Arm Holdings, perusahaan di balik arsitektur chip yang digunakan hampir semua smartphone dan PC modern, dilaporkan tengah diselidiki oleh Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) atas dugaan pelanggaran hukum antimonopoli. Bloomberg melaporkan bahwa penyelidikan ini dipicu oleh langkah Arm yang mulai memproduksi CPU sendiri untuk segmen data center, sehingga berpotensi bersaing langsung dengan pelanggan-pelanggan besarnya seperti Qualcomm dan Apple.

Apa yang Diselidiki FTC dari Arm?

Menurut laporan Bloomberg yang dikutip Tom's Hardware, FTC tengah memeriksa apakah Arm memanfaatkan posisi dominannya untuk membatasi akses arsitektur chip bagi pelanggan yang kini menjadi pesaingnya. Secara spesifik, investigasi ini menyoroti beberapa kemungkinan pelanggaran:

  • Arm diduga hanya menyediakan desain berkualitas rendah kepada pelanggan yang bersaing dengan produk CPU miliknya sendiri
  • Arm diduga menolak atau mempersulit pemberian lisensi kepada pihak tertentu
  • Adanya konflik kepentingan karena Arm kini berperan ganda sebagai perancang sekaligus produsen chip

Perlu dicatat, FTC belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyelidikan ini. Laporan Bloomberg bersifat reportedly, sehingga status resminya masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Selama ini, model bisnis utama Arm adalah melisensikan arsitektur chip-nya kepada perusahaan lain — mulai dari Apple, Qualcomm, Samsung, hingga MediaTek. Namun pada Maret 2026, Arm mengumumkan CPU AGI (Artificial General Intelligence) buatan sendiri yang ditujukan untuk pasar data center. Langkah ini secara langsung menempatkan Arm sebagai pesaing bagi pelanggan-pelanggan terbesarnya.

Sebagai gambaran skala bisnisnya: analis memperkirakan bahwa meski pendapatan CPU AGI Arm mencapai $2 miliar (sekitar Rp 32.500.000.000.000), angka tersebut masih di bawah 5% pangsa pasar keseluruhan.

Akar Masalah: Sengketa Nuvia antara Arm dan Qualcomm

Ketegangan antara Arm dan Qualcomm sebenarnya sudah berlangsung beberapa tahun. Arm pernah menggugat Qualcomm dengan alasan bahwa lisensi Arm yang dimiliki Nuvia — startup yang diakuisisi Qualcomm pada 2022 — tidak dapat dialihkan begitu saja. Menurut Arm, Qualcomm seharusnya mengajukan lisensi baru setelah akuisisi tersebut.

Namun Arm kalah dalam gugatan ini. Qualcomm pun tetap berhak menggunakan core Oryon yang berasal dari Nuvia — inti prosesor yang kini menjadi fondasi chip Snapdragon X Series untuk laptop.

Kekalahan di pengadilan tidak menghentikan Qualcomm. Perusahaan ini kemudian mengambil jalur regulasi dengan mendatangi berbagai otoritas antimonopoli di seluruh dunia untuk menyampaikan kekhawatirannya terhadap praktik bisnis Arm. Berikut perkembangan yang dilaporkan Tom's Hardware:

OtoritasPerkembangan
FTC Amerika SerikatDilaporkan sedang menyelidiki Arm
Komisi EropaQualcomm dilaporkan telah menyampaikan kasusnya
Komisi Perdagangan yang Adil Korea SelatanMenggeledah kantor Arm di Seoul pada November 2025

Perlu dicatat bahwa apakah Qualcomm telah mengajukan keluhan formal ke FTC maupun Komisi Eropa belum dapat dikonfirmasi dari laporan yang tersedia.

Mengapa Ini Penting bagi Pengguna Snapdragon dan Apple Silicon?

Arsitektur Arm bukan sekadar urusan korporasi — ia ada di dalam hampir setiap perangkat yang Anda gunakan sehari-hari. Chip Apple Silicon (M-series dan A-series), Snapdragon untuk smartphone dan laptop, serta chip MediaTek Dimensity yang banyak digunakan di ponsel kelas menengah Indonesia, semuanya berbasis arsitektur Arm.

Analis memproyeksikan bahwa pada 2029, lebih dari 90% prosesor kustom untuk server AI akan menggunakan arsitektur Arm. Angka ini mencerminkan betapa besarnya ketergantungan industri teknologi global terhadap satu perusahaan.

Jika Arm terbukti membatasi akses lisensi secara tidak adil, dampaknya bisa merambat ke berbagai arah: kondisi lisensi yang berubah dapat memengaruhi roadmap produk dari Apple, Qualcomm, Samsung, hingga MediaTek — dan pada akhirnya berdampak pada pilihan chip serta harga perangkat di pasar konsumen, termasuk Indonesia.

Menariknya, Arm sendiri belum masuk ke segmen prosesor untuk konsumen umum (smartphone atau laptop). Namun kekhawatiran yang ada adalah bahwa posisi dominan Arm di ekosistem arsitektur chip berpotensi dimanfaatkan secara tidak proporsional untuk menguntungkan produk CPU-nya sendiri.

Skenario yang Mungkin Terjadi ke Depan

Mengingat laporan ini masih bersifat reportedly dan belum ada konfirmasi resmi dari FTC maupun Arm, ada beberapa skenario yang patut dicermati:

  • Regulator AS dapat menekan Arm untuk mengubah syarat lisensinya agar lebih netral bagi semua pelanggan
  • Arm mungkin diminta membangun mekanisme pemisahan yang jelas antara divisi lisensi dan divisi produk chip-nya sendiri
  • Investigasi yang berjalan paralel di Amerika Serikat, Eropa, dan Korea Selatan dapat saling memperkuat dan berujung pada tekanan regulasi global terhadap model bisnis Arm

Bagi konsumen di Indonesia, dampak langsung dalam jangka pendek kemungkinan masih terbatas. Namun mengingat hampir seluruh ekosistem chip mobile dan PC modern bertumpu pada arsitektur Arm, perkembangan regulasi ini layak untuk terus dipantau — terutama bagi mereka yang berencana membeli laptop berbasis Snapdragon X atau perangkat Apple Silicon dalam beberapa tahun ke depan.

Sumber