Seorang anggota Kongres Amerika Serikat membawa botol berisi air berlumpur ke sidang parlemen pada 22 Mei 2026, menuduh pembangunan data center milik Meta telah merusak kualitas air minum warga di Morgan County, Georgia. EPA (Badan Perlindungan Lingkungan AS) langsung berjanji melakukan investigasi. Kasus ini menjadi cerminan nyata dari dampak booming pembangunan infrastruktur AI terhadap komunitas lokal — sebuah isu yang relevan bagi siapa pun yang menggunakan layanan berbasis cloud dan kecerdasan buatan.

Botol Air Berlumpur di Hadapan Parlemen AS

Dalam sidang subkomite DPR AS pada 22 Mei 2026, anggota kongres dari New York, Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), mengangkat sebuah botol berisi air berwarna cokelat keruh di hadapan pejabat EPA. Air tersebut diklaim berasal dari keran rumah warga di Morgan County, Georgia — wilayah tempat Meta tengah membangun fasilitas data center berskala besar.

AOC menyampaikan langsung kepada Jessica Kramer, Asisten Administrator EPA untuk Urusan Air, bahwa kondisi air warga berubah drastis sejak proyek konstruksi Meta dimulai.

"Air keran di Morgan County menjadi seperti ini tepat setelah data center Meta dibangun. Satu-satunya perbedaan dari sebelumnya adalah kehadiran data center itu."

AOC juga menegaskan bahwa warga yang tinggal di daerah pedesaan tersebut terpaksa mendatangkan air dari luar untuk keperluan memasak dan mandi. Merespons hal ini, Kramer menyatakan bahwa memastikan standar kualitas air EPA terpenuhi adalah prioritas utama, dan berjanji segera memulai investigasi.

Korelasi Belum Tentu Kausalitas, Tapi Fakta di Lapangan Tak Bisa Diabaikan

Hingga saat ini, penyebab langsung penurunan kualitas air belum dapat dipastikan secara ilmiah. Para pengamat mengingatkan bahwa korelasi waktu antara dimulainya konstruksi dan memburuknya kualitas air tidak serta-merta membuktikan hubungan sebab-akibat.

Berdasarkan laporan yang beredar, warga Morgan County mengandalkan sumur pribadi maupun sumur bersama yang bersumber dari air tanah. Wilayah ini memiliki zona resapan air tanah yang selama ini dijaga ketat oleh pemerintah daerah. Salah satu hipotesis teknis yang muncul adalah: jika permukaan air tanah turun terlalu dalam, pompa sumur bisa ikut menyedot lumpur dan sedimen dari dasar sumur.

Mengingat data center diketahui mengonsumsi air dalam jumlah sangat besar, kecurigaan warga yang menghubungkan masalah ini dengan proyek Meta dapat dipahami — meski belum terbukti secara definitif.

Perlu dicatat, ini bukan kasus pertama di Georgia. Di lokasi data center besar lain di negara bagian yang sama, dilaporkan bahwa sebanyak 29 juta galon air telah digunakan secara diam-diam selama sekitar 15 bulan, sebelum warga mulai mengeluhkan penurunan tekanan air.

Angka-Angka yang Sulit Diabaikan: 10%, 33%, dan Tahun 2030

Meta telah mengeluarkan pernyataan resmi melalui juru bicaranya, Ryan Daniels, yang menegaskan bahwa perusahaan bekerja sama erat dengan operator air dan sanitasi setempat. Meta juga mengklaim telah menugaskan investigasi air tanah independen di Stanton Springs, dengan hasil yang menunjukkan bahwa operasi dan konstruksi data center tidak berdampak negatif pada warga.

Namun, sejumlah data yang terungkap dalam sidang memberikan gambaran berbeda:

IndikatorData
Porsi penggunaan air Meta~10% dari total konsumsi air harian Morgan County
Proyeksi kenaikan tarif air warga sekitar33%
Prediksi defisit neraca airTahun 2030 (sekitar 4 tahun lagi)

Sebagai perbandingan skala, satu data center AI besar dapat mengonsumsi hingga 5 juta galon air per hari untuk sistem pendingin — setara dengan kebutuhan lebih dari 16.000 rumah tangga. Proyeksi konsumsi listrik data center AS pada 2030 mencapai 1.050 TWh per tahun, dengan konsumsi air yang turut meningkat secara paralel.

Tarik-Ulur Regulasi: Deregulasi vs. Moratorium Pembangunan

Di balik kasus ini terdapat dinamika regulasi federal yang kompleks. Pada musim panas 2025, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempercepat perizinan federal bagi pembangunan data center. Pada 11 Mei 2026, Kepala EPA Lee Zeldin mengusulkan aturan yang memungkinkan pengembang memulai "pra-konstruksi" sebelum izin lingkungan final diterbitkan.

Di sisi berlawanan, AOC bersama Senator Bernie Sanders mengajukan rancangan undang-undang pada Maret lalu yang bertujuan menghentikan sementara pembangunan data center AI hingga regulasi perlindungan lingkungan yang memadai tersedia.

Survei opini publik menunjukkan bahwa 7 dari 10 warga AS menolak pembangunan data center di dekat tempat tinggal mereka, dan berbagai daerah mulai menetapkan peraturan daerah yang membatasi pembangunan fasilitas semacam ini.

Relevansi bagi Pengguna Layanan Digital di Indonesia

Bagi pengguna layanan AI dan cloud di Indonesia — mulai dari platform e-commerce, media sosial, hingga asisten virtual — kasus ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur digital yang kita gunakan sehari-hari memiliki jejak fisik yang nyata: konsumsi air, energi listrik, dan dampak terhadap komunitas lokal di mana fasilitas tersebut berdiri.

Indonesia sendiri tengah menjadi salah satu tujuan investasi data center di kawasan Asia Tenggara. Seiring meningkatnya pembangunan fasilitas serupa di dalam negeri, isu tata kelola lingkungan dan transparansi penggunaan sumber daya alam — termasuk air tanah — menjadi semakin relevan untuk diperhatikan oleh regulator, pemerintah daerah, maupun masyarakat luas.

Hasil investigasi EPA dan ada-tidaknya pernyataan resmi lanjutan dari Meta akan menjadi perkembangan kunci yang patut dipantau dalam beberapa bulan ke depan.

Sumber