Amazfit resmi memperkenalkan Cheetah 2 Ultra, smartwatch GPS premium yang dirancang khusus untuk pelari trail dan kompetisi ultra-distance. Hadir setelah Cheetah 2 Pro, model ini membawa bodi titanium Grade 5, layar AMOLED 3.000 nit, serta daya tahan GPS yang jauh melampaui pendahulunya — menjadikannya kandidat serius di segmen jam tangan olahraga premium.
Bodi Titanium dan Layar Safir: Bukan Sekadar Gaya
Cheetah 2 Ultra menggunakan rangka Grade 5 titanium yang sama dengan material yang dipakai pada jam tangan sport kelas atas seperti Garmin Fenix. Permukaan layarnya dilindungi kaca safir, material yang dikenal tahan goresan bahkan di medan berbatu sekalipun.
Layar AMOLED berukuran 1,5 inci dengan resolusi 480×480 piksel (323 PPI) mampu mencapai kecerahan puncak 3.000 nit — cukup terang untuk dibaca di bawah sinar matahari langsung saat berlari di pegunungan. Dimensi keseluruhan adalah 47,4×47,4 mm dengan ketebalan 15,6 mm, dan bobot 52 gram tanpa tali.
Ketahanan air mencapai 5 ATM, memadai untuk aktivitas di luar ruangan termasuk hujan deras atau penyeberangan sungai dangkal dalam kondisi trail.
GPS 228 Jam dan Navigasi Peta yang Dipercepat
Inilah keunggulan utama Cheetah 2 Ultra dibanding Cheetah 2 Pro. Kapasitas baterai ditingkatkan dari 540 mAh menjadi 780 mAh — naik 44%. Dampaknya langsung terasa pada daya tahan GPS:
| Mode GPS | Daya Tahan |
|---|---|
| Trail Running Mode | 33 jam |
| Accurate GPS | 60 jam |
| Mode GPS Maksimum | 228 jam |
Untuk konteks, pelari ultra-distance seperti peserta lomba 100 mil atau multi-day trail race membutuhkan jam tangan yang bisa bertahan tanpa pengisian daya selama puluhan jam. Mode 33 jam pada Trail Running Mode sudah mencakup sebagian besar lomba ultra-marathon standar.
Navigasi peta juga mendapat peningkatan signifikan. Cheetah 2 Ultra menggunakan sistem dual-frequency dengan 6 sistem satelit sekaligus. Rendering peta topografi diklaim 2,5 kali lebih cepat dibanding generasi sebelumnya, dengan refresh rate peta 12 kali lebih cepat. Fitur pembuatan rute antar titik dan auto-reroute turut disertakan — berguna saat pelari kehilangan jalur di tengah hutan atau pegunungan.
Satu tambahan yang jarang ditemukan di jam tangan lain: lampu senter terintegrasi dengan empat mode (putih, merah, SOS, dan Boost) dengan intensitas maksimum 300 lux. Fitur ini sangat relevan untuk pelari yang memulai atau mengakhiri sesi di kondisi gelap.
Zepp, Hybrid Training, dan Ekosistem Pelatihan
Di sisi perangkat lunak, Cheetah 2 Ultra terhubung dengan ekosistem Zepp milik Amazfit yang menyediakan analisis latihan dan pemulihan. Platform Hybrid Training yang terus dikembangkan Amazfit membantu pengguna menyeimbangkan latihan ketahanan, kekuatan, dan pemulihan dalam satu dasbor.
Yang membedakan Ultra dari Pro adalah kemampuan analisis beban kerja berbasis medan. Alih-alih menghitung jarak lari trail sama seperti lari jalan raya, sistem ini mempertimbangkan tingkat kesulitan topografi dalam kalkulasi beban latihan — pendekatan yang lebih relevan bagi pelari gunung.
Penyimpanan internal sebesar 64 GB memungkinkan pengguna menyimpan lebih dari 100 jam podcast atau musik untuk menemani sesi latihan panjang tanpa perlu membawa ponsel. Integrasi tersedia untuk TrainingPeaks, Runna, Intervals.icu, dan Strava.
Perlu dicatat, Amazfit juga telah menandatangani kemitraan global tiga tahun dengan HYROX — kompetisi fitness hybrid yang semakin populer di kalangan atlet Indonesia — dengan lisensi nama HYROX secara langsung pada platform pelatihan mereka.
Harga $599: Di Mana Posisinya di Pasar?
Cheetah 2 Ultra dijual seharga $599 (sekitar Rp 9.700.000) di Amazfit.com, sementara di kawasan Eropa dibanderol 599 Euro (sekitar Rp 10.500.000). Selisih sekitar $150 (sekitar Rp 2.400.000) memisahkannya dari Cheetah 2 Pro yang dibanderol sekitar $449 (sekitar Rp 7.300.000).
Sebagai gambaran posisi di pasar GPS watch premium:
- Coros Pace 4 — sekitar $250 (Rp 4.060.000), segmen entry-level
- Garmin Forerunner 570 — kisaran $450–$550 (Rp 7.300.000–8.900.000)
- Garmin Fenix 8 Solar — kompetitor langsung di segmen trail durasi panjang
- Garmin Forerunner 970 — disebut iRunFar sebagai pemimpin pasar GPS watch 2026
Menariknya, iRunFar — media referensi komunitas trail running global — menilai Amazfit telah berevolusi dari "alternatif murah" menjadi "pesaing yang sah" di segmen premium. Ini bukan penilaian yang mudah diraih mengingat dominasi Garmin di kategori ini selama bertahun-tahun.
Ketersediaan untuk Konsumen Indonesia
Informasi rilis resmi untuk pasar Indonesia belum diumumkan. Namun mengingat Amazfit memiliki kehadiran di pasar Asia Tenggara, konsumen Indonesia dapat memantau ketersediaan melalui toko resmi Amazfit di Tokopedia dan Shopee, atau menunggu pengumuman distribusi regional.
Bagi pelari trail dan ultra-distance di Indonesia yang selama ini mempertimbangkan Garmin Fenix atau Suunto sebagai pilihan utama, Cheetah 2 Ultra layak masuk daftar perbandingan — terutama jika harga resmi Indonesia nantinya lebih kompetitif dari harga impor paralel yang biasanya beredar.
Sumber
- Android Authority — Amazfit follows the Cheetah 2 Pro with a rugged new Ultra model
- Gadgets & Wearables — Amazfit Cheetah 2 Ultra pushes further vs the Cheetah 2 Pro
- Notebookcheck — Amazfit releases new smartwatch with AMOLED display and up to 30 days battery life
