Setelah tujuh tahun penantian sejak Ace Combat 7: Skies Unknown (2019), Project Aces akhirnya membuka tabir seri terbaru flight shooter ikonik mereka, Ace Combat 8: Wings of Theve. Laporan hands-on dari Wccftech mengungkap tanggal rilis, alur cerita, hingga satu kabar yang cukup mengecewakan: dukungan VR ditiadakan pada peluncuran.

Jadwal Rilis dan Platform: PS5, Xbox Series, dan Steam pada 2 Oktober

Berdasarkan sesi hands-on yang dihadiri Wccftech, Project Aces menetapkan 2 Oktober sebagai tanggal rilis global Ace Combat 8: Wings of Theve. Gim ini akan tersedia di PlayStation 5, Xbox Series S|X, serta PC melalui Steam secara serentak.

ItemDetail
Tanggal rilis2 Oktober
PlatformPlayStation 5, Xbox Series S|X, PC (Steam)
Bonus pre-orderSalinan Ace Combat Zero
PengembangProject Aces

Bonus pre-order berupa Ace Combat Zero mengikuti pola yang sama dengan Ace Combat 7. Wccftech memperkirakan bonus ini bersifat terbatas waktu dan kemungkinan tidak akan ditawarkan lagi setelah rilis resmi, meski Bandai Namco belum mengonfirmasi durasi penawaran tersebut. Informasi harga resmi juga belum diumumkan, baik untuk pasar global maupun pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Bagi gamer di Indonesia, gim ini dapat diakses dengan mudah melalui Steam atau PlayStation Store regional. Sebagai gambaran, judul Bandai Namco kelas AAA biasanya dibanderol sekitar US$69,99 (sekitar Rp 1.137.000) di Steam Indonesia, meski harga final masih menunggu pengumuman resmi.

Strangereal Kembali di Tahun 2029: Kematian Mentor dan Warisan Callsign "Rex"

Latar cerita masih bertumpu pada dunia fiktif Strangereal yang menjadi ciri khas seri ini, dengan setting tahun 2029 di benua Usean. Beberapa faksi bersaing memperebutkan kendali benua, dan FCU ditempatkan sebagai kekuatan sentral dalam narasi. Ibu kota FCU, Theve, menjadi rumah bagi pilot legendaris Jan Cope — yang sekaligus menjadi inspirasi judul "Wings of Theve".

Pada babak awal, pemain menjalani misi bersama Jan Cope sebelum keduanya ditembak jatuh dan tenggelam ke dasar laut. Jan gagal lolos dari kokpit dan tewas, sementara pemain selamat lalu mewarisi mantel dan callsign Jan: "Rex". Dari titik inilah pemain mulai dikenal dunia sebagai Rex, sosok yang diharapkan mengembalikan kejayaan FCU.

Yang menarik, Wccftech menyoroti bagaimana narasi dibangun melalui media sosial dan propaganda. Rex secara bertahap "diangkat" menjadi pilot terbaik FCU, dengan monolog internal yang terus mengalir bahkan di tengah pertempuran udara. Cutscene berbasis sudut pandang orang pertama menjadi tulang punggung penceritaan, menjadikan Ace Combat 8 lebih dari sekadar arcade dogfight biasa.

Sistem Kendali: Expert Mode dengan 6 Degrees of Freedom Dipertahankan

Project Aces tetap menawarkan dua skema kendali: mode standar yang disederhanakan dan Expert mode yang memetakan barrel roll serta high-G turn ke dua analog stick dengan kontrol 6 degrees of freedom. Wccftech menilai mode standar di gamepad sudah memadai untuk kampanye, namun manuver mengejar target dari belakang terasa "seperti memutar pesawat di tengah kabut". Untuk mode multiplayer, penguasaan Expert mode hampir wajib hukumnya.

Sistem kustomisasi pesawat juga diperluas melalui skill tree berbasis kredit. Pemain dapat membuka misil tambahan hingga pesawat eksperimental. Berikut beberapa detail kustomisasi yang dikonfirmasi:

  • Pesawat pemain dapat berganti antara 3–4 jenis opsi misil dan bom dalam satu pesawat
  • Setiap pesawat punya karakter unik, ada yang fokus pada penguatan persenjataan, ada yang lebih menonjolkan akselerasi dan kelincahan manuver
  • Wingman memiliki ruang kustomisasi lebih terbatas, hanya pemilihan model dan persenjataan bawaan

Tidak Ada Mode VR: Pukulan Telak bagi Penggemar PSVR

Salah satu kejutan paling menohok datang dari sesi tanya jawab. Mengingat Ace Combat 7 dahulu menjadi salah satu killer app PlayStation VR, banyak pihak berharap penerusnya akan mengikuti jejak yang sama. Namun pengembang dengan tegas menyatakan bahwa Ace Combat 8 tidak dirancang dengan dukungan VR untuk saat ini.

Perlu dicatat, frasa "for the time being" yang digunakan pengembang tidak secara mutlak menutup pintu untuk dukungan VR di kemudian hari, tetapi tidak ada komitmen resmi pula. Fidelity cutscene dan efek ledakan diklaim lebih baik dibanding pendahulunya, namun secara keseluruhan tampilan dan rasa bermainnya tetap berada pada koridor yang akrab bagi veteran seri ini. Project Aces memilih memperdalam narasi Strangereal dibandingkan mengubah arah teknologi.

Panduan Keputusan: Apakah Anda Sebaiknya Pre-order?

Bagi calon pembeli di Indonesia, ada tiga skenario yang patut dipertimbangkan:

  • Penggemar PSVR: Karena absennya mode VR, sebaiknya tunggu kejelasan dukungan headset di masa mendatang sebelum membeli.
  • Pecinta narasi Strangereal: Kombinasi tema warisan callsign dan bonus Ace Combat Zero yang berpotensi terbatas waktu membuat pre-order menjadi opsi menarik.
  • Pemain multiplayer kompetitif: Siapkan waktu untuk menguasai Expert mode, sebab kontrol standar dianggap kurang ideal untuk pertarungan online.

Untuk komunitas flight sim di Indonesia yang terus tumbuh — terutama di kalangan pengguna HOTAS dan flight stick — Ace Combat 8 tetap menjadi rilisan AAA yang paling dinantikan tahun ini, terlepas dari absennya VR. Kepastian rilis Steam juga memudahkan akses bagi pemain PC lokal tanpa harus melalui storefront regional yang rumit.

Sumber