Google diam-diam tengah menguji kemungkinan masa depan di mana setiap pencarian di Chrome langsung berubah menjadi percakapan dengan chatbot, bukan daftar link biru seperti yang selama ini kita kenal. Sebuah flag tersembunyi di Chrome Canary — versi pengembang dari browser tersebut — menunjukkan arah itu, meski Google sendiri menegaskan belum ada rencana untuk merilisnya ke publik. Bagi pengguna di Indonesia yang sangat bergantung pada Google Search untuk riset harian, perubahan ini bisa berdampak signifikan jika benar-benar diluncurkan.
Flag "Fulfill Searchbox Queries in AI Mode" Muncul di Chrome Canary
Penemuan ini pertama kali dilaporkan oleh Windows Report dan kemudian dikutip oleh Engadget. Flag bernama "Fulfill Searchbox Queries in AI Mode" muncul di halaman manajemen flag (chrome://flags) pada Chrome Canary, dengan target empat platform: Mac, Windows, Linux, dan ChromeOS.
Saat ini, pengguna Chrome biasa yang melakukan pencarian akan diarahkan ke tab "All" yang menampilkan ringkasan AI Overview di bagian atas, diikuti deretan link biru ke berbagai situs web. Untuk berpindah ke AI Mode, pengguna harus mengetuk tab terpisah secara manual.
Dengan flag baru ini aktif, alur tersebut berubah drastis:
- Setiap query pencarian langsung membawa pengguna ke AI Mode.
- Tampilan menyerupai percakapan dengan chatbot, bukan halaman hasil tradisional.
- Tab "All" berisi link biru sama sekali dilewati.
Windows Report mencatat bahwa flag ini terasa lebih matang dibanding prototipe biasa, seolah-olah sudah cukup siap untuk dirilis.
Apa Artinya Bagi Pengguna: Sumber Informasi Makin Sulit Dibandingkan
Perubahan ini bukan sekadar kosmetik. Ketika pintu masuk pencarian langsung terhubung ke chatbot AI, pengguna kehilangan akses cepat untuk membandingkan beberapa sumber sekaligus. Hasil yang diterima adalah kesimpulan yang sudah dipilih dan diringkas oleh AI Google, bukan beragam perspektif dari berbagai situs.
Dua dampak utama yang perlu dicatat:
- Sulit membandingkan informasi karena daftar link biru tidak lagi menjadi tampilan awal.
- Trafik ke situs eksternal berpotensi menurun drastis, sebab pengguna semakin jarang mengeklik tautan untuk mendalami sebuah topik.
Bagi ekosistem media digital di Indonesia — termasuk portal berita, blog kuliner, hingga situs tutorial teknologi — perubahan semacam ini bisa memukul trafik organik dari Google Search yang selama ini menjadi sumber pengunjung utama.
Konteks I/O 2026 dan Lonjakan DuckDuckGo
Langkah ini bukan kejadian terisolasi. Pada ajang Google I/O 2026, Google memperkenalkan "Intelligent Search Box" yang dapat menerima video, gambar, file, bahkan tab Chrome itu sendiri sebagai input pencarian. Arahnya jelas: pengalaman pencarian Google semakin condong ke AI.
Namun, tidak semua pengguna menyambut arah tersebut. Setelah I/O 2026, instalasi mesin pencari DuckDuckGo — yang menonjolkan pencarian tanpa AI — dilaporkan melonjak tajam. Menurut TechCrunch, datanya cukup mencolok:
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Rata-rata mingguan instalasi aplikasi di AS | +18,1% |
| Puncak instalasi aplikasi AS (25 Mei) | +30,5% |
| Rata-rata mingguan iOS | +33% |
| Puncak iOS | +69,9% |
| Halaman pencarian no-AI (28 Mei) | sekitar +84% dari normal |
DuckDuckGo juga menyediakan ekstensi browser yang menjadikan pencarian no-AI sebagai default. Menariknya, perusahaan ini tidak sepenuhnya antiterhadap AI — mereka tetap menawarkan Duck.ai, layanan gratis tanpa akun yang memberi akses ke Claude 4.5 Haiku dari Anthropic, Llama 4 Scout dari Meta, Mistral Small 3 24B, hingga GPT-5 mini dari OpenAI.
Pengembang Sebut Hanya untuk Eksperimen Internal
Google belum membuat pengumuman resmi soal flag ini. Windows Report menemukan catatan dari kreator kode flag tersebut yang berbunyi:
"This is just for exploration. There are no current plans to push this live."
Artinya, fitur ini secara teknis sudah berjalan, tetapi belum berada di tahap siap dirilis sebagai produk. Pengguna Chrome versi stabil — termasuk mayoritas pengguna di Indonesia — tidak perlu khawatir flag ini akan tiba-tiba aktif di browser harian mereka dalam waktu dekat.
Eksperimen Lain di Chrome Canary: "Everywhere Omnibox"
Selain flag AI Mode, Chrome Canary juga sedang menguji kotak pencarian melayang bernama "Everywhere Omnibox" dengan kode internal "Project Loom". Konsepnya: kotak pencarian dilepas dari jendela Chrome dan ditampilkan sebagai antarmuka mandiri di tengah desktop.
Pintasan globalnya:
- Windows dan Linux: Ctrl+Shift+Space
- macOS: Cmd+Shift+Space
Kotak ini langsung menghilang ketika pengguna mengeklik area di luarnya, sehingga tidak mengacaukan tampilan desktop. Di dalamnya, pengguna dapat mengunggah file dan gambar, menghasilkan gambar dari teks, serta mengakses beberapa model Gemini secara langsung. Untuk mencoba fitur ini di Canary, pengguna perlu mengaktifkan flag "omnibox-loom".
Implikasi Bagi Pengguna di Indonesia
Bagi konsumen Indonesia, perubahan paradigma pencarian ini layak diperhatikan dari dua sisi. Pertama, jika AI Mode benar-benar menjadi default di masa depan, kebiasaan riset — mulai dari mencari harga gadget di Tokopedia/Shopee hingga membaca review di portal teknologi lokal — akan semakin tergantung pada interpretasi AI Google. Kedua, mereka yang merasa privasi dan keberagaman sumber lebih penting kini punya alternatif yang makin matang seperti DuckDuckGo.
Namun perlu dicatat, flag ini masih dalam tahap eksperimen di Chrome Canary dan kreatornya sendiri menyatakan belum ada rencana rilis. Yang lebih realistis untuk diawasi adalah perkembangan Intelligent Search Box yang sudah diperkenalkan resmi di I/O 2026, karena fitur tersebut yang lebih mungkin tiba di Chrome versi stabil dalam beberapa bulan ke depan.
