Google secara resmi memperkenalkan lini laptop barunya, Googlebook, pada ajang The Android Show: I/O Edition 12 Mei 2026. Bocoran kode internal sebelumnya menunjukkan setidaknya delapan model akan dirilis sepanjang tahun ini, dengan kombinasi chip dari tiga vendor berbeda: Intel, Qualcomm, dan MediaTek. Bagi konsumen di Indonesia, pilihan arsitektur ini akan menentukan kompatibilitas aplikasi, daya tahan baterai, dan kisaran harga unit yang akan masuk ke pasar.
Delapan Model, Tiga Vendor Chip: Rincian Kode Bocoran
Informasi awal mengenai skala peluncuran Googlebook berasal dari analisis repositori Chromium Gerrit yang dilakukan Chrome Unboxed, kemudian dirangkum oleh Tushar Mehta dari Android Authority. Jejak kode tersebut menunjukkan Google menyiapkan minimal delapan perangkat dengan kombinasi chip sebagai berikut:
| Vendor | Chip | Kode Internal |
|---|---|---|
| Intel | Panther Lake (Core Ultra seri 300) | Felino / Lapis / Moonstone / Ruby |
| Qualcomm | Snapdragon X Plus | Quenbi / Mica / Quartz |
| MediaTek | Kompanio Ultra | Sapphire |
Identitas OEM untuk masing-masing kode belum diungkap. Komposisi empat model Intel, tiga Qualcomm, dan satu MediaTek mengindikasikan Google akan menyediakan variasi cukup luas, baik dari sisi form factor maupun segmen harga.
Qualcomm Pakai X Plus, Bukan X2 Terbaru
Salah satu poin yang menarik perhatian adalah pilihan chip Qualcomm. Alih-alih menggunakan Snapdragon X2 yang lebih baru, Google dilaporkan memilih generasi sebelumnya, yaitu Snapdragon X Plus. Langkah ini menunjukkan Google tidak mengejar segmen flagship Arm secara agresif, melainkan mempertahankan keseimbangan harga dan efisiensi daya yang selama ini menjadi karakter Chromebook.
Di sisi x86, Intel Panther Lake (Core Ultra seri 300) akan menjadi tulang punggung utama. Sementara itu, MediaTek Kompanio Ultra pada kode "Sapphire" merupakan chip yang sebelumnya pernah dipakai di sejumlah Chromebook kelas menengah, kini kembali muncul untuk lini Googlebook.
Aluminium OS dan Integrasi Gemini
Berbeda dari Chromebook konvensional, Googlebook dijalankan di atas sistem operasi baru bernama Aluminium OS, yang dibangun di atas pondasi Android 17. Proyek ini merupakan integrasi ChromeOS dan Android dengan tujuan menjalankan aplikasi Android secara native, tanpa lapisan translasi seperti sebelumnya.
Yang menjadi diferensiasi utama adalah kehadiran Gemini sebagai pusat pengalaman pengguna, dengan dua fitur khas:
- Magic Pointer — dikembangkan bersama Google DeepMind, fungsinya membantu kursor menjadi kontekstual. Saat di-hover ke tanggal dalam email, sistem dapat langsung menyarankan jadwal rapat atau draf balasan. Pengguna juga bisa memilih dua gambar untuk melihat pratinjau komposit langsung di sekitar kursor.
- Glowbar — strip LED empat warna khas logo Google yang ditanam di bagian belakang layar, berfungsi sebagai indikator notifikasi, status pengisian daya, dan sinyal aktivitas Gemini.
OEM Mitra dan Jadwal Peluncuran
Mitra perangkat keras yang ditunjuk untuk peluncuran Googlebook adalah lima nama yang selama ini menjadi tulang punggung Chromebook: Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo. Skema yang sama ini diperkirakan akan memudahkan transisi distribusi di pasar ritel dan pengadaan korporat.
- Peluncuran: musim gugur 2026 (September–November), bertepatan dengan musim back-to-school dan periode belanja liburan.
- Belum diumumkan: tanggal rilis per model, harga awal, dan rincian SKU per OEM.
Implikasi bagi Pasar Indonesia
Indonesia sendiri belum menjadi pasar utama Chromebook konsumen — perangkat ini lebih banyak digunakan di segmen edukasi dan korporat melalui distributor resmi seperti Erafone atau mitra B2B. Belum ada konfirmasi resmi apakah seluruh delapan model Googlebook akan masuk ke Tanah Air, atau hanya varian tertentu.
Bagi konsumen Indonesia, langkah bijak saat ini adalah menunggu pengumuman harga resmi serta ketersediaan model Arm (Snapdragon/MediaTek) versus x86 (Intel). Pilihan Arm umumnya menawarkan daya tahan baterai lebih panjang dengan harga lebih kompetitif, sedangkan Intel masih unggul dalam kompatibilitas aplikasi profesional. Jika tren harga regional ASEAN diikuti, varian entry-level berpotensi masuk di kisaran Rp 8.000.000–Rp 12.000.000 (sekitar US$490–US$740), meskipun angka ini masih perlu menunggu konfirmasi resmi.
