Apple bersiap menghadirkan iklan berbayar di dalam aplikasi Apple Maps, dengan target peluncuran pada musim panas 2026 di Amerika Serikat dan Kanada. Yang menjadi perhatian banyak pengguna: tidak tersedia opsi untuk menonaktifkan iklan berbasis lokasi tersebut.

iOS 26.5 Menyiapkan Fondasi, Iklan Belum Aktif

Pembaruan iOS 26.5 yang baru saja dirilis membawa fitur baru bernama Suggested Places (Tempat yang Disarankan) ke dalam Apple Maps. Fitur ini menampilkan rekomendasi lokasi berdasarkan riwayat pencarian pengguna dan tempat-tempat yang sedang populer di sekitar mereka.

Perlu dicatat, iOS 26.5 belum menampilkan iklan secara aktif. Berdasarkan laporan MacRumors, Apple memang telah melakukan pengujian internal — termasuk uji coba layar splash untuk tampilan iklan — namun selama periode beta maupun setelah rilis resmi, belum ada iklan yang muncul di aplikasi. Dengan kata lain, iOS 26.5 baru menyiapkan infrastruktur, bukan mengaktifkan iklan itu sendiri.

Suggested Places sendiri nantinya akan menjadi salah satu dari dua lokasi utama penempatan iklan di dalam Apple Maps.

Kapan Tepatnya Iklan Akan Muncul?

Apple mengumumkan rencana ini pada Maret 2026, dengan pernyataan bahwa iklan akan mulai tayang "musim panas ini" (this summer) di AS dan Kanada. Karena definisi "musim panas" bisa bervariasi, rentang waktunya cukup lebar:

Definisi Musim PanasRentang Waktu
Musim panas astronomis (belahan bumi utara)21 Juni – 22 September
Musim panas meteorologis1 Juni – 31 Agustus

Artinya, iklan di Apple Maps kemungkinan akan mulai aktif antara 1 Juni hingga 22 September 2026, tergantung definisi mana yang digunakan Apple. Karena ini merupakan pengumuman resmi dari Apple — bukan sekadar bocoran — implementasinya dianggap hampir pasti terjadi, meski tanggal pastinya belum dikonfirmasi.

Cara Kerja Iklan dan Soal Privasi yang Perlu Diperhatikan

Iklan akan muncul di dua tempat: hasil pencarian di Apple Maps dan bagian Suggested Places. Fitur ini tersedia untuk iPhone dan iPad, dengan label "Ad" yang ditampilkan secara eksplisit — serupa dengan iklan di App Store Search.

Sistem penayangan iklan menggunakan model lelang kata kunci (keyword bidding): pengiklan mengajukan tawaran untuk kata kunci atau frasa pencarian tertentu, dan iklan dari penawar tertinggi yang akan muncul di hasil pencarian.

Dari sisi privasi, Apple menyampaikan beberapa hal:

  • Data lokasi dan interaksi pengguna dengan iklan tidak dikaitkan dengan akun Apple
  • Data tersebut tidak dibagikan kepada pihak ketiga
  • Namun, tidak tersedia opsi opt-out untuk iklan berbasis lokasi dan iklan yang dipersonalisasi di Suggested Places

Ketiadaan opsi opt-out ini cukup mengejutkan, mengingat Apple selama ini dikenal sebagai perusahaan yang vokal dalam isu privasi pengguna. Hal ini berpotensi memicu kritik dari komunitas pengguna yang selama ini mempercayai ekosistem Apple justru karena pendekatan privasinya.

Sebagai pembanding, Apple menggunakan pendekatan berbasis konteks (contextual targeting) — mengandalkan sinyal seperti kueri pencarian saat ini, perkiraan lokasi, dan apa yang sedang ditampilkan di layar — alih-alih membangun profil pengguna secara mendalam seperti yang dilakukan Google.

Apple Business: Pintu Masuk bagi Pengiklan

Iklan di Apple Maps akan dikelola melalui platform baru bernama Apple Business, yang mulai tersedia pada 14 April 2026. Platform ini dirancang sebagai solusi terpadu bagi pelaku usaha, mencakup manajemen merek, manajemen perangkat mobile (MDM), hingga email bisnis.

Alur pengajuan iklan untuk Maps adalah sebagai berikut:

  1. Pelaku usaha terlebih dahulu harus melakukan klaim lokasi (location claim) bisnis mereka di Apple Maps
  2. Setelah lokasi diklaim, iklan dapat diajukan melalui Apple Business
  3. Pengiklan yang sudah menggunakan Apple Ads sebelumnya tetap dapat memasang iklan melalui platform lama, dengan opsi kustomisasi kampanye tambahan

Dampak bagi Pengguna di Indonesia

Untuk saat ini, program iklan Apple Maps hanya berlaku di Amerika Serikat dan Kanada. Apple belum mengumumkan rencana ekspansi ke kawasan lain, termasuk Asia Tenggara.

Bagi pengguna di Indonesia, dampak langsung dari pengumuman ini masih terbatas. Namun, langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi bisnis Apple: dari perusahaan yang mengandalkan penjualan perangkat keras, menuju ekosistem layanan dan iklan yang semakin agresif. Divisi layanan Apple telah melampaui pendapatan US$100 miliar (sekitar Rp 1.625 triliun) sepanjang 2025, dan bisnis iklan Apple diproyeksikan menghasilkan sekitar US$8,5 miliar (sekitar Rp 138 triliun) pada 2026.

Jika tren ini berlanjut, tidak tertutup kemungkinan Apple Maps akan membawa model iklan serupa ke pasar Asia — termasuk Indonesia — dalam beberapa tahun ke depan. Bagi pengguna iPhone di Indonesia yang aktif menggunakan Apple Maps, ini adalah perkembangan yang layak untuk terus dipantau.

Sumber