ANBERNIC RG Rotate hadir sebagai handheld Android dengan desain layar putar yang tidak biasa, dibanderol $87.99 (sekitar Rp 1.430.000). Namun di balik harga terjangkau dan bentuk yang memancing rasa penasaran, ulasan dari Android Authority mengungkap sejumlah kompromi serius yang wajib dipertimbangkan sebelum membeli.

Desain Putar yang Memukau — Seperti Motorola Flipout Versi Gaming

Daya tarik utama RG Rotate terletak pada mekanisme swivel: pengguna menekan sudut kanan bawah layar, lalu layar berputar untuk memperlihatkan bagian kontrol fisik di bawahnya. Reviewer Hadlee Simons dari Android Authority menggambarkan sensasinya seperti membuka pisau lipat, dengan bunyi "klik" yang memuaskan sehingga ia berulang kali membuka dan menutupnya hanya demi merasakan sensasi tersebut.

ANBERNIC sendiri memang memposisikan mekanisme ini layaknya mainan fidget, dan perbandingan historis yang tepat adalah Motorola Flipout dari tahun 2010 — ponsel persegi yang layarnya berputar untuk memperlihatkan papan ketik fisik. Meski Flipout tidak sukses secara komersial, ia dikenang sebagai perangkat yang berani tampil beda di era dominasi ponsel layar lebar.

Perlu dicatat, ada laporan bahwa membuka layar terlalu perlahan sesekali membuat layar berhenti di posisi miring. Namun ini hanya terjadi jika dilakukan secara sengaja sangat lambat, dan tidak mengganggu penggunaan normal.

Tangan Sakit dalam 20 Menit: Kompromi Terbesar RG Rotate

Bobot perangkat terbilang ringan — varian hitam berbahan plastik dengan bagian atas aluminium hanya 167 gram, sementara varian silver berbodi metal mencapai 204 gram. Ukurannya pun muat di telapak tangan dengan mudah.

Namun justru di sinilah masalah utama muncul. Simons, yang mengaku tidak memiliki tangan besar, menyatakan bahwa tangan mulai terasa sakit setelah sekitar 20 menit bermain. Ukuran yang terlalu kompak membuat genggaman tidak ergonomis untuk sesi gaming yang panjang. Ia menyarankan perangkat ini lebih cocok untuk anak-anak, bukan pengguna dewasa yang ingin bermain lama.

Bagian kontrol pun sangat minimalis: hanya D-pad, empat tombol aksi, serta tombol Start/Select. Tidak ada analog stick sama sekali. Ini berarti banyak game Nintendo 64, PS1 generasi akhir, dan mayoritas game generasi keenam tidak akan berjalan dengan nyaman. Empat tombol shoulder (termasuk L2/R2) berukuran kecil dan berdekatan, sehingga mudah salah tekan — meski tersedia L2/R2 berukuran lebih besar sebagai pengganti.

Spesifikasi: Unisoc Tiger T618 dengan Layar Persegi 3,5 Inci

Dapur pacu RG Rotate menggunakan chipset Unisoc Tiger T618 dengan RAM 3 GB dan penyimpanan 32 GB yang dapat diperluas. Layarnya berukuran 3,5 inci dengan resolusi 720×720 piksel dalam format IPS — rasio 1:1 yang persegi.

Ukuran 3,5 inci jelas lebih kecil dibanding handheld populer saat ini yang umumnya berkisar 4–5 inci. Rasio layar yang persegi pun membuat banyak game menampilkan letterbox hitam di sisi kiri dan kanan, membuat area bermain terasa semakin sempit.

Dalam uji benchmark GPU (Wild Life Stress Test), RG Rotate menempati posisi kedua di antara perangkat sekelasnya:

PerangkatPosisi
AYANEO Pocket Air MiniPertama (unggul jauh)
ANBERNIC RG RotateKedua
Retroid Pocket ClassicDi bawah RG Rotate
MANGMI AIR XDi bawah RG Rotate

Untuk emulasi, PS1, Nintendo 64, dan PSP adalah zona nyaman perangkat ini. Game Neo Geo Pocket Color bahkan tampil istimewa karena rasio layarnya mendekati aslinya. Sebaliknya, emulasi PS2 dan GameCube sebaiknya tidak diharapkan — banyak game berjalan dalam kondisi slow motion atau seperti slideshow, bahkan setelah mengaktifkan underclock dan penurunan resolusi di AetherSX2.

Baterai 2.000 mAh: "Terlalu Kecil untuk Standar 2026"

Kapasitas baterai 2.000 mAh menjadi sorotan tajam dalam ulasan ini. Simons menyebutnya "kecil secara absolut untuk ukuran 2026." Dalam penggunaan campuran (GBA, Neo Geo, diselingi emulasi GameCube/PS2) dengan kecerahan layar di bawah 40%, diperoleh waktu layar aktif sekitar 3,5 hingga 4 jam — lebih baik dari perkiraan, tetapi tetap tergolong singkat.

Pengisian daya menggunakan kabel 10W, dan bahkan dengan charger 67W milik Xiaomi sekalipun, pengisian penuh membutuhkan lebih dari satu jam — terlalu lama untuk baterai sekecil ini. Untuk perjalanan jauh atau penerbangan panjang, perangkat lain jelas lebih disarankan.

Dari sisi perangkat lunak, RG Rotate menjalankan Android 12 — versi yang sudah mulai tertinggal mengingat banyak emulator terbaru mulai menargetkan Android yang lebih baru. RG Launcher dan emulator bawaan menjadi nilai tambah, namun ketiadaan jack audio 3,5 mm terasa janggal mengingat ANBERNIC juga mempromosikan perangkat ini sebagai pemutar media.

Untuk Siapa RG Rotate Layak Dibeli?

Dengan harga $87.99 (sekitar Rp 1.430.000), RG Rotate menawarkan desain yang benar-benar berbeda dan performa yang sepadan dengan harganya di segmen bawah $100. Namun komprominya nyata: baterai kecil, pengisian lambat, kontrol terbatas, dan ukuran yang menyakitkan tangan saat dipakai lama.

Cocok untuk: penggemar desain unik yang ingin mencoba mekanisme putar, orang tua yang mencari handheld untuk anak-anak, serta pengguna yang fokus pada emulasi PS1, N64, PSP, dan konsol genggam retro.

Kurang cocok untuk: pengguna dengan tangan besar, yang ingin sesi gaming panjang, yang menginginkan emulasi PS2/GameCube lancar, atau yang sering bepergian jauh.

Sebagai perbandingan, dua alternatif yang disebut dalam ulasan adalah ANBERNIC RG Slide seharga $199.99 (sekitar Rp 3.250.000) dengan desain slide ala Xperia Play dan performa lebih baik, serta AYANEO Pocket Air Mini seharga $69.99 (sekitar Rp 1.140.000) yang menawarkan performa lebih unggul, layar 4:3, dan dua analog stick.

Bagi konsumen di Indonesia, ketiga perangkat ini umumnya tersedia melalui platform impor seperti AliExpress atau Shopee lintas batas. Informasi ketersediaan resmi di pasar Indonesia belum diumumkan oleh ANBERNIC.

Sumber