Duolingo masih menjadi aplikasi belajar bahasa paling populer di dunia, termasuk di kalangan pengguna Indonesia yang ingin mengasah bahasa Inggris, Korea, Jepang, atau Mandarin. Namun, justru dari pengguna yang paling setia muncul kritik tajam. Matt Horne dari Android Authority, yang mengaku telah menjaga streak selama 1.000 hari berturut-turut, membeberkan delapan hal yang menurutnya harus segera diperbaiki agar ia tidak berpaling ke aplikasi lain.

Delapan Permintaan dari Pengguna 1.000 Hari

Horne menyusun daftar yang mencerminkan kegelisahan pengguna jangka panjang, bukan sekadar pemula. Berikut rangkumannya:

  1. Insentif progres yang lebih kuat — pengguna lama butuh motivasi baru setelah ribuan hari.
  2. Menutup celah cheat — terutama pada latihan speaking yang masih bisa diakali meskipun antarmukanya sudah diperbarui.
  3. Skenario kehidupan nyata — konteks seperti traveling, layanan pelanggan, hingga kencan.
  4. Dukungan bahasa daerah dan slang — bukan hanya bahasa baku ala buku teks.
  5. Mode liburan (vacation mode) — agar streak dan liga bisa dijeda saat perjalanan panjang.
  6. Kembalikan sistem hati (hearts) — pengganti sistem energi yang dianggap memberatkan.
  7. Umpan balik AI yang interaktif — bukan sekadar penjelasan kamus.
  8. Opsi transliterasi untuk bahasa beraksara non-Latin — misalnya Hangul ditulis dengan alfabet Latin agar mudah diingat wisatawan.

Gamifikasi yang Justru Menggeser Tujuan Belajar

Hal pertama yang disorot Horne bukan adanya gem atau papan peringkat, melainkan kenyataan bahwa elemen permainan ini sering menggantikan proses belajar itu sendiri. Mini-game tertentu memberi poin lebih cepat dibanding pelajaran biasa, sehingga pengguna mengejar peringkat liga tanpa benar-benar menambah pemahaman bahasa.

Masalah lain adalah praktik cheating pada latihan speaking. Antarmuka memang sudah dirombak, tetapi celah untuk melewati latihan tanpa benar-benar berbicara masih ada. Horne bahkan mengakui pernah memanfaatkannya demi menjaga streak. Bagi pengguna yang serius bersaing di liga, situasi ini menciptakan ketidakadilan yang tidak kunjung mendapat respons resmi dari Duolingo.

Materi yang Kurang Membumi: Slang, Skenario, dan Mode Liburan

Dari sisi kegunaan praktis, ada tiga celah besar yang relevan terutama bagi pengguna Indonesia yang belajar bahasa untuk kebutuhan kerja maupun jalan-jalan ke luar negeri:

  • Bahasa daerah dan slang. Apa yang diajarkan Duolingo seringkali tidak nyambung dengan ekspresi sehari-hari di jalanan Tokyo, Seoul, atau London. Pengguna yang bersiap untuk working holiday atau studi banding sering merasakan jurang ini.
  • Skenario tematik. Pengguna ingin memilih konteks seperti wisata, layanan pelanggan restoran, atau interaksi sosial — bukan tema acak yang dipilihkan algoritma. Horne menilai AI seharusnya mampu menyesuaikan arah belajar sesuai kebutuhan.
  • Mode liburan. Streak freeze yang ada saat ini hanya melindungi beberapa hari. Untuk perjalanan dinas atau liburan panjang ke luar negeri yang lazim bagi profesional Indonesia, fitur jeda permanen dengan verifikasi GPS dirasa lebih masuk akal.

Sistem Energi Diprotes, AI Belum Sebanding ChatGPT

Salah satu kritik paling keras menyasar sistem energi versi gratis. Berbeda dengan sistem hati lama yang hanya berkurang saat menjawab salah, sistem baru memotong "energi" tiap pelajaran tanpa peduli benar atau salah. Horne menyebutnya contoh klasik enshittification — istilah untuk layanan yang sengaja diperburuk demi menggenjot pelanggan berbayar.

AspekKondisi SekarangPermintaan Horne
Versi gratisSistem energi membatasi jumlah pelajaran per hariKembali ke sistem hati (hanya berkurang saat salah)
Umpan balik AIPenjelasan tier premium masih sebatas kamusDialog kontekstual seperti ChatGPT/Gemini
Bahasa beraksara asingHangul, kana, hanzi langsung ditampilkan apa adanyaOpsi transliterasi alfabet Latin untuk pemula

Soal AI, Horne menilai Duolingo tertinggal dari ChatGPT atau Gemini yang sudah bisa menjawab pertanyaan kontekstual gratis. Jika tidak segera berbenah, pengguna bisa berpaling ke chatbot AI sebagai alternatif belajar bahasa. Sementara opsi transliterasi dianggap krusial bagi wisatawan yang hanya ingin menguasai frasa dasar Hangul atau kana tanpa harus menghafal sistem aksara dari nol.

Pembaruan 2026: AI Premium Kini Gratis dan Materi Lebih Dalam

Menariknya, Duolingo sebenarnya sudah merespons sebagian kritik. Per Januari 2026, fitur AI utama dari paket Duolingo Max, Explain My Answer, dibuka gratis untuk seluruh pengguna. Pada April 2026, perusahaan memperluas cakupan kursus hingga level B2 (skor 129) di sembilan bahasa: Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman, Italia, Portugis, Jepang, Korea, dan Mandarin — semua sangat relevan dengan minat belajar bahasa di Indonesia.

Beberapa fitur baru yang kini bisa diakses pengguna gratis antara lain:

  • Advanced Stories: konten cerita untuk memperkuat pemahaman bacaan.
  • DuoRadio: materi audio mirip podcast untuk latihan mendengar.
  • Explain My Answer: penjelasan AI atas jawaban pengguna.

Artinya, batas tajam antara pengguna gratis dan berbayar mulai memudar — meskipun keluhan soal sistem energi belum terjawab.

Kinerja Keuangan Q1 2026 dan Target 100 Juta DAU

Meski banyak dikritik pengguna setia, secara bisnis Duolingo tetap melaju kencang. Laporan kuartal pertama 2026 yang dirilis Mei 2026 menunjukkan pendapatan US$292 juta (sekitar Rp 4,74 triliun), naik 27% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih tercatat US$43,5 juta (sekitar Rp 707 miliar), dengan EBITDA disesuaikan US$83,4 juta (sekitar Rp 1,35 triliun).

IndikatorQ1 2025Q1 2026Pertumbuhan
PendapatanUS$230,7 jutaUS$292,0 juta+27%
DAU46,6 juta56,5 juta+21%
Pelanggan berbayar10,3 juta12,5 juta+21%

Perusahaan menargetkan 100 juta pengguna aktif harian pada 2028, dengan strategi membuka fitur AI ke pengguna gratis dan memperdalam konten kursus. Bagi pasar Asia Tenggara — termasuk Indonesia yang menjadi salah satu basis pengguna terbesar regional — strategi ini berarti lebih banyak fitur premium yang bisa dicicipi tanpa biaya, asalkan pengguna bersedia menerima keterbatasan sistem energi.

Lanjut atau Pindah Aplikasi?

Pertanyaan inti yang relevan bagi pengguna Indonesia: apakah Duolingo masih sepadan? Jika Anda merasa terbantu oleh sistem streak dan liga, serta menikmati pengulangan tata bahasa, tidak ada alasan kuat untuk pindah — apalagi setelah fitur AI premium dibuka gratis. Namun, jika Anda merasa terkungkung sistem energi atau memiliki tujuan spesifik seperti persiapan kerja di luar negeri, mengkombinasikan Duolingo dengan ChatGPT, Gemini, atau aplikasi lain seperti Babbel dan Busuu bisa menjadi strategi yang lebih efektif. Pengguna di Indonesia juga sebaiknya menunggu pengumuman lanjutan apakah Duolingo akan merespons keluhan soal sistem energi atau menambahkan mode liburan, mengingat dua hal ini paling sering dikeluhkan komunitas global.

Sumber