Sebuah handheld retro berlabel Lenovo bernama G02 tengah menjadi perbincangan di komunitas gaming global. Perangkat seharga $72,92 (sekitar Rp 1.200.000) yang dijual di AliExpres versi China ini dilaporkan memuat ribuan ROM—termasuk judul-judul milik Nintendo—tanpa lisensi resmi. Meski Lenovo mengonfirmasi keaslian produk ini, statusnya jauh dari sederhana.
Ribuan ROM Termasuk Judul Nintendo Sudah Terpasang Sejak Awal
Inti persoalan yang diangkat Retro Dodo dan dirangkum oleh Patrick O'Rourke dari XDA Developers adalah: G02 dilaporkan hadir dengan ribuan judul game yang sudah tertanam di dalamnya sejak keluar dari kotak, dan sebagian besar diduga merupakan ROM berhak cipta.
Yang paling mencolok adalah kehadiran judul-judul milik Nintendo. O'Rourke menilai kemungkinan judul-judul tersebut telah mendapat lisensi resmi dari Nintendo sebagai "sangat kecil". Mengingat rekam jejak Nintendo dalam memproteksi kekayaan intelektualnya secara agresif—termasuk berbagai tuntutan hukum terhadap situs distribusi ROM—skenario di mana Nintendo mengizinkan pihak ketiga memuat game mereka ke handheld buatan China tanpa pengumuman resmi memang sulit dibayangkan.
Perlu dicatat, fenomena ini bukan hanya soal G02. O'Rourke menyebut bahwa banyak handheld retro asal China yang beredar di AliExpress maupun Amazon tidak secara eksplisit mencantumkan daftar game yang disertakan. Yang tertera hanya kapasitas kartu microSD atau jumlah game secara total. Dalam beberapa kasus, pembeli baru mengetahui isi perangkat setelah menyalakannya—termasuk menemukan judul seperti Grand Theft Auto III yang jelas memiliki pemilik hak cipta.
Lenovo Akui G02, tapi Bukan Produk Global Resmi
Ketika G02 pertama kali muncul di AliExpress China pada awal Mei 2026, banyak yang mempertanyakan apakah ini produk resmi atau sekadar pemalsuan yang menumpang nama besar. Retro Dodo kemudian menghubungi divisi Product and Licensing Lenovo, dan jawabannya cukup mengejutkan: G02 adalah produk yang sah—namun dengan catatan penting.
Lenovo menyatakan:
"The G02 device is produced through a regional brand licensing agreement meant for the China market only and is not part of Lenovo's official global product portfolio."
Artinya, G02 diproduksi berdasarkan perjanjian lisensi merek regional khusus pasar China, dan tidak masuk dalam portofolio produk global resmi Lenovo. Lenovo juga menambahkan bahwa produk yang lahir dari perjanjian semacam ini bisa berbeda spesifikasinya dari produk Lenovo yang dijual melalui saluran resmi.
O'Rourke menduga ada produsen pihak ketiga yang menjalin kontrak white label dengan Lenovo, lalu menggunakan nama tersebut untuk memasarkan perangkat ini. Meski begitu, ia menegaskan bahwa perjanjian semacam itu tetap harus melalui proses persetujuan di pihak Lenovo—sehingga tanggung jawab tidak sepenuhnya bisa dilepaskan.
Preseden Nintendo di China: iQue Player
Menariknya, Nintendo pernah memberikan lisensi resmi untuk pasar China. Pada 2003, perusahaan China bernama iQue memproduksi iQue Player—versi Nintendo 64 yang terhubung ke TV dan dirancang khusus untuk pasar China. iQue kemudian juga merilis versi China dari Game Boy Advance, Nintendo DS, hingga Nintendo 3DS XL, seiring pelonggaran regulasi konsol di negara tersebut.
Namun, preseden tersebut tidak serta-merta membuat kasus G02 menjadi lebih bersih. Tidak ada indikasi bahwa Nintendo terlibat dalam perjanjian lisensi apa pun terkait G02, dan Nintendo sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait perangkat ini berdasarkan laporan yang ada.
Risiko Reputasi yang Nyata bagi Lenovo
Terlepas dari status white label-nya, logo Lenovo tetap terpampang jelas di perangkat ini. O'Rourke menilai hal ini sebagai masalah serius bagi citra Lenovo—baik dari sisi hubungan masyarakat maupun hukum. Sebuah perusahaan teknologi sekelas Lenovo, yang dikenal luas lewat lini ThinkPad dan Legion, berpotensi dikaitkan dengan distribusi konten bajakan hanya karena membiarkan namanya digunakan dalam perjanjian lisensi yang kurang ketat pengawasannya.
Apa Artinya bagi Konsumen di Indonesia?
G02 saat ini hanya tersedia di AliExpress versi China dan tidak masuk dalam portofolio global Lenovo. Informasi rilis untuk pasar Indonesia belum diumumkan, dan kemungkinan besar tidak akan ada distribusi resmi mengingat statusnya sebagai produk lisensi regional.
Bagi konsumen Indonesia yang tertarik dengan handheld retro di kisaran harga serupa, pasar lokal sudah menawarkan alternatif dari merek seperti Anbernic atau Retroid yang lebih transparan soal konten bawaannya. Yang perlu diingat: memiliki perangkat yang memuat ROM berhak cipta tanpa lisensi—meski dibeli secara fisik—tetap membawa risiko hukum di berbagai yurisdiksi. Sebaiknya tunggu perkembangan lebih lanjut, terutama respons resmi dari Nintendo, sebelum mempertimbangkan pembelian perangkat semacam ini.
