Pengembang aplikasi GameNative, Utkarsh Dalal, menyatakan dalam wawancara dengan Android Authority bahwa dalam dua tahun ke depan, perangkat Android yang menjalankan aplikasinya akan mampu menggantikan handheld PC seperti Steam Deck dan ASUS ROG Ally. Klaim ini didukung oleh tiga faktor yang kini mulai berjalan bersamaan: kemajuan chip Snapdragon 8 Elite, perkembangan Turnip GPU driver, serta kontribusi tidak langsung dari Valve melalui ekosistem Proton dan FEX.

Apa Itu GameNative dan Seberapa Jauh Kemampuannya?

GameNative adalah aplikasi Android berbasis proyek Pluvia yang memungkinkan pengguna menjalankan game PC secara lokal di perangkat Android — bukan melalui streaming, melainkan eksekusi langsung. Aplikasi ini mendukung Steam, Epic Games Store, GOG, serta file game mandiri.

Dalal menegaskan bahwa GameNative "selalu gratis dan open source", tanpa iklan, tanpa monetisasi data pengguna, dan tanpa paywall. Sebagai gantinya, pengembang tengah menjajaki kemitraan dengan toko game untuk jalur pembelian judul indie, serta diskusi integrasi hardware dengan produsen perangkat (OEM).

Perlu dicatat, kondisi saat ini masih jauh dari sempurna. Dalal sendiri mengakui bahwa dari sisi performa maupun kompatibilitas, handheld PC berbasis x86 masih unggul. Perangkat Android mayoritas menggunakan arsitektur ARM, sehingga membutuhkan lapisan konversi untuk menjalankan game PC — sebuah hambatan struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Game seperti Hitman World of Assassination sudah bisa berjalan, sementara Cyberpunk 2077 masih sesekali mengalami freeze.

Snapdragon 8 Elite dan Turnip Driver: Dua Kunci Utama

Harapan terbesar bagi Android gaming terletak pada chip Snapdragon 8 Elite dan generasi penerusnya, Snapdragon 8 Elite Gen 5. Kedua prosesor ini dikabarkan membawa peningkatan signifikan pada CPU maupun GPU.

Hambatan sebelumnya adalah ketiadaan Turnip GPU driver — driver GPU open source yang dibutuhkan aplikasi seperti GameNative untuk mengoptimalkan performa grafis. Situasi ini mulai berubah sejak awal 2026, ketika build awal Turnip driver untuk Snapdragon 8 Elite dirilis.

"Build awal Turnip untuk 8 Elite, khususnya 8 Elite Gen 5, sudah menunjukkan hasil yang luar biasa. Ini adalah momen besar," ujar Dalal. Meski begitu, ia menambahkan bahwa driver tersebut masih dalam tahap pematangan dan beberapa game masih bermasalah. Bagi Anda yang ingin mencoba GameNative sekarang, perangkat Snapdragon 8 Elite memang direkomendasikan — namun dengan ekspektasi yang realistis.

Valve Justru Jadi Tulang Punggung Gaming Android

Menariknya, pihak yang paling banyak berkontribusi pada kemajuan gaming PC di Android justru adalah Valve — perusahaan di balik Steam Deck itu sendiri. Lapisan kompatibilitas Proton milik Valve, yang awalnya dirancang untuk menjalankan game Windows di Linux, kini menjadi komponen inti di GameNative maupun aplikasi serupa seperti GameHub.

Valve juga mendanai pengembangan FEX, sebuah alat yang mengonversi instruksi x86 ke ARM, serta merilis Steam client versi ARM untuk Linux. Semua ini sejatinya disiapkan untuk headset "Steam Frame" berbasis Snapdragon 8 Gen 3 yang menjalankan SteamOS — namun manfaatnya turut dirasakan oleh ekosistem Android.

"Setiap perubahan yang Valve lakukan pada Proton dan FEX langsung berdampak pada kompatibilitas dan performa kami," kata Dalal. Ia juga mengungkapkan bahwa GameNative sudah menyediakan build Proton 11, dan versi yang mengintegrasikan Steam client ARM ke dalam GameNative sedang dalam pengembangan — berpotensi hadir di GameNative v1.0.

Dukungan Pixel 10, Exynos, dan Fitur "Known Configs"

GameNative tidak hanya berfokus pada Snapdragon. Awal tahun ini, dukungan awal untuk keluarga Pixel 10 dengan GPU Imagination PowerVR sudah terwujud — sebuah pencapaian yang tidak sepele mengingat GPU ini kerap diabaikan oleh pengembang emulator. GPU Xclipse milik Samsung pada chip Exynos juga sudah mendapat dukungan, dengan perbaikan berkelanjutan yang dijadwalkan dalam roadmap.

Fitur lain yang patut diperhatikan adalah "known configs", yang diaktifkan secara default sejak Februari 2026. Fitur ini secara otomatis menerapkan konfigurasi optimal untuk kombinasi perangkat dan game tertentu, berdasarkan umpan balik pengguna dan sinyal teknis anonim seperti keluarga GPU dan rentang FPS per sesi. Hasilnya: pengguna tidak perlu repot mengatur parameter secara manual agar game berjalan dengan baik.

Realistiskah Klaim "Gantikan Steam Deck dalam 2 Tahun"?

Dalam polling pembaca Android Authority (261 suara), 51% responden menyatakan tidak akan menggunakan aplikasi gaming PC di Android, 34% memilih bermain via aplikasi seperti GameNative, dan 15% memilih streaming. Angka ini mencerminkan bahwa adopsi massal masih jauh dari kenyataan.

Dalal sendiri tidak menutup mata: "PC gaming sejati tetap jauh lebih unggul. Keunggulan kompatibilitas Steam Deck dan sejenisnya akan bertahan cukup lama." Game yang nyaman dimainkan via GameNative saat ini masih didominasi judul indie dan sebagian game AAA generasi lama.

Sebagai gambaran harga, Steam Deck dijual mulai sekitar $399 (sekitar Rp 6.480.000), sementara ASUS ROG Ally dibanderol mulai $599 (sekitar Rp 9.730.000). Perangkat Android handheld seperti Odin 3 yang disebut Dalal sebagai contoh masa depan dibanderol sekitar $400 (sekitar Rp 6.500.000) — bersaing langsung dari sisi harga.

Bagi konsumen di Indonesia, GameNative menjadi opsi menarik mengingat penetrasi smartphone Android yang sangat tinggi. Jika Anda sudah memiliki perangkat Snapdragon 8 Elite, tidak ada salahnya mencoba GameNative sekarang — gratis dan open source. Namun untuk menggantikan Steam Deck atau ROG Ally secara penuh, bijak rasanya untuk menunggu perkembangan Turnip driver dan roadmap GameNative v1.0 sebelum mengambil keputusan pembelian. Informasi ketersediaan resmi GameNative di pasar Indonesia dapat dipantau langsung melalui repositori open source-nya.

Sumber