sebuah strategi yang terbukti berhasil menarik minat pasar.
Konteks Lebih Besar: Pergeseran Industri GPU di China
Keberhasilan awal LX 7G100 tidak bisa dilepaskan dari dinamika industri GPU China yang sedang berubah drastis. Menurut laporan yang dikutip Tom's Hardware, pada 2026 pangsa pasar GPU domestik China diperkirakan melampaui 60%, sementara pangsa Nvidia menyusut hingga sekitar 8%.
Lisuan Tech sendiri berdiri pada 2021, didirikan oleh Xuan Yifang, Kong Dehai, dan Niu Yixin — ketiganya merupakan alumni S3 Graphics dengan latar belakang Silicon Valley. Dalam waktu kurang dari lima tahun, perusahaan ini berhasil menghadirkan GPU produksi massal, sebuah pencapaian yang tidak mudah.
Yang membedakan Lisuan dari pemain domestik lain seperti Cambricon dan Moore Threads adalah ambisi mereka untuk mengembangkan seluruh tumpukan teknologi secara mandiri — mulai dari instruction set hingga inti komputasi. Meski demikian, satu hambatan struktural tetap ada: pasokan HBM (High Bandwidth Memory) global masih dikuasai Samsung dan SK Hynix, dengan tingkat lokalisasi China yang masih di bawah 10%.
Apa Artinya bagi Konsumen di Luar China?
Bagi konsumen di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, LX 7G100 untuk saat ini belum tersedia secara resmi di luar pasar China. Informasi rilis untuk pasar internasional, termasuk Indonesia, belum diumumkan oleh Lisuan Tech.
Dari sudut pandang nilai, GPU ini sulit direkomendasikan bagi gamer yang mengutamakan rasio performa per rupiah. Dengan harga sekitar Rp 7.880.000, terdapat pilihan yang lebih kompetitif di pasaran — termasuk GeForce RTX 4060 atau bahkan RTX 5060 yang menawarkan performa jauh lebih tinggi di kisaran harga serupa.
Namun kisah LX 7G100 menawarkan pelajaran yang lebih luas: di pasar tertentu, narasi merek, sentimen nasionalisme teknologi, dan strategi pemasaran yang tepat bisa menggerakkan penjualan melebihi apa yang sekadar ditunjukkan oleh angka benchmark. Perkembangan ini layak diikuti, terutama setelah LX Pro dan LX Ultra resmi diluncurkan pada 18 Juni mendatang sebagai tolok ukur seberapa jauh Lisuan Tech mampu menutup kesenjangan performa tersebut.
Sumber
- Tom's Hardware — Chinese GPU maker sells out over 30,000 gaming GPUs within 48 hours despite lukewarm benchmarks — LX 7G100 proves hype trumps performance
- TweakTown — Lisuan Technology's LX 7G100 DirectX 12 gaming GPU launches in China
- VideoCardz — Lisuan LX 7G100 tested, China's new gaming GPU runs modern titles but price needs a reality check
