Star Citizen, game simulasi luar angkasa besutan Cloud Imperium Games, baru saja melewati tonggak bersejarah: total dana yang terkumpul dari para pendukung individu kini melampaui $1 miliar (sekitar Rp 16,25 triliun). Namun di balik angka yang mencengangkan itu, ada fakta yang tak kalah mengejutkan — setelah hampir sembilan tahun sejak early access diluncurkan pada 2017, game ini masih berstatus alfa. Engadget melaporkan pencapaian ini pada 25 Mei 2026.

$1 Miliar dari Kantong Individu: Apa yang Membuat Ini Berbeda?

Angka $1 miliar (sekitar Rp 16,25 triliun) dalam pengembangan game memang bukan hal yang sepenuhnya baru. Rockstar Games diperkirakan telah menginvestasikan hingga $1,5 miliar (sekitar Rp 24,37 triliun) untuk mengembangkan Grand Theft Auto VI — meski angka tersebut masih bersifat estimasi dan belum dikonfirmasi secara resmi.

Yang membedakan Star Citizen adalah sumber dananya. Seluruh $1 miliar lebih itu berasal dari lebih dari 6,5 juta pendukung individu melalui skema crowdfunding — bukan dari publisher besar, bukan dari modal ventura, dan bukan dari perusahaan induk mana pun. Ini menjadikan Star Citizen sebagai proyek crowdfunding terbesar dalam sejarah industri game.

Bagi komunitas gaming global, termasuk di Indonesia, ini adalah preseden yang belum pernah terjadi sebelumnya: jutaan orang rela merogoh kocek secara sukarela untuk sebuah game yang belum selesai, dan terus melakukannya selama hampir satu dekade.

Perjalanan Dana: Dari $500 Ribu Menjadi $1 Miliar

Untuk memahami betapa luar biasanya skala ini, perlu dilihat bagaimana dana tersebut berkembang dari waktu ke waktu:

PeriodeTotal Dana TerkumpulCatatan
2012$2,1 juta + $4,1 juta terpisah (sekitar Rp 100 miliar)Target awal Kickstarter hanya $500 ribu — terlampaui jauh
2014Lebih dari $55 juta (sekitar Rp 893 miliar)Memecahkan rekor crowdfunding dunia saat itu
2017Lebih dari $170 juta (sekitar Rp 2,76 triliun)Early access mulai dibuka
2026Lebih dari $1 miliar (sekitar Rp 16,25 triliun)6,5 juta pendukung, masih tahap alfa

Dari target awal yang hanya $500 ribu (sekitar Rp 8,1 miliar), proyek ini tumbuh menjadi fenomena yang skala finansialnya melampaui banyak film blockbuster Hollywood sekalipun.

Chris Roberts: "Publisher Konvensional Tidak Akan Sanggup Melakukan Ini"

CEO sekaligus game director Cloud Imperium Games, Chris Roberts, dalam wawancara dengan Variety yang dikutip Engadget, menjelaskan mengapa model pengembangan seperti ini hanya bisa berjalan dengan dukungan komunitas.

Menurut Roberts, publisher besar maupun perusahaan private equity tidak memiliki kesabaran dan waktu yang dibutuhkan untuk proyek sebesar ini. Sebaliknya, para pendukung individu yang berbagi visi yang sama rela menunggu karena mereka ingin melihat "dunia terbesar dan terbaik yang mungkin bisa diciptakan."

Roberts juga menegaskan bahwa bahkan setelah versi "1.0" — yakni rilis resmi yang tidak lagi disebut alfa — diluncurkan, pengembangan akan terus berlanjut. Ia menggambarkan Star Citizen sebagai ruang di mana pemain bisa terus berpetualang, bertemu, dan menikmati pengalaman bersama dalam jangka panjang.

Perlu dicatat, narasi ini memang terdengar meyakinkan, namun fakta bahwa game masih berada di tahap alfa setelah hampir satu dekade tetap menjadi pertanyaan yang sah bagi siapa pun yang mempertimbangkan untuk mendukung proyek ini.

Squadron 42: "Sudah di Tahap Akhir", Tapi Tanpa Tanggal Pasti

Paralel dengan Star Citizen, Cloud Imperium juga mengembangkan Squadron 42 — spin-off single-player yang menampilkan pengalaman seperti "menjadi bintang film aksi berskala besar", menurut Roberts. Situs resmi game ini menyebutkan rilis dijadwalkan pada tahun 2026, namun hingga kini belum ada tanggal peluncuran yang dikonfirmasi secara resmi.

Roberts menyatakan bahwa tim "sudah berada di tahap akhir" dan semuanya "berjalan sangat baik." Ia juga menggambarkan Squadron 42 sebagai pengalaman yang memadukan storytelling sinematik dengan gameplay first-person secara mulus.

Menariknya, Squadron 42 sendiri telah mengalami beberapa kali penundaan sebelumnya. Pernyataan "sudah di tahap akhir" dari Roberts memang berasal langsung dari pihak pengembang, namun rekam jejak penundaan yang ada membuat pernyataan tersebut lebih tepat diperlakukan sebagai sinyal optimisme ketimbang kepastian.

Apa yang Perlu Diperhatikan ke Depan

Bagi siapa pun yang mengikuti perkembangan Star Citizen — baik sebagai pendukung aktif maupun pengamat industri — ada tiga hal yang layak dipantau:

  1. Tanggal resmi Squadron 42: Apakah rilis 2026 akan terwujud, atau akan ada penundaan berikutnya?
  2. Milestone "1.0" Star Citizen: Kapan game utama ini akhirnya keluar dari status alfa?
  3. Keberlanjutan pendukung: Apakah jumlah pendukung akan terus bertambah setelah melewati angka $1 miliar, atau momentum ini akan melambat?

Bagi konsumen di Indonesia yang tertarik dengan game ini, perlu diketahui bahwa Star Citizen sudah bisa dimainkan dalam versi early access sejak 2017. Namun mengingat statusnya yang masih alfa dan rekam jejak pengembangannya, keputusan untuk berinvestasi dalam proyek ini sebaiknya dipertimbangkan dengan matang. Dampak langsung terhadap pasar game Indonesia sendiri terbilang terbatas, mengingat game ini belum memiliki distribusi resmi di kawasan ini.

Sumber