Aplikasi emulator PC gaming populer di Android, GameHub, kini tengah disorot setelah sejumlah developer independen menuduh pihak pengembang, GameSir, menggunakan kode mereka tanpa izin. GameSir membantah tuduhan tersebut, namun temuan dari proses decompile aplikasi justru memunculkan lebih banyak pertanyaan.

Tuduhan Muncul Setelah Rilis GameHub v6.0

GameSir baru-baru ini merilis pembaruan besar GameHub versi 6.0 yang diklaim membawa sejumlah peningkatan signifikan. Namun peluncuran tersebut langsung ternodai oleh tuduhan serius dari komunitas developer.

Developer yang pertama angkat bicara adalah StevenMX, pengembang fork dari aplikasi Winlator. Ia mengklaim bahwa GameSir mengambil hasil kerjanya terkait Vulkan-based renderer dan mempresentasikannya seolah merupakan implementasi mandiri milik GameSir sendiri.

Merespons tuduhan itu, GameSir memberikan bantahan melalui Discord, menegaskan bahwa implementasi mereka dikembangkan secara independen. Mereka bahkan mengajak pengguna untuk melakukan decompile sendiri guna memverifikasi klaim tersebut — sebuah langkah yang justru berbalik merugikan mereka.

Hasil Decompile Ungkap Sejumlah Kesamaan Kode

Menanggapi tantangan GameSir, StevenMX benar-benar melakukan decompile terhadap aplikasi GameHub. Hasilnya, ia mengklaim menemukan kode yang berasal dari beberapa proyek open source, antara lain:

  • Vulkan renderer milik StevenMX sendiri
  • Termux X11
  • Vulkan graphics wrapper yang dirancang untuk meningkatkan dukungan pada perangkat non-Snapdragon

Developer bernama leagoo, yang mengerjakan graphics wrapper tersebut, turut menyuarakan keberatannya. Ia mengklaim bahwa kode miliknya ditemukan di dalam GameHub — bahkan termasuk elemen-elemen yang ia sendiri tidak gunakan dalam versi finalnya. Menurut laporan yang beredar, struktur kode yang identik, termasuk bagian yang tidak terpakai, ditemukan di dalam aplikasi GameSir.

Inti Masalah: Kepatuhan terhadap Lisensi Open Source

Perlu dicatat bahwa penggunaan kode dari proyek open source pada dasarnya bukan hal yang terlarang. Namun, sebagian besar lisensi open source — seperti GPL atau LGPL — mewajibkan pihak yang menggunakannya untuk turut membuka kode hasil modifikasi mereka kepada publik.

StevenMX menuntut GameSir untuk memilih salah satu dari dua opsi: menjadikan GameHub sebagai proyek open source dengan membuka seluruh kodenya, atau memberikan kredit yang layak kepada para developer yang karyanya digunakan.

Sebagai gambaran, ini bukan pertama kalinya GameSir terlibat kontroversi serupa. Emulator Nintendo Switch buatan mereka, EggNS, sebelumnya juga pernah dituduh mengambil kode dari emulator Nintendo Switch lain tanpa izin.

Kasus Ini Muncul Bersamaan dengan Perbaikan Bug Samsung Galaxy

Ironisnya, tuduhan ini mencuat tepat ketika GameSir sedang mendapat sorotan positif atas perbaikan bug besar yang memengaruhi pengguna perangkat Samsung Galaxy. Setelah pembaruan v6.0, sejumlah pengguna Galaxy melaporkan tidak bisa menjalankan game melalui GameHub — masalah yang diduga berkaitan dengan perangkat lunak One UI milik Samsung. GameSir mengklaim telah menyelesaikan masalah tersebut.

Di tengah kontroversi ini, Android Authority menyatakan telah menghubungi GameSir untuk meminta komentar resmi terkait tuduhan pencurian kode, namun hingga berita ini diturunkan belum ada respons yang diterima.

Apa Artinya Bagi Pengguna GameHub di Indonesia?

GameHub cukup dikenal di kalangan penggemar PC gaming mobile di Indonesia, terutama mereka yang ingin menjalankan judul-judul PC di perangkat Android. Bagi pengguna saat ini, aplikasi masih dapat digunakan seperti biasa — namun perkembangan hukum dan etika di balik kontroversi ini patut diikuti.

Jika GameSir terbukti melanggar lisensi open source, ada kemungkinan mereka dipaksa untuk memodifikasi atau menarik fitur-fitur tertentu dari aplikasi. Informasi lebih lanjut mengenai dampak terhadap pengguna di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum diumumkan secara resmi.

Sumber