Edge of Memories, action RPG indie besutan Midgar Studio asal Prancis, menarik perhatian komunitas JRPG global berkat jajaran kreator di balik soundtracknya. Dalam wawancara dengan Wccftech, komposer utama Cédric Menendez bersama Mariam Abounnasr (Xenoblade Chronicles) dan Emi Evans (NieR) membeberkan filosofi desain musik dinamis yang menjadi tulang punggung pengalaman bertarung dalam game ini.

Sistem BGM yang Berevolusi Sejak Tebasan Pertama

Salah satu inovasi paling menonjol dalam Edge of Memories adalah sistem musik dinamis yang dirancang ulang secara menyeluruh dibanding pendahulunya, Edge of Eternity (2018). Pada game sebelumnya, musik pertarungan dipilih secara acak dari tema anggota party saat pertarungan dimulai — pendekatan konvensional yang umum dijumpai di JRPG klasik.

Kini, Menendez mengambil pendekatan berbeda. Begitu protagonis Eline melancarkan serangan pertamanya, musik tidak berganti lagu — melainkan berevolusi. Tema yang sama tetap mengalun, namun instrumen tertentu memudar dan lapisan baru masuk secara bertahap, membangun intensitas epik tanpa jeda atau keheningan yang memutus alur pertarungan.

Sistem ini dibangun di atas middleware audio FMOD, yang memungkinkan tim mengontrol musik secara skriptual sesuai kondisi dalam game. Intensitas musik akan terus menyesuaikan diri, mulai dari pertarungan biasa hingga mode Black Beast — bentuk "super" milik Eline. Menurut Menendez, kunci keberhasilan sistem ini adalah keterlibatan tim audio sejak fase pra-produksi, bukan sekadar ditambahkan di akhir pengembangan.

Dua Dunia, Satu Partitur: Kontras Sonic Avarisland

Dunia Avaris dalam game ini terbagi antara wilayah yang terinfeksi Corrosion (erosi) dan kawasan yang masih terjaga. Menendez tidak memilih jalan mudah dengan sekadar mengganti instrumen untuk membedakan keduanya.

Untuk zona terinfeksi, ia melapisi orkestra dengan vokal yang telah diproses secara digital — menghasilkan suara yang terasa organik namun asing, seperti sesuatu yang hidup namun perlahan hancur. Sementara area yang terjaga menghadirkan nuansa perjalanan dan fantasi, bergerak antara momen epik dan puitis. Transisi antar zona dilakukan melalui crossfade yang mulus berkat sistem dinamis, sehingga perubahan suasana terasa alami tanpa gangguan teknis.

Menendez juga mengakui bahwa latar belakangnya di musik metal dan jazz turut meresap ke dalam komposisi — disadari maupun tidak — sebagai bagian dari "DNA" musikalnya.

Kolaborasi Lintas Franchise: Dari Xenoblade hingga NieR

Dua nama tamu dalam proyek ini cukup untuk membuat penggemar JRPG berdiri tegak.

Mariam Abounnasr, yang dikenal sebagai arranger di Xenoblade Chronicles, turut berkontribusi dalam penulisan dan aransemen musik yang selaras dengan dunia Avaris. Emi Evans, vokalis ikonik dari seri NieR, juga hadir sebagai pengisi suara vokal dalam game ini.

Perlu dicatat, ketika pewawancara Wccftech menyebut bahwa Edge of Memories terasa mirip seri Mana dan menanyakan pengaruhnya terhadap soundtrack, Menendez menolak tegas: "Tidak sama sekali." Ia mengakui ada kemiripan teknis sistem musik pertarungan dengan Visions of Mana, namun menegaskan bahwa satu-satunya game Mana yang pernah ia mainkan adalah Secret of Mana versi SNES era 90-an, dan pengaruh musikalnya tidak sekuat Final Fantasy, Chrono Trigger, maupun The Legend of Zelda. Referensi nyatanya adalah NieR, Final Fantasy VI/VII, dan The Legend of Zelda.

Jajaran Kreator Lengkap: Dari Yasunori Mitsuda hingga Unreal Engine 5

Di luar tim soundtrack inti, Edge of Memories mengumpulkan deretan nama yang tidak main-main:

BidangKreator / Teknologi
Komposer tema akhirYasunori Mitsuda (Chrono Trigger, Xenogears)
Penulis skenarioSawako Natori (penulis NieR)
Desain karakterRaita Kazama (Xenoblade Chronicles X)
Desain pertarunganHikaru Yokoya
EngineUnreal Engine 5
Teknologi grafisNVIDIA DLSS 4.5 (didukung saat rilis)

Yasunori Mitsuda — legenda di balik musik Chrono Trigger dan Xenogears — dipercaya menggarap tema penutup game. Dari sisi gameplay, pemain dapat mengustomisasi tiga loadout skill untuk menyesuaikan komposisi party mereka.

Situasi Bisnis yang Membayangi: Nacon Jual Midgar Studio

Di balik antusiasme kreatif tersebut, kondisi bisnis Edge of Memories berada dalam ketidakpastian. Rilis yang semula dijadwalkan musim gugur 2025 telah diundur ke 2026, dengan target platform PS5, Xbox Series X|S, dan PC (Steam).

Yang lebih mengejutkan: sehari setelah Midgar Studio mendapat sorotan utama di Nacon Connect 2026 pada Mei 2026 — termasuk penayangan trailer gameplay overview berdurasi empat menit — publisher Nacon dilaporkan memasang Midgar Studio sebagai aset yang dijual di tengah krisis keuangan perusahaan. Ini adalah perkembangan yang tidak biasa dan perlu terus dipantau.

Satu kabar positif bagi yang ingin mencoba sebelum memutuskan: demo Steam dijadwalkan tersedia mulai 15 Juni 2026, mencakup area Estfalian Coast (sekitar dua jam gameplay) beserta pertarungan bos.

Bagi komunitas penggemar JRPG di Indonesia, Edge of Memories layak masuk daftar pantauan — terutama mengingat nama-nama di baliknya. Namun mengingat situasi bisnis Midgar Studio yang belum jelas, bijak untuk menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum melakukan pre-order. Informasi rilis resmi untuk pasar Indonesia belum diumumkan.

Sumber